Sutradara senior Nia Dinata menjadi salah satu kejutan yang muncul di panggung Festival Film Indonesia (FFI) 2012 yang dihelat Senin (23/11) lalu. Bukan sebagai filmmaker yang karyanya masuk nominasi, melainkan ia tampil sebagai pembaca nominasi Film Terbaik di pengujung acara. Bersama aktor Joe Taslim, Nia seolah mengantarkan Mendikbud Anies Baswedan yang secara khusus menyebutkan pemenang kategori Film Terbaik.
Kemunculan Nia, walau hanya sebagai pembaca nominasi, memang terasa cukup mengejutkan. Sebab, selama bertahun-tahun, sejak kasus pengembalian Piala Citra secara beramai-ramai oleh para sineas pasca FFI 2006 yang memenangkan film βEkskulβ, Nia termasuk kelompok sineas yang βmemboikotβ FFI. Lalu, apa yang telah membuat sutradara βCa Bau Kanβ, βArisanβ dan βBerbagi Suamiβ itu berubah sikap?
βSaya melihat proses Kemendikbud di bawah pimpinan Pak Anies Baswedan yang serius ingin memperbaiki FFI. Lalu, Kemendikbud bekerja sama dengan BPI (Badan Perfilman Indonesia), dan berusaha memperbaiki penyelenggaraannya. Budget tidak sejor-joran biasannya, tapi konsep matang, berkelas dan lebih punya integritas. Penjurian lewat voting lebih demokratis, walaupun saya tidak ikut voting, tapi masyarakat perfilman yang voting beragam dan banyak dari mereka yang wawasan filmnya up to date dan dari latar belakang selera genre yang luas. Keseriusan ini yang membuat saya mau mencoba hadir dan berpartisipasi dalam membacakan pemenang film terbaik,β tutur Nia kepada detikHOT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βIni adalah penyakit kalangan mainstream yang menganggap katagori tersebut belum setara dengan yang lain. Ini tantangan BPI dan tim Pak Anies Baswedan untuk bisa memperbaiki tahun depan,β ujar Nia. Tak hanya itu, lebih jauh ia juga mengusulkan agar nantinya untuk kategori film dokumenter, BPI dan panitia FFI sebaiknya bekerja sama lebih luas lagi dengan komunitas film dokumenter yang punya akses dan jaringan internasional. Nia menyebut salah satunya Festival Film Dokumenter Jogja yang sudah bertahun-tahun membangun komunitas dan memutar film dokumenter Indonesia yang orisinal, bertopik kritis dan memiliki bahasa gambar yang kreatif.
Secara keseluruhan, Nia mengaku puas dengan hasil pemenang FFI 2015 yang menobatkan βSitiβ karya Eddie Cahyono sebagai Film Terbaik. Film yang diproduseri oleh Ifa Isfansyah ini sejak awal tak pernah diniatkan untuk tayang di bioskop, sebagai bentuk "perlawanan" atas ketidakdilan dalam praktik distribusi film selama ini. Sebelum menjadi kejutan di FFI 2015, film ini telah ditayangkan dalam program-program pemutaran yang mandiri, antara lain di Kineforum, TIM, Jakarta. βTerbukti bahwa film yang punya nyali dan berani berbeda yang mendapatkan Piala Citra," pujinya.
Berkaitan dengan soal penjurian dan teknis pelaksanaan lainnya, Nia masih punya usul lagi. Apa itu? Pertama, jumlah voter sebaiknya bertambah setiap tahunnya dan lebih banyak mewakili perempuan dan pembuat film indie. βDengan demikian film-film yang masuk juga akan lebih jujur, berani dan tidak hanya yang aman saja,β harapnya.
Kedua, untuk selanjutnya, sebaiknya FFI diadakan secara konsisten di tempat yang sama. Ia membandingkan dengan perhelatan Piala Oscar yang juga tak berpindah-pindah. Sekaligus, Nia menyinggung soal mekanisme penunjukan Event Organizer (EO) yang menangani acara.
βTidak perlu pindah-pindah dan EO harusnya berada langsung di bawah BPI. Tampaknya masih ada sedikit komunikasi yang berliku karena EO ditunjuk Kementrian, padahal acara yang bertanggung jawab BPI. Kebiasaan ini harus dibuat lebih efektif,β saran Nia.
(mmu/mmu)











































