'Angker': Teror Nenek Gaib Penunggu Rumah

- detikHot
Rabu, 26 Nov 2014 10:02 WIB
Jakarta - Tanpa merasa perlu membangun pondasi cerita, tanpa pengenalan karakter yang berarti, film horor yang satu ini langsung menebar terornya tepat di menit pertama. Pada sekuens awal kita bertemu dengan Ratna (Lia Waode, 'Suster Ngesot The Movie'), seorang ibu muda beranak tiga yang tengah ditinggal suaminya bekerja di luar kota. Malam itu di rumahnya cahaya remang saja dari api yang menyala dalam lampu tempel, tak ada penerangan listrik. Ratna tengah berusaha mengunci pintu dan jendela, ketika ia samar-samar mendengar bisikan dari arah luar depan rumahnya.

Bisikan-bisikan ini makin hari makin mengganggunya. Terlebih saat ia menemukan sebuah lukisan seorang nenek menyeramkan di dalam gudang rumahnya, bisikan itun terdengar nyaring di telinganya, "Iki omahku!" Dan, Ratna pun sadar bahwa keselamatan dirinya dan anak-anaknya kini mulai terancam.

Harus diakui bahwa sutradara M. Yusuf ('Tebus', 'Kemasukan Setan') terampil membangun suasana seram nan mencekam di hampir sepanjang durasi film ini. Setiap pengadeganan tertata dengan cermat. Terlihat sekali usahanya untuk membuat film ini agar tak tampil bak film horor ecek-ecek, M. Yusuf jelas memiliki bakat di atas rata-rata, setidaknya ia berhasil membuat setiap frame adegan di film ini tampak sinematis, tak murahan.

Namun, kepiawaiannya dalam menggarap film ini sayangnya tak diimbangi oleh kinerja kolega-kolega krunya yang lain, di antaranya skrip cerita tulisan King Javed yang teramat cetek. Tata musik karangan Izzal Peterson ('The Witness', 'Kemasukan Setan') juga membosankan. Pemilihan pemain agak sembrono, misalnya pemeran seorang ibu yang didatangi Ratna untuk ditanyai seputar keadaan rumahnya, diperankan oleh cewek imut berparas ABG, yang jelas merusak usaha untuk membuat film ini meyakinkan. Satu lagi yang paling krusial, penata rias gagal menciptakan tokoh ikonis film ini sendiri yaitu Mbah Tun, sang nenek gaib yang keseraman wajahnya hanya bergantung kepada pemakaian softlens, bedak tebal dan rambut awut-awutan yang disyut dengan extreme close up.

Bila ditilik secara formula yang biasanya dipakai film-film horor dunia, maka keseluruhan film 'Angker' adalah babak kedua hingga usai. Film ini kehilangan babak pertamanya, babak yang bisa saja jadi drama memikat yang rupanya luput untuk ditangani oleh penulis naskah.

Hubungan serta konflik antara Ratna baik dengan suami maupun anak-anaknya bila diberi porsi lebih dapatlah menambah bobot cerita, dan bisa menggugah simpati penonton untuk lebih peduli terhadap nasib mereka. Lihat misalnya film 'The Babadook' (Jennifer Kent, 2014) yang beberapa waktu lalu beredar di bioskop, memiliki kemiripan cerita soal seorang ibu yang berusaha menyelamatkan puteranya dari iblis jahat. Namun, filmnya tak lantas melulu menggeber aksi teror yang dilakukan oleh si iblis, melainkan pertalian kisah antar ibu dan anak di film tersebut menjadi amat penting dan genting; ada horor nyata yang mengerikan di antara si ibu dan anaknya, dan kita dibuat peduli terhadap nasib mereka.

Film 'Angker' kehilangan kualitas itu. Pembuat film masih berkutat pada eksploitasi teror di permukaan saja, dan keniscayaan adegan penampakan makhluk gaib yang teramat sering. Hantaman musik hanya memekakkan telinga saja, makin mengurangi nilai film ini yang sebenarnya memiliki potensi yang cukup menjanjikan, bila dibarengi dengan penulisan naskah yang mumpuni.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)