'Batman v Superman': Catatan untuk Polemik Antar-Penggemar

'Batman v Superman': Catatan untuk Polemik Antar-Penggemar

Shandy Gasella - detikHot
Rabu, 30 Mar 2016 16:10 WIB
Jakarta - Menyebut ‘Batman v Superman: Dawn of Justice’ sebagai sekuel dari ‘Man of Steel’ (2013) rasanya tidak tepat, sebab film ini tak secara langsung melanjutkan kisah Sang Superman. Bahwa ‘Batman v Superman’ bercerita ikhwal konsekuensi dari apa yang terjadi dalam ‘Man of Steel’ memang betul adanya. Namun secara prinsip film ini bukanlah ‘Man of Steel 2’, dan itulah mengapa kemudian ada istilah DC Extended Universe (DCEU) yang ekuivalen dengan Marvel Cinematic Universe (MCU) dimana karakter-karakter dari kedua kubu ini ada dalam satu ‘alam’ yang sama.

Sesungguhnya lewat ‘Man of Steel’ perihal “Extended Universe” ini telah dibangun dengan baik nan jeli oleh punggawa film Zack Snyder. Di film reboot Superman tersebut selain Jenderal Zod dan para makhluk Krypton, kita pun dapat merasakan keberadaan karakter-karakter lain seperti Lex Luthor, Batman, STAR LABS (tempat nongkrongnya Cyborg dan Flash), dan bahkan Hal Jordan (Green Lantern) memijak bumi dan menjunjung langit yang sama.

‘Batman v Superman’ dibuka dengan opening title yang bercerita --lewat gaya visual yang keren sekaligus homage terhadap ‘The Dark Knight Returns’ karya Frank Miller-- ikhwal masa kecil Bruce Wayne/Batman (Ben Affleck) ketika kehilangan kedua orangtuanya, Thomas dan Martha Wayne. Dalam setiap inkarnasi Batman, kisah tragis kematian kedua orangtuanya ini tak pernah luput diceritakan. Lantas kita dibawa kembali ke pengujung ‘Man of Steel’ tatkala Superman (Henry Cavil) dan Jenderal Zod (Michael Shannon) bertarung habis-habisan di atas langit Metroplis meluluh-lantakkan seisi kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kali ini kita melihatnya lewat sudut pandang Bruce Wayne yang melenggangkan kakinya di atas aspal Metropolis, dan ia hanya mampu mendongak ke langit menyaksikan dua makhluk asing yang mahakuat saling bertarung tanpa bisa berbuat apa-apa. Inilah motif utama yang membuat Bruce Wayne/Batman begitu ketakutan dan paranoid terhadap Superman yang ia anggap bisa saja sebagai ancaman bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi.

“Orang-orang takut akan apa yang mereka tidak pahami,” begitu nasihat Jonathan Kent (Kevin Costner) kepada Clark/Superman dalam ‘Man of Steel’. Dalam ‘Batman v Superman’, Batman membuktikan perkataan itu.

Ketika ‘Batman v Superman’ pertama kali diumumkan sebagai film kedua dalam daftar DCEU yang ambisius, banyak orang begitu skeptis terhadapnya. Dua founding fathers Justice League ini dalam komik sudah seringkali bertikai, dalam berbagai kisah, dan dalam berbagai hasil soal siapa yang menang-kalah. Namun, dalam layar lebar keduanya tak pernah dipertemukan sebelumnya. Dalam kisah penyatuan karakter-karakter superhero DC ini, ‘Batman v Superman’ tidak mengadaptasi secara langsung satu pun kisah komik, melainkan film ini betul-betul memberikan penghormatan kepada beberapa judul komik seperti ‘The Dark Knight Returns’, game/komik ‘Injustice: Gods Among Us’, ‘Justice League: War’, ‘The Death of Superman’ (oops, spoiler!), bahkan terhadap komik keluaran terbaru ‘New 52 Batman: Endgame’.

Bahkan di era kejayaan Marvel Cinematic Universe seperti sekarang, imaji beberapa karakter superhero telah melekat abadi dan ikonis dalam benak publik seperti Superman dan Batman. Kedua karakter ini (terutama Superman), dalam sudut pandang cultural studies, dianggap sebagai bapak para superhero; semua superhero yang kita kenal sekarang berhutang budi padanya (atau lebih tepatnya kepada duo penciptanya, Jerry Siegel dan Joe Shuster). Tentu saja, bagian dari daya tarik mereka yang abadi dan ikonis tersebut adalah bahwa Superman dan Batman mewujud sebagai arketipe mitologi yang telah ada selama ribuan tahun dalam sejarah peradaban manusia.

Mereka seringkali digambarkan berseberangan satu sama lain. Superman adalah pahlawan yang memiliki sifat keilahian, terlahir atau dikirim dari surga, dengan kemampuan dan kekuatan yang jauh melampaui kita --ini kemudian menjadi alasan sebagian besar orang untuk tidak dapat “merasa dekat” dengannya dan lebih memilih (atau mendukung) Batman. Di sisi lain, Batman adalah jagoan atau pahlawan yang muncul dari perikemanusiaan melalui keahlian dan usaha kerasnya sendiri, atau karena uang dan posisinya sebagai milyuner —seolah mewakili angan-angan banyak orang.

Dalam dua setengah jam Zack Snyder didukung penulis naskah jempolan Chris Terrio dan David S. Goyer mampu menghadirkan kisah pertarungan gladiator terbesar abad ini dengan begitu mengasyikan, dan begitu crowd-pleasing (menyenangkan penggemar). Satu menit awal adegan pembuka filmnya saja sudah membuat saya kegirangan. Bagaimana Zack Snyder mereka ulang satu adegan dari panel demi panel komik ke dalam bahasa gambar dan menjadikannya begitu sinematis adalah impian penggemar yang menjadi nyata, seperti apa yang dilakukannya lewat film ‘300’ dan ‘Watchmen’.

Kali ini Zack tak bisa seleluasa dulu dengan plek-ketiplek memindahkan panel-panel komik ke dalam storyboard sebab ‘Batman v Superman’ dibangun dari begitu banyak sumber. Ia kali ini hanya bisa memberikan homage, dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Tak terhitung berapa kali saya tertawa girang penuh bahagia ketika menemukan sejumlah homage tersebut berserakan sepanjang durasi film.
‘Batman v Superman’ dipenuhi begitu banyak karakter. Ada Wonder Woman (Gal Gadot), yang ikut tampil perdana sejak kemuculan pertamanya 75 tahun lalu. Ada Lex Luthor (Jesse Eisenberg), Alfred (Jeremy Irons), Lois Lane (Amy Adams), Doomsday (CGI, tentu saja), dan cameo dari The Flash (Ezra Mille), Cyborg (Ray Fisher), juga Aquaman (Jason Momoa).

Di tangan orang yang salah, menghadirkan semua karakter tersebut dalam satu plot film bisa menjadi bencana. Dan, jangan salah, keputusan untuk menghadirkan karakter-karakter lain seperti The Flash, Cyborg, Aquaman dalam film ini bukanlah wewenang Zack Snyder sebagai sutradara. Anda yang paham bagaimana Studio Hollywood bekerja tentu mafhum bahwa hal tersebut adalah wewenang para eksekutif petinggi studio. Dalam kasus ‘Batman v Superman’, apa yang dilakukan Zack (atas tekanan studio) adalah demi membangun fondasi film ‘Justice League’, juga film-film spin-off-nya yang akan datang, dan Zack mengeksekusinya dengan cara yang selevel dengan JJ Abrams ketika menggarap ‘Star Trek’ (2009), jika Anda paham yang saya maksud.

Di dunia ini hanya ada dua jenis penonton ‘Batman v Superman’; yang paham dan yang tidak paham, sesederhana itu. Bagi yang paham, tak ada keraguan akan betapa jeniusnya pembuat film ini meramu cerita dari berbagai sumber menjadi satu jalinan kisah utuh yang tak hanya koheren, tapi juga melampaui apa yang diharapkan oleh para penggemar. Lewat film ini kita tahu dan ikut merasakan sesungguhnya bagaimana dunia melihat Superman, yakni sebagai sosok yang tidak dipahami, liyan, bak juru selamat yang pada mulanya dikutuk, dilempari batu, dan perlu disingkirkan. Juga, bagaimana sosok Batman, lewat kapasitas kemunculannya yang minim (dibandingkan dengan Batman dalam tiga seri film ‘The Dark Knight’) mampu memberi impresi bahwa dialah sosok Batman yang selama ini saya idam-idamkan muncul dalam versi layar lebar, persona yang terganggu secara psikologis, paranoid, namun juga tangguh berkelahi.

Dalam film ini, Batman adalah superhero yang sudah lebih dulu ada jauh sebelum Superman menampakkan dirinya kepada dunia. Masih ingat adegan Clark kecil yang sedang bermain dekat jemuran, dan ia mengenakan kain merah di punggungnya sambil berpose dalam ‘Man of Steel’? Menurut Anda ia sedang meniru siapa? Selain Superman, siapa superhero DCEU lain yang juga mengenakan kain di punggung? Yang pasti bukan Ultraman.

(Peringatan: dari sini ulasan mengandung spoiler!)

Mengambil unsur penting dalam mitologi Superman khususnya episode ‘The Death of Superman’ —di tengah jualan utama film ini yakni perseteruan Batman melawan Superman— adalah hal berani dan sekaligus brilian. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa dalam masa hidup saya di abad ke-21 ini saya diberi kesempatan untuk menyaksikan Superman bertarung habis-habisan melawan Doomsday dalam versi live-action. Doomsday! Dan, pembuat film ini menggambarkan pertarungan hidup-mati tersebut dengan begitu penuh penghormatan sekaligus menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan.

Dalam satu adegan yang oleh banyak orang seringkali disebut sebagai “adegan mimpi” digambarkan Batman berada di sebuah gurun dalam sebuah misi, lantas ditangkap oleh pasukan dengan seragam beremblem “S”, dan kemudian saat Superman muncul; Superman versi jahat yang membunuh orang-orang dengan mata lasernya secari keji. M,enyaksikan adegan itu, saya ingin berjingkrak dan guling-guling kegirangan, sebab pada poin ini pembuat film betul-betul memposisikan diri, bukan sekadar sebagai pembuat film, namun sebagai penggemar juga. Saya melihat adegan itu bukan sebagai adegan yang diimpikan Batman. Itu bukan adegan mimpi, melainkan proyeksi kenyataan yang sesungguhnya yang terjadi di masa depan, di dunia paralel yang ditunjukkan kepada Bruce Wayne oleh The Flash yang datang dari dimensi dan waktu yang lain. Membingungkan?

Begini, dalam dunia DC Comics, ada yang namanya dunia paralel, multiverse, bahwa Superman yang baik di satu dunia, bisa jadi di dunia (paralel) lain ia jahat. Dalam ‘Justice League: The Flashpoint Paradox’ ada cerita ketika The Flash yang kedapatan berlari terlalu kencang menggunakan speed force-nya, ia terhampar ke dunia paralel, dan di dunia itu, tak ada The Flash, alter ego-nya, Barry Allen, adalah orang biasa-biasa saja, dan ibunya mengenalnya sebagai seorang gay. Lalu di dunia itu juga, Batman bukanlah Bruce Wayne, melainkan Thomas Wayne, ayahnya sendiri. Jadi, alih-alih Martha dan Thomas Wayne yang terbunuh, justru Bruce dan Martha lah yang terbunuh dan meninggalkan Thomas Wayne dalam trauma mendalam hingga membuatnya menjadi sosok Batman. Namun, Batman tetaplah Batman, siapa pun orang di balik topengnya, ia adalah sosok superhero yang “rusak secara psikologis”.

Komi-komik DC yang saya sebut hampir semuanya telah diadaptasi ke dalam versi film (animasi). Tak perlu jadi seorang geek atau kutu-komik demi memahami dunia superhero DC atau pun Marvel sekali pun, sebab ketidaktahuan akan referensi-referensi yang membangun kisah ‘Batman v Superman’ tidak bisa dianggap sebagai ketidaktahuan Anda terhadap film. Bisa jadi Anda hanya kurang nonton.

Ada mitologi perjalanan yang selalu tak terpisahkan dari kisah Superman, yakni kisah kelahirannya, kematiannya, dan kebangkitannya (parable terhadap kisah Yesus). Menyaksikan bagaimana ‘Batman v Superman’ berakhir membuat saya tak sabar untuk melihat kembali Superman, dan para pengikutnya, eh, maksud saya teman-temannya, beraksi lagi. Tak ada yang tahu setelah kebangkitannya, ia akan menjadi seperti apa.

Shandy Gasella pengamat film

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads