Kembalinya Dukungan Filmmaker Muda 'Pemboikot' FFI

Catatan dari FFI 2014

Kembalinya Dukungan Filmmaker Muda 'Pemboikot' FFI

- detikHot
Senin, 08 Des 2014 09:27 WIB
Kembalinya Dukungan Filmmaker Muda Pemboikot FFI
Jakarta -

Sejak kemenangan film ‘Ekskul’ pada penyelengaraan Festival Film Indonesia pada 2006 lalu, sejumlah filmmaker muda yang tergabung dalam Masyarakat Film Indonesia (MFI) seperti Mira Lesmana dan Riri Riza menyatakan diri tidak ingin terlibat FFI. Namun, tahun ini mereka memberikan dukungannya kembali.

Sedikit menengok ke belakang. Pada FFI 2006, sebanyak 37 Piala Citra dikembalikan olah para pembuat film seperti Riri Riza, Nia Dinata, Mira Lesmana, Hanung Bramantyo, Rudy Sudjarwo, dan beberapa nama lainnya. Mereka juga menyatakan protes atas terpilihnya film ‘Ekskul’ arahan sutradara Nayato Fio Nuala sebagai Film Terbaik FFI 2006 karena dinilai melakukan pelanggaran hak cipta dalam ilustrasi musiknya.

Selain itu, Mira Lesmana cs menilai penyelenggaraan FFI kala itu tidak transparan, baik dalam sisi pelaksanaan dan sisi finansial. MFI juga menyorot sistem kelembagaan perfilman Indonesia, yang menurut mereka saat itu masih dijalankan oleh lembaga dan organisasi bentukan Departemen Penerangan di masa Orde Baru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lembaga yang dimaksud adalah Lembaga Sensor Film (LSF), Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), dan organisasi-organisai yang bernaung di dalamnya. Lembaga-lembaga dan organisasi itu menurut MFI tidak mencerminkan semangat pembaruan dan tidak berpihak pada kemajuan perfilman Indonesia.

Atas pergolakan yang terjadi, beberapa bulan kemudian kemudian memang membatalkan ‘Ekskul’ sebagai Film Terbaik FFI 2006, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Sejak itu Mira Lesmana dan Riri Riza dikenal sebagai produser dan sutradara yang ‘melepaskan diri’ dari segala kegiatan FFI, termasuk tidak pernah mendaftarkan film-film mereka lagi. Tetapi, Mira dan Riri tetap memantau tiap tahun penyelenggaraan FFI, karena sebagai festival film tertua di negara ini yang menjadi bagian sejarah perfilman Indinesia, festival tersebut tetap harus berjalan.

Fillmmaker muda lainnya yang sering vokal terhadap penyelenggaraan FFI adalah Joko Anwar. Menurut sutradara 'Modus Anomali' itu, FFI selama beberapa tahun belakangan sudah mulai kehilangan kredibilitasnya. Alasannya, selain digelar dengan persiapan yang kurang baik, penilaian pemenang dalam ajang tersebut masih terkesan subjektif tergantung selera para juri.

"Ketidakkredibelan FFI membuat beberapa produser tidak mau mengikutsertakan film mereka, dan beberapa yang masuk nominasi tidak bangga," komentar Joko via Twitter usai FFI 2012.

FFI 2012 kabarnya memakan biaya hingga Rp 16 miliar lebih. Namun dana sebesar itu dinilai tak sebanding dengan kualitas penyelenggaraannya. Setidaknya itulah yang dirasakan sutradara Joko Anwar.

"Jika nanti FFI kehilangan kredibilitasnya sama sekali di mata orang film & masyarakat, buat apa FFI dilaksanakan lagi? Buat proyek?" tambah Joko yang telah meraih dua Piala Citra itu.

Kini pandangan para filmmaker yang sering mengkritisi FFI itu kini sudah mulai berubah seiring dengan optimisme mereka akan pembenahan di tubuh FFI. Joko Anwar bahkan datang langsung menghadiri Malam Puncak FFI 2014 di Palembang, Sabtu (6/12) malam, dan mengunggah foto-foto saat acara berlangsung melalui Twitternya. Riri Riza dan Mira Lesmana kembali mengikutsertakan film mereka untuk bersaing. Riri juga menerima Piala Citra untuk kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik lewat film ‘Sokola Rimba’.

Lalu, pembenahan seperti apa yang menimbulkan rasa optimis akan penyelenggaraan FFI tahun ini dan di masa yang akan datang? Simak terus ulasan detikHOT!



(ich/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads