Setelah lepas dari Kementerian Pariwisata, sektor ekonomi kreatif termasuk perfilman saat ini berada dalam lembaga setingkat kementerian bernama Badan Ekonomi Kreatif yang dikepalai Triawan Munaf. Ketika ditemui dalam sebuah kesempatan, Triawan memberikan sedikit visinya.
Triawan yang merupakan mantan personel grup band progresif rock asal kota Bandung Giant Step itu akan fokus untuk membangun pondasi kuat dalam organisasinya sebelum menjalankan sebuah program. Ia tidak mau terburu-buru.
"Badan Ekonomi Kreatif ini kan baru sekali, orangnya baru saya sendiri. Untuk menjalankan program yang terukur, program yang menganggarkan uang negara, uang pajak rakyat, kita harus hati-hati. Nah, untuk itu diperlukan organisasi yang mantap, jadi rencana kami tahun ini kami ingin lebih mantapkan organisasi ini, apa rencana program-programnya, bicara tata kerjanya," kata Triawan baru-baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain mendapat staf dari Kementerian Pariwisata dalam organisasinya di bidang sekertariat, Triawan mengatakan untuk posisi Deputi ia lebih banyak mengisinya dari kalangan profesional.
Dari sekian banyak sub sektor industri kreatif, saat ini yang masih menjadi prioritas menurut Triawan adalah fashion, film, kuliner, desain grafis, e-commerce, game online, dan seni pertunjukan. Film, menurut Triawan, adalah sektor paling ideal untuk dijadikan lokomotif atau naungan sub sektor industri kreatif.
"Kalau kita bisa konsentrasi mempromosikan Indonesia di luar negeri dengan film, itu bukan berarti kita menomorduakan yang lain, cuma kita memang harus ada prioritas. Enambelas sub sektor yang harus kita tangani, jadi sabar-sabar, kita harus mempelajari semua," ujarnya.
Triawan terpilih menjadi Ketua Badan Ekonomi Kreatif pada 26 Januari melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 9 P Tahun 2015. Badan tersebut mendapat anggaran sekitar Rp 1 triliun dan akan dipakai untuk membiayai program-program yang diharapkan dapat meningkatkan penghasilan bagi negara.
"Ada pertanggungjawaban yang sangat ketat dengan uang negara dan saya nggak mau masuk penjara karena gara-gara nafsu untuk punya duit. Nggak mudah menyerap dana yang besar untuk suatu program yang terencana di anggaran pemerintah, karena perlu ada bidding, perlu perencana. Sehingga saya tidak akan terburu-buru soal itu, program yang ada di kepala kita selalu kita bicarakan di masa-masa persiapan, ini perlu dimantapkan," ucapnya panjang lebar.
Mengenai festival film Indonesia di luar negeri yang diselenggarakan mahasiswa atau WNI, Triawan tentu sangat mendukung karena itu bagian dari mempromosikan Indonesia. Sementara untuk keikutsertaan film Indonesia atau pengiriman delegasi di festival film luar negeri, Triawan akan mengawasinya dengan ketat.
"Kita bisa memberangkatkan delegasi-delegasi yang lebih banyak, yang lebih relevan untuk ada di sana, bukan delegasi abal-abal. Yang penting pemerintah hadir bukan hadir basa-basi, bisa memaksimalkan festival-festival itu di luar negeri," ujarnya.
(ich/mmu)











































