Pentingnya Festival Film Internasional bagi Sineas Indonesia

ASEAN International Film Festival & Awards 2015

Pentingnya Festival Film Internasional bagi Sineas Indonesia

- detikHot
Rabu, 15 Apr 2015 15:06 WIB
Pentingnya Festival Film Internasional bagi Sineas Indonesia
Jakarta -

ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA) 2015 baru saja dihelat pada 9-11 April lalu di Kuching, Sarawak, Malaysia. Sebagai tuan rumah, pihak penyelenggara telah berhasil menunaikan misinya dengan baik. Semua delegasi tamu undangan baik itu para penggiat film maupun awak media yang diundang dari tiap negara di Asia Tenggara mendapatkan perlakuan yang hangat dan dijamu layaknya tamu kehormatan. Tak banyak festival film yang memperlakukan para tamu-tamu undangannya sebaik yang dilakukan oleh pihak penyelenggara AIFFA.

Dan, sebagaimana layaknya dalam setiap hajatan "festival film", maka penghargaan menjadi satu hal yang sudah pasti tak terpisahkan. Berikut bagian kedua (habis) dari laporan pengamat film dan kontributor detikHOT Shandy Gasella yang menjadi salah satu rombongan delegasi dari Indonesia. Pada akhirnya, selalu ada malam puncak dimana setiap film yang masuk kompetisi dinilai oleh juri-juri dan mendapatkan ganjaran penghargaan. Tak ada yang lebih membanggakan bagi sineas film manakala film yang ia buat diapresiasi sedemikian tinggi, dan diakui kualitasnya.

AIFFA memiliki 13 kategori penghargaan, dan pada malam penganugerahan yang dilangsungkan pada 11 April, Indonesia membawa pulang satu penghargaan untuk kategori Best Screenplay bagi Ben Sihombing ('Soekarno'). Berikut daftar lengkap kategori dan pemenangnya:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Special Jury Award: 'Pee Mak' (Thailand) dan 'The Lion Men' (Singapura)
2. Best Director of Photography: Dang Xuan Truong ('Inseminator', Vietnam)
3. Best Film Editing: Benjamin Tolentino ('Bendor', Filipina)
4. Best Screenplay: Ben Sihombing ('Soekarno', Indonesia)
5. Best Supporting Actress: Nadiah Wahid ('Yasmine', Brunei Darussalam)
6. Best Actress: Cherie Gil ('Sonata', Filipina)
7. Best Supporting Actor: Sok Sothun ('The Last Reel', Kamboja)
8. Best Actor: Bront Palare ('Terbaik Dari Langit', Malaysia)
9. Best Director: Joseph Laban ('Nuwebe', Filipina)
10. Best Film: 'Terbaik Dari Langit' (Malaysia)
11. Asean Spirit Award: 'Purok 7' (Filipina)
12. Lifetime Achievement Award: Nora Aunor (Filipina)
13. Asean Inspiration Award: Jackie Chan

Total ada 62 film yang mendaftar ke AIFFA dari berbagai negara di Asia Tenggara. Filipina termasuk yang paling banyak mendaftarkan filmnya dengan total 23 judul, disusul Malaysia dengan 22 judul. Indonesia sendiri ada 5 (lima) judul film yang didaftarkan, yakni 'Cahaya Dari Timur: Beta Maluku', 'Soekarno', '3 Nafas Likas', 'Sebelum Pagi Terulang Kembali', dan 'Sokola Rimba'.

Mengapa Indonesia hanya mengirimkan lima judul film? Ini menjadi persoalan, sebab apakah itu berarti Indonesia hanya memiliki lima film bagus dalam kurun dua tahun terakhir ini? Di sela-sela mengikuti rangkaian acara AIFFA, sutradara Lasja F Susatyo tergerak juga untuk menanyakan hal ini kepada Prihartawan Djalle atau biasa disapa Wawan, koordinator delegasi Indonesia yang mengurusi tiket dan akomodasi perjalanan kami ke Kuching. "Kok film gue bisa dimasukkin ke AIFFA sih? Kenapa 'Tabula Rasa' enggak? Kenapa cuma lima film yang dikirim ke AIFFA?" tanya ketua Indonesian Film Directors Club (IFDC) itu kepada Wawan. Lantas, Wawan berkilah bahwa pilihan lima judul film yang didaftarkan untuk mengikuti AIFFA atas dasar rekomendasi yang diberikan oleh BPI (Badan Berfilman Indonesia).

Mendengar jawaban itu, saya tergelitik juga untuk mendapatkan konfirmasi dari BPI, dalam hal ini saya menghubungi langsung Robby Ertanto, Ketua Bidang Festival Film Luar Negeri BPI. Lewat percakapan telepon ia menyampaikan bahwa memang betul kelima judul film yang dikirimkan ke AIFFA atas rekomendasi dan pertimbangan dari BPI. Namun, persoalan kenapa hanya lima, Robby menyampaikan bahwa karena sejumlah itulah yang diminta Wawan untuk didaftarkan ke AIFFA. Jadi, Wawan sebagai "agen" yang menentukan bahwa Indonesia hanya perlu mengirim lima judul atas dasar-dasar pertimbangan yang hanya dia sendiri yang tahu.

Tak ada batasan maksimal jumlah film dari tiap negara yang ingin mengikutsertakannya ke AIFFA, "No maximum numbers a country could submit its movies to AIFFA," begitu pernyataan dari Kam Kamaruddin, Direktur Media Relation AIFFA kepada saya ketika saya mintai pula keterangannya.

Di masa mendatang, ketika AIFFA akan kembali digelar, saya kira Indonesia harus mengirim sebanyak-banyaknya film terbaiknya, jangan hanya mengirim lima film lantaran pihak koordinator berpikir bahwa mereka hanya sanggup memberangkatkan 20 orang ke sana sebagai representasi dari kelima film yang diikutsertakan. Itu gegabah. Ini bukan soal memenangkan penghargaan semata, sebab dalam festival film baik yang berskala kecil maupun yang besar seperti AIFFA ini, penting sekali jika ada banyak film terbaik dari Indonesia yang dilihat oleh juri-juri yang kredibel. Dari sinilah kesempatan-kesempatan sineas agar karya-karyanya dikenali publik luas bermula.

Baru kemarin dunia perfilman kita dihebohkan oleh kasus "Berlinale-gate", yang membuka mata kita bahwa selama ini ada segelintir pihak yang merugikan negara demi kepentingan pribadi. Perjalanan delegasi Indonesia yang berjumlah 16 orang ke AIFFA ini memang tak sesen pun menggunakan uang negara, pihak AIFFA sendiri yang membayarkan lewat "official agen representatifnya" di Jakarta. Namun, saya kira banyak sineas kita yang secara langsung maupun tak langsung telah dirugikan sebab film-filmnya tak diikutsertakan.

Kepada penyelenggara AIFFA, baiknya di masa mendatang tak perlu lagi menunjuk agen representatif kalau toh tugasnya hanya mengatur pembelian tiket pesawat secara kolektif saja, namun soal film tak paham sama sekali. Kepada BPI, agar segera berkorespondensi dengan pihak AIFFA untuk membahas isu ini agar kesalahan sama tak terulang lagi di masa mendatang. Kepada asosiasi pekerja film di Indonesia seperti IFDC, Aprofi, dan lain-lain, maupun sineas-sineas yang tak tergabung di dalamnya, karya-karya Anda dapat diikutkan ke AIFFA, dan BPI saya kira bisa menjadi fasilitator untuk mengakomodasikan semua kepentingan pekerja film di Indonesia.

Shandy Gasella pengamat perfilman Asia

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads