Film ini dikisahkan dari kacamata tiga nenek kakak beradik yang selalu membuat komposisi musik lesung untuk menandai masa menjelang tanam, masa menjelang panen, dan masa perayaan panen. Judul βAsu Gancetβ sendiri diambil dari judul komposisi musik yang dimainkan dengan lesung.
Tonny Trimarsanto adalah seorang pembuat film dokumenter yang telah melahirkan 38 karya yang mendapatkan berbagai penghargaan dari festival-festival film internasional. Beberapa karyanya adalah βGerabah Plastikβ (2002) Film Terbaik pada Indonesian Doc Film Festival, βThe Dream Landβ (2003) New Asia Current Special pada Yamagata Int Film Festival Japan dan Excellence Award pada Earth Vision Tokyo International Film Festival, dan βSerambiβ (2006) yang masuk menjadi film peserta kompetisi pada 59th Cannes Film Festival 2006 (Un Certain Regard).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tinggal di Klaten, DI Yogyakarta, Tommy senang mengangkat kisah-kisah di sekitarnya. Pada tahun 2011, idenya untuk membuat film tentang privatisasi air terwujud dalam film βMandor Banyuβ (Itβs a Beautiful Day) yang berlokasi di Desa Kotakan, Sukoharjo. Dan pada tahun berikutnya, ia yang diminta oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim, kembali ke Desa Kotakan untuk membuat sebuah karya dokumenter berjudul βBumikuβ yang mengangkat topik perubahan iklim dan ditargetkan untuk anak-anak. Film βBumikuβ inilah yang mempertemukannya dengan tiga nenek pemain musik lesung, yang kemudian menggugahnya untuk membuat film βAsu Gancetβ.
Beberapa film lain yang memenangkan pitching forum adalah 'A Weekend with the Sarwonoβs', 'Seko', 'Indonesia Kirana' dan 'Tujuh'. Masing-masing film menampilkan cerita yang beragam, dan umumnya menampilkan muatan lokal dalam plot. Seperti 'Seko',film anmiasi karya Galang E. Larope yang mengangkat suku Mori di Sulawesi Tengah melalui bahasa, budaya, lingkungan, dan kondisi alam di sana. Cerita film ini juga berangkat dari pengalaman pribadi sutradaranya, Galang E. Larope, saat desanya, Beteleme, diserang kelompok teroris.
Sementara cerita film 'Tujuh' arahan sutradara Khansa Khalda, diadaptasi dari cerita pendek Benny Arnas, seorang penulis dari Lubuklinggau. Film yang memiliki unsur black comedy ini mengangkat sebuah mitos tentang santet yang dipercaya oleh masyarakat di Lubuklinggau.
(ich/ron)











































