'The Mermaid': Kembalinya Komedi Konyol Stephen Chow

'The Mermaid': Kembalinya Komedi Konyol Stephen Chow

Shandy Gasella - detikHot
Senin, 21 Mar 2016 11:24 WIB
The Mermaid: Kembalinya Komedi Konyol Stephen Chow
Jakarta - Dengan komposisi menarik antara komedi konyol dan roman memikat, β€˜The Mermaid’ menyajikan cerita yang tulus tentang pesan moral pentingnya kesadaran menjaga lingkungan dan alam sekitar. Bukan isu baru, bahkan mungkin terkesan sudah β€œbasi”, namun film ini telah mencapai kesuksesan yang teramat besar.

Sejauh ini setidaknya telah meraup pendapatan tak kurang dari Rp 7 trilun, dan itu hasil pendapatan domestik di daratan Cina saja. Di luar Cina, film ini juga tak kalah populer, di Amerika misalnya dalam sepekan pertama masa tayangnya film ini meraup Rp 13 miliar dari 35 layar saja. Di Malaysia sejauh ini film ini meraup lebih dari Rp 40 miliar. Praktis β€˜The Mermaid’ menjadi film Cina terlaris sepanjang sejarah.

Namun, di Indonesia film ini terlihat sepi penonton. Tak pelak, film ini jadiΒ satu pengalaman menonton yang cukup aneh bagi saya. Film ini disutradarai oleh Stephen Chow ('Shaolin Soccer', 'Kungfu Hustle') dengan segala kekhasannya, tetapi juga tidak terasa seperti karyanya. Jujur saja, film ini tak begitu bagus, tapi memang sangat menghibur. Kita akan tetap dibuat tertawa terpingkal-pingkal, tapi kali ini lelucon yang dihadirkan Chow tidak meninggalkan kesan jangka panjang. Duh, rasanya aneh!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gaya komedi Chow memang unik dan lain daripada yang lain. Orang-orang menyebut gaya komedinya sebagai β€œmou lei tau” yang sudah dianggap sebagai satu sub-genre film komedi Hong Kong (dan sekarang juga Cina). Istilah "mou lei tau" pada dasarnya berarti "tidak masuk akal", "konyol", dan begitulah gaya komedi Chow dikenal oleh banyak orang.

Melihat film-film Chow dari waktu ke waktu memberi saya pemahaman lain bahwa gaya komedi yang ia tawarkan sesunguhnya tak sekadar konyol. Namun, saya melihatnya sebagai komedi yang penuh kontradiksi, ironi dan sinisme yang disampaikan sebagai omong kosong lewat karakter-karakter bermimik muka datar (wajah tak berdosa).

Sebenarnya, apa yang membuat karya Chow begitu berkesan adalah gagasannya yang tajam dan sinis.Β Bagi saya, 'Kungfu Hustle'Β merupakan puncak karier Chow sebagai seorang pembuat film. Lewat masterpiece-nyaΒ ituΒ ia memberiΒ penghormatan kepada tradisi film-film kungfu, dan lewat gaya komedinya, 'Kungfu Hustle' memiliki subteks yang penuh sinisme terhadap konsep hero’s journey. Dan,Β melalui 'Kungfu Hustle'Β ia mulai memasukkan sedikit patos (rasa kesedihan) ke dalam film-filmnya. 'Kungfu Hustle'Β memberi ruang kepada Chow untuk bermain-main dengan dua elemen; komedi dan emosi.

Film berikutnya yang ia sutradarai setelah 'Kungfu Hustle', 'CJ7', juga bermain-main dengan emosi lagi. Chow mencoba menyentuh hati penonton dengan cerita hubungan bapak-anak yang tragis mengharu biru. 'CJ7'Β lantas lebih seperti β€˜film genre’ dan menjadi film yang paling tidak "mou lei tau" dari Chow.Β Nah, lewat 'The Mermaid' inilah segala kekonyolan dan gaya komedi Chow kembali. Walaupun, kadar kekonyolannya ternyata masih jauh di bawah 'Kungfu Hustle'.

Adegan di kantor polisi ketika Xuan (Chao Deng, 'The Four', 'Devil and Angel') melapor kepada petugas tentang dirinya yang diculik oleh para manusia duyung adalah kelucuan khas "mou lei tau" yang tiada duanya. Bila bukan karena kejelian Chow sebagai sutradara bermain β€œtiming” dengan presisi, adegan itu bisa jadi hambar dan tak bunyi. Ada juga adegan ketika para duyung membicarakan kecantikan Shan (debut Yun-lin yang lucu, imut, menggemaskan sepanjang film), alih-alih memuji, mereka malah membahas hal-hal yang justru merupakan "kekurangannya" seperti misalnya membahas dadanya yang rata.

Satu-dua adegan yang berkesan di film ini hanya muncul sekali-sekali dalam rentang durasi 93 menit. Sisanya adalah sejumlah usaha keras dari pembuat film yang terbata-bata menyampaikan isu kerusakan alam lewat tuturan komedi non stop hits. Oleh sebab Chow yang kali ini kehilangan sinismenya, gagasan besar film ini tentang bahaya laten pengrusakanΒ alam lantas jadi terasa begitu cetek, dan sia-sia.

Shandy Gasella pengamat perfilman Asia



(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads