Joko Anwar adalah sutradara dengan visi yang dalam dan serius. Tapi, dia terlalu rendah hati dan mungkin juga pemalu. Ini bukan analisis atau gosip tentang sifat pribadi seorang filmmmaker, melainkan kesimpulan yang diturunkan dari karya-karya filmnya selama ini. Dalam keseharian dan berbagai kesempatan di acara publik, Joko Anwar selalu menampilkan diri sebagai sosok yang “ngocol”. Ia bisa sangat lucu, bahkan melebihi para stand up comedian terkenal. Keseriusannya selalu tersamarkan oleh celetukan-celetukan spontan yang kocak, baik ketika diwawancarai wartawan maupun saat berbicara di atas sebuah panggung acara formal. Kadang, cara dia menyembunyikan keseriusannya itu bukanlah dengan “lawakan”, melainkan dengan ekspresi dan cara dia mengungkapkannya.
Ketika menerima Piala Citra pertamanya di ajang FFI 2015, Senin (23/11) lalu, Joko dengan spontan dan mengharukan —tapi lagi-lagi tetap riang dan kocak— mengungkapkan “perjuangan”-nya membuat ‘A Copy of My Mind’, film yang mengantarkannya memenangkan penghargaan kategori sutradara terbaik. Terlontar antara lain, betapa dua bintang utamanya, Tara Basro dan Chicco Jerikho, juga para kru, terpaksa tidur di trotoar ketika istirahat syuting. Dan, betapa mereka hanya mendapat jatah makan dua kali sehari.
Dalam sebuah kesempatan Joko menceritakan proses produksi film terbarunya yang mendapat dana dari Busan Film Festival sebesar kira-kira Rp 150 juta itu, bahwa ia tak membekali para pemain dengan skrip. Melainkan, dengan latihan yang lebih panjang dibandingkan waktu syuting yang hanya delapan hari. Joko hanya memberi tahu para pemain tentang karakter dan plot, selebihnya mereka berdiskusi untuk menggali dialog yang sesuai. Hasilnya, seperti telah disaksikan oleh sebagian penggemar film yang berkesempatan menonton, misalnya lewat program Nonton Bareng Juri FFI, adalah chemisty yang dahsyat, alami dan nyaris tanpa kelihatan akting, antara Tara dan Chicco. Tara berperan sebagai Sari, pekerja salon yang gemar membeli DVD bajakan, dan Chicco sebagai Alex, penerjemah DVD bajakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktanya, diakui atau tidak oleh Joko, politik bukan sekedar latar bagi ‘A Copy of My Mind’, dan di sinilah sebenarnya kepiawaian Joko meramu filmnya. “Latar politik” yang dipakai oleh Joko untuk membingkai kisah asmara kaum proletarnya itu barangkali tak mengejutkan. Berbagai drama pejabat dan orang-orang korup di panggung politik telah terpapar dengan vulgar di media massa; ceritanya bisa jauh lebih mengerikan. Atau, setidaknya, Joko menggunakan salah satu kasus konspirasi korup yang sudah tak asing. Namun, di sinilah keunggulan film ini: Joko menjahitnya dengan demikian lembut, sehingga penonton nyaris tak merasa bahwa mereka diseret ke isu politik yang banal.
Pada akhirnya, di bagian akhir, layar kembali dan hanya menyisakan manusia-manusia dari kelas bawah itu, dalam hal ini Sari si pekerja salon, yang hampir tiap hari makan indomie sambil menonton DVD bajakan tentang monster dan makhluk-makhluk jadi-jadian. Inilah film politik yang tak teriak, tak hiruk-pikuk, namun justru menorehkan kengelangutan yang tiada bertepi, menghempaskan penontonnya ke dalam kengiluan tanpa ampun. Bagi penonton yang akrab dengan film-film Joko Anwar, tidaklah terlalu sulit untuk mengenali bahwa ’A Copy of My Mind’ secara teknik dan gaya “bukan Joko banget”. Namun, penggemar sejati film-film Joko juga akan tahu, bahwa secara materi, justru inilah Joko yang sesungguhnya, yang semakin menunjukkan “keasliannya”.
Visi politik Joko Anwar sudah terlihat sejak film pertamanya, ‘Kala’, yang dikemas dalam kisah “surealis”, sedangkan visi sosialnya muncul dalam film yang skenarionya dia tulis namun disutradarai oleh Mouly Surya, yakni ‘Fiksi’, yang meraih penghargaan sebagai film terbaik FFI 2008. Di era Twitter, Joko “muncul kembali” sebagai salah seorang “selebtwit” (dengan follower hampir satu juta) yang rajin menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi sosial-politik negerinya. Lewat kicauannya, Joko menampilkan diri sebagai “the most angry man in town”, dan itu mencerminkan kepedulian dan kritisismenya yang tinggi.
Penyelenggaraan FFI sendiri termasuk salah satu subjek yang senantiasa menjadi sasaran kritik Joko. Sampai-sampai ada lelucon, kenapa tahun ini di timeline Twitter nyaris tak ada satu pun suara nyinyir terhadap FFI? Karena yang biasanya nyinyir masuk nominasi, dan bahkan kemudian memenangkan penghargaan! Hehehe. Sejak awal, masuknya ‘A Copy of My Mind’ dalam nominasi FFI memang menjadi perhatian tersendiri sebab, pertama, film ini belum tayang di bioskop. Kedua, karena Joko selalu mengatakan bahwa masuknya ‘A Copy of My Mind’ dalam 7 kategori nominasi merupakan promosi gratis untuk filmnya yang low budget.
Dengan pernyataan itu, di satu sisi, orang bisa salah paham bahwa Joko meng-underestimate FFI, karena seolah-olah Joko hanya menganggap FFI sebagai sarana promosi gratisan. Atau, meng-underestimate dirinya sendiri karena seolah film karyanya hanya berkelas pada level "masuk nominasi saja sudah senang"? Namun, di sisi lain, sebenarnya ya itulah Joko: sosok rendah hati, dan, ya, mungkin pemalu, yang selalu menyamarkan dirinya dalam sikap yang “sok dangkal” lewat pernyataan-pernyataannya yang selalu melawak.
Toh, pada akhirnya, yang muncul di layar tak pernah bisa bohong. Setelah bermain-main dalam fantasi tingkat tinggi pada ‘Pintu Terlarang’ dan ‘Modus Anomali’, maka ‘A Copy of My Mind’ bolehlah dibilang sebagai kematangan seorang filmmaker. Joko yang makin berusia, yang semakin tenang, dan semakin menemukan sumber kegelisahan dan kemarahannya yang paling inti, yang paling ingin ia teriakkan kepada dunia. Kemenangan Joko Anwar di FFI 2015 adalah kemenangan keseriusan visi seorang sutradara; sutradara yang tahu benar apa yang hendak dikatakannya, dan seberapa penting hal itu mesti diperjuangkan lewat film.
(mmu/mmu)










































