Menduniakan Okinawa Lewat Proyek Sekolah Seni dan Budaya

Laporan dari Jepang

Menduniakan Okinawa Lewat Proyek Sekolah Seni dan Budaya

M. Iqbal Fazarullah Harahap - detikHot
Sabtu, 23 Apr 2016 13:49 WIB
Menduniakan Okinawa Lewat Proyek Sekolah Seni dan Budaya
Foto: Iqbal/detikHOT
Okinawa -

Di pagi hari ke-3 dari rangkaian Okinawa International Film Festival 2016 berlangsung lebih serius dibanding sebelumnya. Ada simposium yang harus dihadiri.

detikHOT bersama rombongan media dari negara lain seperti Malaysia, Thailand, Tiongkok, Amerika Serikat dan tenju saja media lokal, menyongsong matahari teduh kota Naha, Okinawa, Sabtu (23/4/2016) dengan simposium bertajuk 'The Future of Okinawa and The Role of Entertainment'. Lokasinya, di ballroom Ana Crown Plaza Harborview Hotel.

Dari topik simposium sudah terlihat jelas, bahwa Okinawa sedang menyusun strategi untuk mengusung elemen seni dan budayanya di garda terdepan. Dukungan penuh pemerintahan Jepang lewat yayasan penyandang dana Cool Japan pun telah diperoleh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari delapan kali Okinawa International Film Festival bisa dilihat bahwa Okinawa punya kekuatan untuk seni dan budaya. Festival itu menghubungkan antara kesenian, masyarakat juga alam. Dan semuanya adalah aset pariwisata," buka Wakil Gubernur Okinawa, Mitsuo Ageda dalam babak panelis simposium.



"Ada traditional dancing seperti Ryukyu dan Eisa, ada karate dan bela diri lain yang cukup berbeda dari kebanyakan budaya di Jepang. Ada film, musik bahkan games di sini yang sangat bagus. Okinawa juga memiliki hiburan malam. Jadi, kami akan mengembangkan semuanya dan merilisnya menjadi satu di bawah payung 'Okinawa entertainment'," sambung sang wakil gubernur lagi.

Terlihat, sekitar 100 media yang hadir duduk dan mendengarkan betul-betul obrolan di atas panggung, sesekali mereka mencatat kutipan-kutipan menarik. Dengan receiver penerjemah yang disediakan, cukup membantu memahami apa yang dikatakan dalam bahasa Jepang ke bahasa Inggris dan Tiongkok.

Untuk mewujudkan rencana besar itu, Okinawa punya satu formula yang dianggap paling tokcer. Mereka segara membangun sebuah sekolah khusus untuk hiburan.

"Langkah pertama dan utama mengembangkan seni dan budaya adalah dengan mengembangkan sumber daya manusianya. Kami akan membangun proyek bernama 'Okinawa Entertainment Village Project', semacam sekolah dan universitas untuk seni," jelas Mitsou Ageda.

"Kami mencoba mengembangkan manusianya, baru industrinya. Karena industri apapun, membutuhkan orang-orang hebat untuk menggerakannya," tambah Co-COO Cool Japan Foundation, Masaki Koito yang turut menjadi panelis.

Sepertinya pemahaman atas pengembangan industri kreatif tersebut perlu dijalankan juga di Indonesia. Selama ini, pemerintah Indonesia seperti tidak punya panduan dalam membangun industri kreatif nasional.

Hanya dengan menggelar konser atau pameran internasional, pemerintah Indonesia mengklaim telah membuat terobosan. Padahal, setelah invasi Korean Pop dalam 5-10 tahun terakhir, generasi muda Indonesia kini harus bersiap menghadapi gelombang pop dari Jepang.

Jangan sampai Indonesia hanya menjadi 'bulan-bulanan' alias pasar baru yang begitu konsumtif. Yang lebih mengerikan lagi, kalau Indonesia tak ubahnya sebuah grup pemandu sorak.

Kembali ke panelis, 'Okinawa Entertainment Village Project' sebetulnya bukan serta-merta milik pemerintah daerah Okinawa. Tapi, ikut campur di dalamnya perusahaan hiburan tertua di Jepang, Yoshimoto Kogyo yang menjadi penggagas.

Rencanaya, proyek tersebut direalisasikan pada 2018 mendatang di Okinawa. Setelahnya, 'Okinawa Entertainment Village Project' juga menyasar ke luar negeri, salah satu target utamanya tentu saja Indonesia.

(mif/fk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads