Remaja Yogya Serbu Pemutaran 'Jogja Needs a Hero'
Rabu, 30 Mar 2005 18:26 WIB
Jakarta - Setelah Jakarta, dokumenter "Jogja Needs a Hero" diputar di kota asalnya, Yogyakarta. Rabu (30/3/2005) pecinta film Yogya ramai memadati bioskop Mataram tempat pemutaran film tersebut. Gedung bioskop Mataram Yogyakarta biasanya terlihat senggang, hari ini Rabu (30/3/2005) tampak dipenuhi pengunjung yang penasaran dengan film karya Fajar Nugroho, "Jogja Needs a Hero". Film yang diproduksi awal 2005 ini memang sudah terdengar gaungnya sejak awal bulan lalu. Promo yang dilakukan untuk mempopuler film dokumenter Jogja Need A Hero cukup mengundang banyak penonton. Terbukti dengan terjualnya 200 lembar tiket. Angka ini memang tak seberapa jika dibandinkan dengan film-film Hollywood, tapi untuk ukuran film indie apalagi datang dari genre dokumenter angka ini termasuk lumayan.Selain dari pembeli tiket, pemutaran "Jogja Needs a Hero" juga dipenuhi oleh penonton yang beruntung kebagian tiket gratis. Total jendral sekitar 350 orang memadati bioskop yang terletak di jalan Sutomo itu. Jogja Need A Hero diputar dalam 3 sesi, premiere pertama diputar jam 12.30 WIB, lalu jam 13.30 WIB dan jam 14.30 WIB.Sedikit tentang filmnya, "Jogja Needs a Hero" bercerita tentang bagaimana Jogja mengalami satu masa yang terombang ambing ketika datangnya ancaman badai Harvey. Dalam penggambaran tersebut tak lupa juga Nugross Film menceritakan berbagai tindakan Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk menenangkan warganya. Pada pemutaran tadi, seorang penonton mengatakan "film ini cukup berani untuk berbicara bagaimana Sri Sultan sangat berpengaruh di Jogja. Sangat menarik."Menanggapi hal tersebut, sang sutradara Fajar Nugroho mengatakan "Justru saya ingin orang bisa memiliki perpektif yang banyak tentang film ini. Karena Jogja Need A Hero bercerita dengan banyak bahasa yang bisa ditafsirkan."Film yang berdurasi 25 menit ini terasa kurang panjang karena alur cerita mengalir dengan cepat. Untuk yang anti film dokumenter film ini bisa menjadi penyegaran baru. Fajar yang mengaku terinspirasi sutradara dokumenter Amerika, Michael Moore, memang berniat untuk menunjukan sisi lain sebuah film dokumenter. Tak hanya diisi oleh dokumentasi nyata, beberapa tokoh kartun juga ikut ambil bagian untuk menyegarkan film ini. (yla/)











































