'Badrinath Ki Dulhania': Kritik Sosial dalam Balutan Mimpi Bollywood

Shandy Gasella - detikHot
Selasa, 14 Mar 2017 14:55 WIB
Foto: Dharma Productions
Jakarta - Syahdan ada cowok ganteng tinggi tegap bernama Badri (Varun Dhawar, 'Badlapur', 'Humpty Sharma Ki Dulhania') bertemu secara tak sengaja dengan cewek cantik bernama Vaidehi (Alia Bhatt, 'Dear Zindagi', 'Highway') dari kampung sebelah di sebuah hajatan perkawinan seseorang. Badri jatuh hati seketika itu, namun tidak dengan Vaidehi, sebab tak hanya cantik, rupanya ia juga merupakan tipe cewek yang ambisius, dan pemberontak. Singkat kata ia memiliki prinsip hidup yang lain daripada kebanyakan cewek di kampungnya. Nah, bila premisnya seperti ini, tentu kita tahu bakal seperti apa filmnya mewujud.

Berprasangka bahwa 'Badrinath Ki Dulhania' bakal berakhir menjadi tontonan komedi-romantis adalah salah besar. Dan, saya lumayan telat menyadari hal itu hingga kemudian di pertengahan film mendapati hal-hal janggal yang membuat pengalaman menonton film ini menjadi berat tak terperi.

Penulis naskah sekaligus sutradara Shashank Khaitan ('Humpty Sharma Ki Dulhania') memulai film ini dengan humor gelap. Secara sinis ia mengkritik ihwal posisi laki-laki dan perempuan dalam tatanan kehidupan di India. Ia menyelipkan penggalan-penggalan adegan yang menyatakan bahwa setiap anak laki-laki yang lahir di India adalah aktiva (aset) bagi keluarga, sedangkan anak perempuan adalah pasiva. Intinya, bila anak laki-laki diberikan pendidikan tinggi maka biaya yang dikeluarkan itu tak akan sia-sia sebab kelak jika ia menikah, pihak perempuan akan "membelinya" dengan harga yang tinggi. Ada nilai ekonomis pada setiap individu laki-laki India.

Badri memiliki seorang kakak laki-laki yang kisah cintanya mengenaskan. Ia tak bisa menikahi gadis yang dicintainya lantaran sang gadis dari keluarga biasa-biasanya saja. Lantas sang ayah mencarikannya jodoh, yang sebenarnya tak buruk sama sekali; cewek yang dinikahinya kemudian adalah seorang sarjana akuntansi, terbaik di kelasnya, dan cantik jelita. Walaupun setelah dinikahi, sesuai adat, si perempuan pintar ini memang hanya diperbolehkan untuk duduk-duduk saja di rumah menemani sang suami, sama sekali tak boleh bekerja. Melihat kondisi kakaknya tersebut, Badri memiliki sumpah untuk menikahi gadis hanya yang dia cintai saja. Dan gadis itu adalah Vaidehi.

Berdurasi 2 jam 19 menit, satu jam pertama film ini bercerita tentang serangkaian usaha yang dilakukan Badri untuk mendapatkan Vaidehi. Disampaikan lewat penceritaan yang berlarat-larat, dipenuhi banyolan-banyolan murahan, nyanyian dan musik yang buruk. Ditambah, editing suara yang seolah dibuat untuk film action —lebih sering menggemparkan sekaligus menyakiti telinga. Sudah begitu, plot tak bergerak ke mana-mana selama hampir separuh durasi film.

Ya, film ini baru memiliki kisah sebenar-benarnya di separuh akhir, ketika dikisahkan Badri dan Vaidehi hendak menikah di pelaminan. Badri yang sedang menunggu calon pengantinnya itu harus menanggung malu manakala Vaidehi rupanya sudah meninggalkan kampung, kabur meninggalkannya. Sebagai keluarga terpandang, ayahanda Badri marah bukan kepalang dan memerintahkannya mencari Vaidehi untuk dibunuh sebagai ganjaran yang pas.

Namun, memiliki cerita semenarik itu di paruh kedua tak lantas membuat film ini jadi lebih enak untuk dinikmati. Pembuat film lagi-lagi memberikan banyolan-banyolan tak perlu seperti pada adegan ketika Badri dan Vaidehi yang sedang berjalan di sebuah gang di Singapura, lantas mereka disergap sekumpulan begundal. Kita sebagai penonton mengira bahwa mereka akan dirampok atau mungkin Vaidehi bakal diperkosa dan Badri sendiri bakal dihajar habis-habisan. Namun, rupanya keadaan terbalik, para begundal itu mengincar Badri dan hendak memperkosanya —di mana letak kelucuan dari tindakan perkosaan sesama pria?

'Badrinath Ki Dulhania' tak pernah terasa layaknya sebuah film komedi-romantis. Padahal film ini sedari awal terlihat sekali diarahkan ke sana, dan jangan lupakan faktor kedua bintang utama film ini yang sedang melejit kariernya. Pun, chemistry mereka di film ini terlihat baik dan itu syarat minimal yang harus terpenuhi dalam film komedi-romantis. Namun, apa mau dikata, skrip yang lemah tak mampu mewujudkan film ini sebagai komedi-romatis yang menghibur.

Film ini sebenarnya memiliki misi untuk mengkritik praktik mahar dalam sistem perkawinan di India, dan mencoba menunjukkan tawaran lain kepada kaum perempuan bahwa alih-alih menikah lantas kehilangan segala haknya, mereka dapat memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Ide ini pada akhirnya dielaborasi ke dalam cerita dengan membuat sang tokoh utama bekerja ke luar negeri dan menjadi pramugari. Namun, berapa persen dari mayoritas penduduk India yang memiliki kesempatan menjadi pramugari?

Mayoritas penduduk India tak berpenampilan layaknya Alia Bhatt. Menjadi buruh pabrik, atau bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri rasanya lebih masuk akal ketimbang jualan mimpi-mimpi. Ini memang film Bollywood. Tapi, satu dekade terakhir ini dari sana telah lahir banyak film beraliran realisme, dan film ini jadi tampak mundur, menodai semangat pembaharuan sinema Bollywood kekinian.

Shandy Gasella pengamat perfilman






(mmu/mmu)