"Menariknya gini, bahwa sosok Kartini ini termasuk sosok yang cukup well-documented dibandingkan tokoh yang lain. Banyak yang menulis tentang beliau, beliau juga banyak menulis," ujar Robert kepada detikHOT.
Tak hanya dibantu data oleh Pemerintah Daerah Jepara, kota kelahiran Kartini, dan pihak keluarga, penggarap film ini pun membaca buku-buku yang berkaitan dengan sang pahlawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Noel/detikHOT |
"Literaturnya udah banyak sekarang. Buku-bukunya udah banyak," ungkap Hanung. Selain membaca biografi Kartini karya Siti Soemandari yang menjadi acuan Sjumandjaja saat menggarap film biopik serupa di masa silam, penggarap film juga membaca karya dari Pramoedya Ananta Toer, dan surat-surat Kartini sendiri.
Meski demikian, Robert Robby menyayangkan ketiadaan buku seri lanjutan dari 'Panggil Aku Kartini Saja' karya Pramoedya. "Yang paling sayang justru (lanjutan) buku Pram itu nggak ada, yang dibakar waktu itu," ujar Robert.
Mengaku tidak mengalamii kesulitan dalam riset, keduaya justu sepakat bahwa tantangannya terletak dalam mengaplikasikan hasil riset yang mereka dapatkan.
"Kami banyak sekali melakukan kompromi pada saat mengaplikasikan risetnya. Jadi yang susah bukan risetnya, justru saat pengaplikasian risetnya. Dari 100 persen data riset yang kami peroleh kami hanya bisa mengaplikasikannya hanya 40 persen," kata Hanung.
Foto: Official Legacy Pictures |
Hanung menceritakan, pihaknya membuat sendiri set rumah Kartini. Ada tiga bagian dari rumah Kartini, yaitu pendopo depan, interior dalam, dan pendopo belakang. Set tersebut berlokasi di Jakarta dan Yogyakarta.
"Kostum, properti, ukir-ukirannya itu insya Allah otentiklah, tempat minumnya, kereta kudanya segala macem, tapi yang selebihnya, misalnya, kota Jepara tahun segitu, rumahnya, bahasa yang dipakai pada saat itu, itu jelas enggak," ujar Hanung lagi.
(srs/mmu)












































Foto: Noel/detikHOT
Foto: Official Legacy Pictures