'Banda The Dark Forgotten Trail', Jangan Anggap Film Dokumenter Membosankan

Dyah Paramita Saraswati - detikHot
Rabu, 26 Jul 2017 20:34 WIB
Foto: Saras/detikHOT
Jakarta - Tak banyak film dokumenter yang dapat menembus bioskop komersil. Film dokumenter juga kerap kali menjadi film yang dianggap membosankan.

Stigma itu yang seakan ingin dilawan oleh film 'Banda The Dark Forgotten Trail' garapan sutradara Jay Subyakto. Menjadi kiprah pertamanya dalam penyutradaraan, film ini merupakan film panjang dokumenter dengan durasi lebih dari 90 menit.

"Tahun 2015 saya dihubungi oleh Lala Timothy (Sheila Timothy, produser), ketika dia minta untuk bikin film dokumenter, saya langsung bersemangat. Bisa dibilang sangat sedikit film dokumenter yang bisa tembus ke bioskop," ungkap Jay Subyakto ditemui saat jumpa pers di Plaza Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).

Jay mengatakan, ia langsung terpikir untuk membuat suatu film dokumenter yang berbeda dari film-film dokumenter lainnya.

"Saya mau melakukannya, saya langsung bilang. Jangan kasih saya referensi, izinkan saya membuat bentuk baru yang bisa bikin film dokumenter menarik untuk dilihat," ujarnya.
'Banda The Dark Forgotten Trail', Jangan Anggap Film Dokumenter MembosankanFoto: Official Lifelike Pictures

Itu pula yang mendasarinya untuk meminta kepada editor film, yakni Aline Justia, Cundra Setiabudhi, dan M. Syauqi untuk tidak membuang gambar apapun.

"Saya mau lihat semuanya, makanya saya minta jangan dibuang. Karena saya sebenarnya justru suka gambar yang goyang, karena kalau kita melihat, kita lagi jalan gitu misalnya, kan gambar itu sebenarnya bergerak," kata Jay Subyakto lagi.

Isu yang ada dalam film 'Banda the Dark Forgotten Trail' bagi para penggarap film adalah isu yang penting untuk diangkat. Sebab, kepulauan Banda dan jalur rempah adalah tempat yang cukup berpengaruh bagi peradaban dunia.

Sheila Timothy selaku produser pun mengungkapkan alasan mengapa dirinya tertarik menggarap film tentang jalur rempah dan kepulauan Banda.

"Film mengenai jalur rempah biasanya dibuat oleh Barat. Jarang sekali yang ada dari sudut pandang negara kita. Kami ingin supaya Indonesia juga punya suara, bagaimana dari sudut pandang kita," ungkap perempuan yang akrab disapa Lala ini pada kesempatan yang sama.

'Banda the Dark Forgotten Trail' menceritakan sejarah kepulauan Banda mulai dari masa kejayaan Banda sebagai penghasil pala ketika pala lebih berharga dari emas, masa penjajahan Belanda, konflik antar agama di Maluku, hingga kondisi Banda masa kini.

Dalam film ini, Banda disajikan lewat banyak perspektif dari sejumlah narasumber yang diwawancarai selama pembuatan film ini.

Selaian Jay Subyakto sebagai dan Sheila Timothy, film ini juga melibatkan Irfan Ramli sebagai penulis skenario, Ipung Rachmat Syaiful sebagai sinematografer dan adapula Davy Linggar serta Oscar Motuloh pada departemen kamera.

Film 'Banda the Dark Forgetten Trail' akan tayang di bioskop mulai tanggal 3 Agustus 2017. Film ini juga akan premier pada 31 Juli 2017 bertepatan dengan 350 tahun perjanjian Brenda, ketika terjadi kesepakatan antara Inggris - Belanda untuk menukar pulau Run di kepulauan Banda dengan Manhattan.


(srs/nu2)