Jika gambaran dianggap melebih-lebihkan, maka tunggulah apa yang terjadi ketika acara seremoni pembukaan festival itu dimulai di dalam gedung, di Taman Budaya Yogyakarta. Pembawa acara berkali-kali menyebut nama Eddie Cahyono secara khusus, sebagai tamu spesial. Tak hanya itu, dalam pidato sambutan Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta yang dibacakan oleh wakilnya, film 'Siti" dan Eddie Cahyono disebut-sebut sebagai bagian dari kesuksesan film-film karya sineas Yogyakarta yang terbentang sepanjang 2015.
Setelah kemenangan di FFI itu, 'Siti' memang jadi sensasi dan buah bibir bagi warga Jogja, terutama tentu saja di kalangan peminat dan penikmat film. Hal itu juga turut dirasakan oleh Josep Anggi Noen, sutradara yang antara lain melahirkan film 'Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya' serta 'Kisah Cinta yang Asu'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku sebenarnya lebih menjagokan Siti untuk mendapat penghargaan di kategori Sutadara Terbaik, sebab kalau kita lihat film itu, banyak unsur yang hanya bisa muncul berkat keputusan penyutradaraan. Sementara kalau dari segi cerita, film ini kalau salah sedikit saja bisa jadi kayak FTV yang pernah ngetren dengan setting Yogyakarta itu," tutur Anggi dalam perbincangan di sela-sela JAFF 2015.
Tentu saja, Anggi tetap menyambut gembira kemenangan 'Siti' di FFI, apapun kategorinya. Bahkan ia melihat, sebagai Film Terbaik, 'Siti' bisa menjadi simbol bangkitnya gairah dan harapan baru perfilman Yogyakarta untuk lebih mewarnai industri perfilman Nasional.
"Kita lihat saja, apakah setelah ini Siti akan menjadi tren, apakah para produser lantas berpikir, ayo bikin film kayak Siti saja, dengan biaya yang relatif murah tapi memberi kekebasan kreatif pada filmmaker," ujar Anggi. (mmu/doc)











































