Dalam film arahan sutradara Garin Nugroho itu, Didi tampil sebagai tokoh di Jawa Barat yang menjadi panutan para petani. Ia berusaha menanamkan ideologi agar lepas dari mental sebagai orang yang terjajah. Seruannya itu disampaikan di sebuah gubuk di tengah hutan, dengan bahasa Sunda yang diiringi bunyi seruling merdu.
Didi yang meninggal dunia hari ini, Jumat (15/5) dalam usia 58 tahun itu juga menymbangkan ide, tenaga dan pengalamannya di film tersebut sebagai produser bersama dengan Christine Hakim, Dewi Umaya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), dan Ari Syarif. 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' hadir di bioskop ketika pemimpin nasional sekarang sedang dipertanyakan integritasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prinsip sama rata dan sama rasa yang disuarakan Tjokroaminoto, menumbuhkan harapan rakyat yang selama ini menjadi sapi perah, baik dari tenaga maupun hasil bumi yang menjadi hak mereka. Dari Ponorogo, Semarang, hingga Surabaya, Tjokroaminoto berpindah-pindah mencari tempat lebih baik dalam mengembangkan ideologinya.
Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Karakter utama yang diperankan Reza Rahadian ini tumbuh menjadi guru dari para pemimpin pergerakan seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, Moesso, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Namun dua nama terakhir tidak muncul di film karena latar cerita yang berujung di 1921.
Didi pernah berkata, masyarakat film harus menjaga kualitas film nasional demi kemajuan industri. Karena kualitas tak akan pernah tergerus oleh waktu, meskipun film yang dibuat tidak mengikuti trend. Dan 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' diharapkan Didi menjadi salah satu film yang tetap bisa menjadi bahan diskusi di masa yang akan datang.
(ich/ich)











































