Alasannya satu, seluruh konten film yang ada di Netflix belum lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). LSF memang satu-satunya lembaga yang berwenang untuk memberikan izin atau memotong isi film jika dinilai tidak sesuai dengan aturan atau kultur di Indonesia.
Padahal, kondisi tersebut juga dikarenakan LSF sendiri yang menyatakan bahwa mereka belum punya fasilitas ke arah sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, alih-alih menyiapkan, LSF justru 'memperkeruh' dengan rumor usulan pemblokiran Netflix di Indonesia. Melihat polemik itu, detikHOT pun mencoba mencari titik cerah dengan menanyai sejumlah sineas sebagai garis terdepan perfilman nasional. Apakah benar, Netflix butuh sensor layaknya film-film yang tayang di bioskop dan televisi? Dan apakah sesungguhnya Netflix merugikan industri film lokal?
Sutradara Joko Anwar adalah orang pertama yang memberikan komentar. "Begini, Netflix ini kan teknologi, jangan sampai dibatasi misalnya dengan sensor. Seharusnya tidak ada lagi sensor, pemerintah atau mereka para pembuat kebijakan jangan konyol. Saat ini, semua orang juga bisa menonton apa saja lewat internet," tuturnya ketika dihubungi detikHOT, Rabu (13/1/2016).
"Masa orang dewasa dilarang menonton film yang ada adegan dewasannya? Kalau soal anak kecil, kan di Netflix sudah ada fitur yang memang khusus film anak-anak. Harusnya yang diperkuat orangtuanya, bagaimana mereka bisa kasih film yang cocok buat anak mereka. Jangan main blokir," sambung sutradara 'A Copy of My Mind' itu.
Sutradara Terbaik FFI 2015 tersebut juga merasa hadirnya Netflix bisa menambah khasanah penonton akan film secara global.
"Buat sebagian orang, menonton film itu punya nilai yang lebih. Dengan Netflix, penonton jadi punya ketersedian film legal yang banyak. Bahkan jika benar-benar merata bisa mengurangi demand untuk membeli film bajakan," pungkasnya. (mif/mmu)











































