'The Boy': Sang Pengasuh dan Boneka Porselen

'The Boy': Sang Pengasuh dan Boneka Porselen

Candra Aditya - detikHot
Jumat, 29 Jan 2016 10:50 WIB
The Boy: Sang Pengasuh dan Boneka Porselen
Jakarta - Greta (Lauren Cohan) pergi jauh-jauh dari Amerika ke sebuah rumah terpencil di Inggris bukan hanya untuk bekerja. Memang, menjadi baby sitter untuk Keluarga Heelshire (Jim Norton dan Diana Hardcastle) memberikan upah yang lebih dari lumayan. Tapi ada kepentingan yang lebih mendesak daripada sekedar materi. Greta ingin meninggalkan mantan kekasihnya yang jahat untuk memulai lembaran hidup baru.

Bahkan ketika Greta mengetahui bahwa anak yang harus dijaganya merupakan sebuah boneka bernama Brahms, Greta tak mundur. Seperti orang normal pada umumnya, Greta menertawakan situasi ini. Seperti semacam lelucon kocak. Namun nyatanya, Bapak dan Ibu Heelshire tidak bercanda. Brahms adalah anak mereka meskipun bentuknya boneka porselen.

Maka Greta pun mencoba untuk menjadi team player. Begitu Bapak dan Ibu Heelshire meninggalkannya sendiri di rumah tua tersebut, Greta tentu saja tidak peduli dengan segala macam aturan yang harus ia lakukan. Dan lambat laun, dia menyadari bahwa boneka tersebut tak seperti yang dia kira. Kini, Greta harus menghadapi sebuah horor yang menyeramkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Skrip yang ditulis oleh Stacey Menear sebenarnya cukup solid meskipun twist yang ditawarkan di akhir film membuat β€˜The Boy’ menjadi kehilangan keseramannya. Namun setidaknya Menear tidak pernah merasa terburu-buru untuk memberikan pondasi demi pondasi agar penonton mulai terbawa oleh suasana. Perubahan psikologi Greta terhadap Brahms juga dibuat dengan sedemikian rupa sehingga kita tetap fokus terhadapnya.

Sementara itu, sutradara William Brent Bell menuangkan skrip Menear dengan atmosfer yang sangat membantu penonton untuk merinding ketakutan. Gambar Daniel Pearl yang sangat kelam dan gelap benar-benar efektif untuk menggiring penonton ke situasi yang tidak nyaman. Gerakan kameranya yang begitu halus turut membantu suasana horor yang dibutuhkan. Ditambahkan dengan musik dari Bear McCreary yang creepy, film ini menjadi tontonan horor yang cukupan.

Meskipun William Brent Bell berhasil menghindari begitu banyaknya jump scares yang bisa ditebak, sang sutradara ternyata kepayahan dalam menjaga tempo agar penonton tetap jiper meskipun suasananya sudah mendukung. Apalagi ketika bagian terakhir film diwarnai dengan kedatangan horor masa lalu Greta yang benar-benar muncul di depannya, β€˜The Boy’ menjadi kehilangan fokusnya. Penggambaran secara literal hubungan asmara yang diwarnai kekerasan membuat film ini terasa semakin hambar.

β€˜The Boy’ memang masih bisa dinikmati. Lauren Cohan yang mencuat lewat serial β€˜The Walking Dead’ berhasil menjadi magnet film ini. Cohan mempunyai pesona yang kuat sehingga kita tetap fokus kepadanya dan tak beralih ke yang lainnya. Tapi sebagai film horor yang juara, β€˜The Boy’ masih jauh untuk memenuhi kriteria tersebut. Dibutuhkan lebih dari sekedar boneka tanpa ekspresi untuk membuat orang menjerit ketakutan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads