Selama ini bioskop dianggap tak berpihak pada produksi film lokal. Layar dinilai hanya ditujukan bagi film-film impor. Inilah tanggapan pihak XXI.
"Selama ini kami melihat demand dari publik. Bukan hanya semata-mata kami mencari untung. Tujuan 60 persen kuota untuk memperbesar peningkatan pangsa pasar film lokal, tapi itu nyatanya nggak terbukti," ujar Catherine Keng, Comunnicate Corporation XXI saat ditemui belum lama ini di Club XXI, Sarinah, Jakarta Pusat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2011 sempat menjadi momen menurunnya minat penonton datang ke bioskop karena pelarangan ditayangkannya film impor. Oleh karena itu, bioskop meminta para pekerja di balik layar lebih berpandangan terbuka.
Produksi film yang berkualitas dinilai menjadi cara yang paling tepat untuk menarik minat publik menonton film lokal.
"Ini bukan cuma permasalahan di hilir. Tapi bagaimana di hulu juga bisa membuat film bagus dan disukai publik. Kalau cuma mempermasalahkan kami sebagai pihak bioskop rasanya nggak adil. Karena ribuan karyawan kami juga bergantung pada eksistensi bioskop," ujar Catherine. (doc/mmu)










































