Setelah bertahun-tahun, acara perayaan Hari Film Nasional akhirnya digelar di Istana Negara Jakarta. Ini menunjukkan sinyal dukungan pemerintah terhadap industri film nasional makin kuat.
Eksekutif Produser Falcon Pictures, HB Naveen yang ikut menghadiri acara itu merasakan atmosfer tersebut. Ia datang ke Istana Negara di Hari Film Nasional 30 Maret lalu untuk menerima Piala Antemas setelah film garapannya 'Comic 8' menjadi film terlaris pada 2014.
"Kemarin presiden membuat pernyataan yang sangat membanggakan untuk para produser, beliau menyatakan, 'sebelum nonton film luar, harus menonton film Indonesia dulu'," ujarnya saat berbincang-bincang dengan detikHOT, Selasa (31/3/2015) di kantornya, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bapak Menteri Anies Baswedan dan Kepala BEK Triawan Munaf juga ada dan mempresentasikan strategi-strategi ke depan," tuturnya.
"Mudah-mudahan diagnosa yang dilakukan pemerintah terhadap problem di industri ini benar. Jadi, sekarang menteri menjadi dokter, dan pasiennya itu industri, jadi dokter ini harus mendiagnosa penyakit si pasien baru diobati, mudah-mudahan diagnosanya awalnya benar, sehingga pemerintah bisa menyalurkan dana dan sumber dayanya secara tepat," lanjutnya.
Sebagai pengusaha film, HB Naveen mengatakan sebenarnya pihaknya tidak terlalu membutuhkan bantuan finansial dari pemerintah. Saat ini, pengusaha film lebih membutuhkan infrastruktur yang baik.
"Secara finansial tidak, yang jelas kita butuh sekali bantuan infrastruktur. Salah satunya, industri kita ini harus diregulasi, pembajakan dimana-mana, sekarang nonton film gampang kok, streaming bisa, nah itu harus diregulasi," ujar produser 'Haji Backpacker' itu.
Ia pun yakin jika ada regulasi yang jelas maka industri film Indonesia bisa sehat dan bergairah.
"Untuk saat ini kami cukup senang, kepedulian presiden dan pembuatan divisi baru (BEK) ini merupakan start yang bagus, sekarang dari nol kita masuk ke titik satu," pungkasnya.
(hkm/ich)










































