Meskipun memulai start di hari yang sama, tiga film ini menawarkan cerita yang berbeda. Berikut sinopsisnya:
Β
'Guru Bangsa Tjokroaminoto'
|
|
Perjalanan hidup Raden Hadji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto yang diangkat sutradara Garin Nugroho mengambil latar di era 1890-1920an. Pahlawan rakyat yang dijuluki 'Raja Tanpa Makhkota' ini lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat.
Saat era itu, Indonesia masih bernama Hindia Belanda, dan 80 persen rakyat masih kesulitan baca-tulis. Tjokroaminoto diceritakan rela melepas atribut keningratannya untuk membaur bersama rakyat biasa.
Lewat kepemimpinan Tjokroaminoto, rakyat kecil yang sebelumnya tidak memiliki akses ke dunia politik, mulai dibukakan jalannya untuk ikut berpartisipasi melalui Sarekat Islam. Organisasi yang dipimpinnya itu menjadi organisasi terbesar pertama dengan anggota sebanyak 2 juta orang yang berasal dari berbagai kalangan kelas sosial.
Prinsip sama rata dan sama rasa yang disuarakan Tjokroaminoto, menumbuhkan harapan rakyat yang selama ini menjadi sapi perah, baik dari tenaga maupun hasil bumi yang menjadi hak mereka. Dari Ponorogo, Semarang, hingga Surabaya, Tjokroaminoto berpindah-pindah mencari tempat lebih baik dalam mengembangkan ideologinya.
Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Karakter utama yang diperankan Reza Rahadian ini tumbuh menjadi guru dari para pemimpin pergerakan seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, Moesso, Tan Malaka, hingga Kartosuwiryo. Namun dua nama terakhir tidak muncul di film karena latar cerita yang berujung di 1921.
Sepanjang durasinya yang lebih dari 130 menit, terlalu banyak hal yang bisa diceritakan dari film ini. Plot berjalan maju dan mundur cantik, dengan penampilan cast yang sama rata bagusnya. Hanya Reza Rahadian yang tampak lebih menonjol, karena dia adalah tokoh utama.
Departemen art, kostum, musik, sinematografi dan naskah bersinergi dengan baik dan menjadikan 'Guru Bangsa Tjokroaminoto' sebagai tontonan yang tak hanya menuturkan kembali sejarah, tetapi juga memberi pengalaman sinematik yang baik dan menyenangkan.
Jika selama ini kita melihat banyak kritik kepada film nasional yang disebut sering berkutat pada dada, paha dan hantu, maka datanglah ke bioskop dan saksikan 'Guru Bangsa Tjokroaminoto'. Karena tanpa dukungan penonton, tuntutan atas hadirnya film-film berkualitas seperti ini akan sulit terwujud.
Filosofi Kopi
|
|
Dengan keahliannya Ben berhasil meracik kopi yang diberi nama Perfecto, sampai kehadiran El yang mengatakan ada kopi yang lebih baik ketimbang mahakarya Ben meruntuhkan semuanya. Ben dan Jody tidak punya pilihan selain pergi mencari Kopi Tiwus yang akan menentukan kelangsungan Filosofi Kopi dan persahabatan mereka.
Film arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini menampilkan Chicco Jerikho, Rio Dewanto dan Julie Estelle.
Tuyul
|
|
Dalam teaser trailer yang dirilis Renee Pictures itu, tampak karakter Dinda yang tengah hamil diteror makhluk halus dalam sosok anak-anak berkepala plontos. Dinda berperan sebagai Mia, istri Daniel (Gandhi Fernando).
Pasangan muda itu diceritakan tinggal di sebuah rumah tua peninggalan orang tua Mia. Suatu hari mereka menemukan botol misterius yang tersimpat di tempat rahasia.
Botol kosong itu akan membawa petaka yang mungkin menyengsarakan Daniel, Mia dan calon bayi mereka. 'Tuyul' disutradarai Billy Christian yang sebelumnya mengisi segmen di film horor antologi 'Hi5teria'.
Halaman 2 dari 4











































