Film ini mencoba memberikan gambaran dan potret kehidupan dari orang-orang yang kurang beruntung, anak-anak yang hidup di jalanan yang mungkin hidupnya tidak pernah terpikirkan di benak kita, para penonton.
Dua orang kakak-beradik yatim piatu, Anton (Bima Azriel) dan Angel (Izzati Khanza) korban penganiayaan seorang paman kabur dari rumah dan pergi ke Ibu Kota. Di Jakarta, keduanya malah bertemu Om Rudi (Lukman Sardi), seorang kepala dari sindikat yang mengeksploitasi anak jalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah kecelakaan membuat Angel terpaksa terpisah dari Anton. Dari Jakarta, kamera pun berpindah ke Sydney, Australia.
15 tahun setelahnya, Angel dewasa (Bunga Citra Lestari) terbangun dari mimpi tentang Anton, abangnya yang terpisah dan tak tahu dimana rimbanya. Angel telah berubah dari seorang anak jalanan menjadi seorang pengacara yang bekerja dilembaga bantuan hukum.
Ia diadopsi oleh sepasang suami istri Edwards (Jeroen Lezer) dan Soraya (Maudy Koesnaedi) yang memboyongnya ke Singapura. Angel juga telah memiliki seorang kekasih, dokter spesialis jantung bernama Martin (Joe Taslim).
Meski demikian, ia tidak pernah merasa hidupnya lengkap sejak terpisah dari abangnya. Dihantui rasa rindu dan kesedihan karena kehilangan sang Abang, Angel pergi ke Jakarta untuk mencari tahu keberadaan abangnya. Ia pun menemui Ningsih (Aura Kasih) yang ternyata sudah lama kabur dari rumah penampungan Om Rudi.
Pencarian Anton malah membawa Angel pada akhirnya membongkar sindikat perdagangan dan terkuaknya rahasia-rahasia lainnya.
Foto: Adegan di 'Surat Kecil untuk Tuhan' (Official Falcon Pictures) |
Cerita dari film dituturkan oleh sudut pandang orang ketiga dengan alur maju. Kisah di film ini terbagi menjadi dua, masa kecil dan masa sekarang (sesudah dewasa).
Bagaimana pun juga 'mata' dari film ini begitu banyak mengikuti tokoh Angel. Hal ini membuat tokoh Angel menjadi begitu sentral dan dominan dibandingkan tokoh lainnya. Angel lah yang menjadi poros dari cerita di film ini, seakan kepentingan dan agenda Angel adalah agenda semua tokoh di film ini, terutama pada bagian Angel dewasa.
Meski begitu, tokoh Angel berhasil diwujudkan sebagai karakter yang taksa, antara rapuh dan tegas, antara bayang-bayang masa lalu dan bagaimana ia mencoba menghadapinya dengan berani dan tidak cengeng.
Kelebihan dari film ini juga terletak pada gambar. Tidak hanya sudut pengambilan gambar yang mengeksplorasi sudut-sudut kota Jakarta dan Sydney, tapi juga warna yang konsisten memadukan nuansa yang gelap (didukung oleh latar dari beberapa adegan malam dan gerimis) namun dibalut dengan peramainan warna-warna terang khas lampu jalanan, hijau, kuning, dan merah.
Walaupun terkesan terlalu banyak kebetulan dari cerita di film ini, akan tetapi, cerita film ini cukup berhasil mengajak penonton untuk bersyukur dengan cara menyuguhkan potret lain dari orang-orang yang tidak memiliki kemewahan seperti apa yang didapatkan oleh orang kebanyakan, misalnya keluarga atau hidup yang tenang.
Bagusnya, ajakan untuk bersyukur tersebut dituturkan dengan tidak seperti sedang menyampaikan pesan sebab-akibat ala film-film keluarga lainnya. Film ini secara implisit seperti ingin menyampaikan, jika harimu terasa buruk, bersyukurlah, setidaknya kalian tidak harus mengalami seperti apa yang tokoh ini alami tanpa kesan menggurui. (srs/doc)












































Foto: Adegan di 'Surat Kecil untuk Tuhan' (Official Falcon Pictures)