ADVERTISEMENT

'Murder on The Orient Express', Misteri Pembunuhan dan Eksistensi Keadilan

Ollivia Pratiwi - detikHot
Senin, 27 Nov 2017 10:06 WIB
Foto: Murder on the Orient Express (imdb)
Jakarta -

'Murder on The Orient Express' adalah novel terbitan tahun 1934 karya penulis novel misteri terkenal, Agatha Christie. Novel tersebut menceritakan Hercule Poirot, salah satu karakter fiksi ciptaan Christie yang tak lekang oleh waktu.

'Murder on The Orient Express' sebenarnya telah diadaptasi menjadi film oleh sutradara Sidney Lumet pada tahun 1974. Kini, sutradara Kenneth Branagh yang juga memerankan Hercule Poirot kembali mengangkat novel tersebut ke layar lebar.

Dengan menggaet aktor dan aktris papan atas seperti Johnny Depp dan Penelope Cruz, 'Murder on The Orient Express' dibuka dengan menampilkan keahlian Poirot dalam memecahkan kasus misteri. Kasus tersebut adalah kasus pencurian yang mengakibatkan kerusuhan antar umat agama di Yerusalem.

'Murder on The Orient Express', Misteri Pembunuhan dan Eksistensi KeadilanFoto: Murder on the Orient Express (imdb)



Poirot sendiri adalah Seorang detektif terkenal asal Belgia yang perfeksionis dan sensitif akan ketidakseimbangan. Oleh karena itu dia mampu menemukan petunjuk sekecil apapun karena dia akan segera merasa terganggu jika ada sesuatu yang janggal. Meskipun itu hanya noda sepatu pada sebuah lukisan.

Setelah menyelesaikan kasus pencurian tersebut, Poirot merasa dia harus liburan sejenak.

Namun, hal tersebut tentu saja gagal. Sebab, Poirot harus segera ke London karena terdapat kasus yang harus segera dipecahkan.

Dengan bantuan teman baiknya, Bouc, Poirot akhirnya dapat ke London dengan kereta api mewah, Orient Express.

Selama awal perjalanan, Poirot bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Seperti Horde MacQueen yang ceroboh, wanita super cerewet Cariline Hubbard dan seorang pengusaha, Edward Ratchett yang sedang gelisah karena menerima surat ancaman.

Tidak banyak hal yang terjadi sampai pada suatu malam, Poirot mengalami banyak gangguan dari penumpang di kompartemennya. Gangguan yang lebih menyebalkan terjadi ketika es dari gunung mencair lalu menghantam sisi kereta. Hal tersebut menyebabkan kereta anjlok dari relnya.

'Murder on The Orient Express', Misteri Pembunuhan dan Eksistensi KeadilanFoto: Murder on the Orient Express (imdb)



Ketika semua penumpang dikumpulkan, terdapat satu penumpang yang tak kunjung datang. Merasa curiga, Poirot dan Bouc pun memeriksa kamar penumpang tersebut untuk menemukan bahwa dia telah tewas karena ditikam berkali-kali.

Demi keadilan dan rasa iba pada beberapa penumpang yang didiskriminasikarena rasisme pada masa itu, Poirot pun memutuskan untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut.

Seluruh penumpang pun harus bertahan ditengah-tengah salju dengan pembunuh yang masih berkeliaran. Poirot pun bersaing dengan waktu dan kasus bertambah rumit ketika detektif berkumis unik itu menemukan pola aneh pada kasus pembunuhan tersebut.

Sayangnya, meskipun menampilkan banyak aktor dan aktris terkenal, 'Murder on The Orient Express' tak mampu menghipsotis penonton. Dengan durasi 1 jam 54 menit, film tersebut kurang memperkenalkan karakter-karakter yang menjadi tersangka. Padahal hal tersebut dapat dibungkus dengan lebih menarik.

'Murder on The Orient Express' juga menampilkan perspektif yang lebih modern. Branagh yang berperan sebagai Hercule Poirot pun mampu tampil dengan ocehan menyebalkan yang justu mengundang tawa.

'Murder on The Orient Express', Misteri Pembunuhan dan Eksistensi KeadilanFoto: Murder on the Orient Express (imdb)



Selain itu, 'Murder on The Orient Express' akan membuat penonton memikirkan kembali arti keadilan serta kemanusiaan. Hal tersebut memberi kesan pahit dan realistis pada film tersebut.

Bahwa ketidakadilan akan selalu ada dibalik keadilan, atau untuk mencapai keadilan itu sendiri manusia harus menghilangkan rasa kemanusiaannya. Hal tersebut terus berputar-berputar sehingga eksistensi keadilan pun dipertanyakan.

(doc/doc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT