Sinematek Indonesia merupakan sebuah lembaga swasta non-profit yang bertujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan berbagai artefak terkait perfilman nasional. Mulai dari film, buku, skenario, majalah, kliping, biografi, data organisasi dan perusahaan film, peralatan, hingga undang-undang perfilman dan peraturan pemerintah.
Sebagai pusat informasi dan dokumentasi perfilman Indonesia yang berdiri sejak 1970, Sinematek pastinya telah mengikuti perkembangan teknologi perfilman Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FILMARES Expo memberikan ilmu pengetahuan baru mengenai teknologi film Indonesia, serta memahami perjalanan perkembangan film.
Karena pada saat ini, teknologi sudah mempermudah segalanya dan dengan kecanggihan itulah banyak karya-karya lahir dan mencuat di dalam maupun luar negeri.
"Dahulu keuangan yang kita butuhkan 100%, sekarang mungkin hanya 1/3 nya. Dari biaya produksi dan lain lain. Karena kemudahan teknologi dan digitalnya, semua harus diterapkan dan diketahui," lanjut nya.
Sinematik Indonesia sendiri akan menampilkan film-film yang masih dibuat dengan teknologi lama pada tiga hari ini.
"Sinematik tidak jualan apa-apa, kita cuma mau informasikan, kita juga akan mempertontonkan film-film yang dibuat dengan teknologi lama, saat semuanya serba manual," imbuh Pak Abdy pada DetikHot selesai opening ceremony.
Film-film dengan format piringan hitam yang akan diputar seperti, 'Lewat Jam Malam' (1960), 'Si Ronda' (1970), 'Naga Bonar' (1980). Film ini akan diputar selama 26-28 November 2014 di stand Sinematek Indonesia.
(fk/dar)










































