DetikHot

movie

Kesetaraan Perempuan dalam 'Beauty and the Beast'

Jumat, 17 Mar 2017 12:50 WIB  ·   Dyah Paramita Saraswati - detikHOT
Kesetaraan Perempuan dalam Beauty and the Beast Foto: Dok. Laurie Sparham/Walt Disney Motion Pictures
Jakarta - Bagaimana kita melihat film-film yang menceritakan tentang dongeng putri selama ini? Beberapa mungkin menyadari adanya premis ini dalam film-film tersebut: seorang gadis cantik teraniaya menunggu pangeran berkuda putih untuk 'menyelamatkan hidupnya'. Premis itu seakan menempatkan tokoh perempuan pada posisi ia hanya harus menunggu dan duduk diam menyerahkan nasibnya kepada tokoh laki-laki.

Akan tetapi, premis yang 'timpang' tersebut tak akan lagi ditemui di film terbaru keluaran Disney, 'Beauty and the Beast'. Dalam film ini, Disney seakan ingin 'menebus' apa yang tidak ia lakukan dalam film-film animasinya di masa lalu.

Film versi live-action 'Beauty and the Beast' ini dibuka dengan adegan dikutuknya seorang pangeran tampan menjadi the Beast (Dan Stevens) karena telah mengusir seorang nenek tua yang ternyata seorang penyihir cantik.

Adegan kemudian bergeser ke perkampungan tempat Belle (Emma Watson) tinggal. Di desa kecil itu, Belle yang gemar membaca dan berdebat dianggap sebagai seseorang yang aneh. Dalam adegan yang lain, Belle dilarang keras oleh warga desa untuk mengajari anak perempuan lain membaca.

Kesetaraan Perempuan dalam 'Beauty and the Beast'Foto: Dok. Laurie Sparham/Walt Disney Motion Pictures


Hal ini seakan menjadi cerminan bagaimana perempuan dipandang dan ditempelkan pada sebuah stigma bagaimana seharusnya perempuan bersikap, baik di masa ketika latar film itu berlangsung dan bahkan masih terjadi hingga masa sekarang. Bagaimana Belle yang justru cerdas karena banyak membaca dianggap aneh, alih-alih dianggap lebih maju.


Meski semua warga membicarakan Belle, Ayahnya, Maurice (Kevin Kline) selalu berusaha meyakinkan Belle, dirinya tidaklah aneh, ia hanya berbeda dan selangkah lebih maju dibandingkan warga desa lainnya.

Ketika membesarkan hati Belle, Ayahnya selalu merujuk kepada sosok sang ibu yang tiba-tiba saja pergi dari hidupnya secara misterius. "Katakan lagi satu hal tentang ibu," pinta tokoh Belle. Ayahnya pun menjawab, "Pemberani."

Meski pun sosok Ibu dari Belle tidak ditampilkan dalam film ini, hal ini seakan ingin menggambarkan bahwa perempuan yang hebat dapat menginspirasi perempuan lainnya. Yang unik, di film hal tersebut keluar dari mulut seorang tokoh laki-laki yang seakan ingin memberi pengakuan dan mencoba membongkar konstruksi sosial tentang hirarki perempuan dan laki-laki yang telah terbangun di masyarakat.

Yang tak kalah menarik, adanya tokoh LeFou (Josh Gad), pria yang ditampilkan memiliki sisi feminin di balik tampilan maskulinnya dengan seksualitas yang cair dan dapat diartikan multi-tafsir. (Terdapat adegan tokoh LeFou berdansa dengan seorang pria. Bukankah adegan ini bisa saja ditafsirkan sebagai bentuk ekspresi pertemanan biasa?).

Kesetaraan Perempuan dalam 'Beauty and the Beast'Foto: Dok. Laurie Sparham/Walt Disney Motion Pictures


Sepanjang film, penonton dapat menyaksikan bagaimana posisi Belle ditempatkan setara dengan tokoh the Beast. Belle yang ditampilkan pemberani dan pemberontak, mampu menolong dan ditolong oleh the Beast dengan porsi yang nyaris sama. Belum lagi, dalam film ini, tokoh Belle diberi suara untuk menentukan nasibnya dengan menolak lamaran seorang tokoh pria narsistik bernama Gaston (Luke Evans). Justru, the Beast yang ditampilkan merana dan menunggu kembalinya Belle dalam film ini.

Kesetaraan Perempuan dalam 'Beauty and the Beast'Foto: Dok. Laurie Sparham/Walt Disney Motion Pictures


Menariknya, semua isu tersebut diramu dengan ringan dalam sebuah film musikal drama keluarga yang dapat ditonton oleh siapaun.

Akan tetapi, film ini pun tak lepas dari kekurangan.Prancis sebagai latar belum sepenuhnya dapat ditampilkan oleh beberapa tokoh yang tidak menggunakan logat dialek Prancis dalam film tersebut. Bahkan, dalam beberapa percakapan, dialek Inggris khas Emma Watson masih terdengar.

Tokoh kulit hitam dalam film ini pun tidak memiliki porsi yang cukup besar. Walaupun beberapa tokoh memiliki peran yang cukup signifikan, tetap saja tidak memegang peran sebagai salah satu tokoh utama. Mungkin memang sulit untuk mengangkat begitu banyak isu dalam film berdurasi 2 jam 9 menit.

Terlepas dari kekurangannya, film ini menjadi tontonan yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Di tambah lagu-lagu yang indah dan tarian yang begitu megah dan memanjakan mata.
(srs/mmu)

Photo Gallery
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed