Bagaimana Peran di Film Menyelamatkan Vino G Bastian?

Wawancara Khusus (2)

Bagaimana Peran di Film Menyelamatkan Vino G Bastian?

- detikHot
Senin, 06 Okt 2014 13:36 WIB
Bagaimana Peran di Film Menyelamatkan Vino G Bastian?
Jakarta - Berdiri di dua dunia, layar lebar dan televisi, membuat Vino G Bastian memiliki pengalaman lebih sebagai aktor. Ia banyak mengamati tren dan sisi bisnis dari industri yang ditekuninya. Termasuk, ketika kini apa yang disebut sebagai 'film religi' tengah menguasai pasar, Vino pun tak luput mencermatinya. Seiring dengan itu, ia mulia menyusup ke belakangan layar untuk menjajal kemampuannya sebagai produser. Pada bagian kedua wawancara dengan pengamat perfilman Shandy Gasella ini, Vino mengungkapkan tantangannya sebagai aktor berhadapan dengan tren industri film dan tontonan televisi, dan pengalamannya menginjakkan kaki di area baru sebagai orang di belakang layar sebuah produksi film.

Akhir-akhir ini industri film kita lagi kena demam film religi, seberapa menantangnya menurutmu bermain dalam film-film religi ini?

Bisa dibilang di balik layar industri film kita itu hampir sama dengan industri TV, apa yang lagi tren, apa yang lagi diminati, itu yang terus dieksploitasi. Tapi, memang harus diakui membuat film yang sesuai tren itu bisa menarik uang untuk si produsernya sendiri. Kebetulan saat ini film religi ternyata terbukti bisa untuk menarik itu, mungkin nanti bakal berganti lagi trennya. Bikin film sesuai tren demi mendapatkan keuntungan sah-sah aja, tapi sekali-sekali harus juga dong kasih unjuk idealisme sebagai seorang filmmaker. Nah, tantangannya bermain di film religi, dalam kasus gue serial TV karena gue belum pernah main di film religi, gue kan main di 'Hanya Tuhan yang Tahu' di Trans TV, diproduksi untuk ditayangkan khusus selama bulan Ramadan, yang gue suka ceritanya. Gue seorang santri yang baru lulus dari pesantren yang merasa ilmu agamanya udah tinggi banget lalu disuruh dakwah di kampung maling, ternyata realitanya itu terbalik, justru dialah yang belajar dari maling-maling itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dakwah itu nggak harus teriak keras-keras pakai sound system yang bising, dan ketika ada orang yang nggak Salat Jumat misalnya, nggak perlu diceramahin dengan berapi-api kemudian mendiskreditkan orang tersebut. Menurut gue cara berdakwah itu nggak harus begitu walaupun gue nggak terlalu paham soal agama, tapi gue yakin ada cara yang lebih halus untuk melakukannya. Ketika gue ambil karakter di 'Hanya Tuhanlah yang Tahu', itu karena karakter ini berani untuk ngomongin itu. Nggak semua orang yang pakai sorban, yang pakai peci itu adalah orang yang paling benar. Pesan-pesan inilah yang membuat gue mau mengambil peran itu, karena kebetulan skripnya itu udah ada duluan sebelum syuting, makanya gue mau bergabung di serial itu. Dan, yang menarik lagi adalah sutradaranya itu non-muslim! Gue diskusi sama dia, kami tukar pikiran bersama-sama.

Kamu kan jadi Associate Produser di film 'Tabula Rasa', apa yang membuatmu tertarik berada di belakang layar?

Ketika gue udah lama bekerja di depan layar, banyak PH yang nawarin gue untuk bikin omnibus. Gue disodori cerita untuk gue direct sendiri. Cuma, gue melihatnya sebagai, ini lo minta gue nge-direct film karena lo mau jualan nama gue atau lo percaya kemampuan gue? Kenapa gue berpikiran begitu, karena suka nggak suka ada beberapa omnibus yang digarap oleh beberapa orang, nilai poinnya bukan di ceritanya tapi siapa yang membuatnya. Gue bilang sama orang yang menawari gue untuk nge-direct omnibus itu bahwa kemampuan gue belum seberapa. Bukannya gue nggak mau tapi gue merasa masih harus banyak belajar lagi. Akhirnya gue ketemu Lala (Sheila Timothy), diskusi bareng-bareng, tercetuslah bahwa dia punya mimpi ingin membuat film kuliner. Kita tuh suka makan, akuin deh, tapi kita nggak pernah benar-benar tahu kan makanan itu bisa sampai ke meja seperti apa. Kami ingin membuat film 'Tabula Rasa' di antaranya karena salah satunya dokumentasi soal kuliner Indonesia itu sangat sedikit, sementara makanan Indonesia itu udah jadi nomor satu versi CNN, dan di Lonely Planet aja Indonesia jadi nomor satu juga sebagai tujuan wisata. Kami nggak pengen kecolongan seperti acara ngaben di Bali itu yang memiliki dokumentasinya yang secara proper dibuat itu milik CNN, jadi orang Indonesia sendiri hampir nggak punya film tentang ngaben yang benar-benar dibuat secara bagus. Nah, jangan sampai kita kecolongan seperti itu lagi, akhirnya kami ngangkat kuliner Indonesia.

Namun, kami nggak pengen bikin jadi sesuatu yang berat, nggak pengen juga ngajarin cara masak, bukan itu, tapi kami mau nunjukkin filosofi di dalamnya. Adri dan Tumpal punya treatment yang menurut gue bagus untuk menyampaikan itu ke penonton. Gue pada mulanya nggak berniat untuk jadi Associate Producer. Lala sempat bilang, "Bantuin gue ya!" Ketika dia bilang gue jadi Associate Producer, gue sempat nggak berani menyandang kredit itu. Lala lalu ngirimin gue buku tentang Associate Producer itu apa, tentang produksi dan lain-lain, akhirnya gue baca-baca dan gue ngerti. Sebenarnya Associate Producer itu tugasnya ngerjain apa pun yang ditugasin oleh produser, misalnya ketika gue ditugasin untuk nanganin marketing ya itu yang gue kerjain, ketika gue diminta membantu kreatif gue juga bantu, nah itu yang buat gue pada awalnya ragu apa gue mampu mengerjakannya, namun setelah terjun langsung ternyata gue bisa.

Pelajaran apa yang kamu dapatkan sebagai seorang Associate Producer ini?

Bekerja di belakang layar untuk 'Tabula Rasa' gue jadi tahu misalnya cara memilih pemain. Ketika banyak pemain yang baik, yang mana nih yang kami pilih, itu ternyata nggak mudah. Bagaimana mengemas suatu film jadi satu paket jualan yang bagus, itu gue belajar banyak di sini. Gue juga baru menyadari bahwa membuat sebuah premis film untuk meyakinkan investor agar mau join itu ternyata nggak gampang, dan ternyata pekerjaan di belakang layar ini lebih menyita waktu gue dibanding menjadi aktor.

Di 'Tabula Rasa' ditonjolkan masakan gulai kepala kakap. Apa masakan favoritmu?

Mpek-mpek. Nyokap gue itu orang Manado tapi dia pinter bikin masakan Padang, itu sebetulnya gambaran kecil yang bikin gue pengen bergabung di film ini. Nyokap gue itu kalau Lebaran dia selalu bikin gulai kambing, dia selalu inget gue suka gulai kambing, sampai kapan pun ketika daging kambing lagi mahal dia tetap berusaha untuk bikin. Ini film tribut buat nyokap gue dan semua nyokap di dunia. Cukup emosionallah film ini.

Kamu sudah bekerja dengan banyak sutradara, pengalaman apa saja yang kamu dapatkan dari mereka?

Banyak ilmu yang gue dapat dari mereka. Mereka kan punya gaya dan karakter masing-masing dalam menyutradarai film, ada sutradara yang seneng banget nunjukkin berakting itu harus seperti apa, ada sutradara yang ngebebasin pemain, ada juga yang mendikte pemainnya. Ada juga sutradara yang nggak ada di tempat ketika gue lagi diambil gambar, itu beneran ada, dan gue sampai protes tuh. Tapi, bagaimana pun tipe sutradara yang memakai gue untuk jadi pemainnya, gue bertanggung jawab penuh dengan kerjaan gue. Ketika ada sutradara baru gue selalu nanya, udah nonton film gue apa belum, apa dia punya kritikan buat gue, karena gue butuh banget kritik itu agar gue nggak mengulangi kesalahan gue sebelumnya. Itu di antaranya pelajaran yang gue dapat dari mereka.

Siapa yang paling berjasa membantumu dalam membangun kariermu sebagai aktor?

Pasti semua orang yang ada di karier gue ikut andil. Tapi, kalau ada orang yang mau gue berikan terima kasih itu pasti untuk orangtua gue sih. Gini, film itu nggak selalu bergantung pada siapa produsernya, nggak selalu bergantung pada siapa sutradaranya atau siapa pemainnya. Gue pernah baca sebuah buku tentang directing, ketika kita mau membuat film, kita harus memilih aktor yang tepat, karena aktor itulah yang merepresentasikan apa yang ada di benak si sutradara. Ketika melihat sebuah film, kita mungkin sudah nggak bisa lagi menyebut film itu bagus karena si sutradaranya hebat, tapi kita juga harus menyebut yang lainnya seperti kameraman dan lain-lain yang terlibat dan mereka juga berbicara lewat film itu. Sutradara memang berjasa, namun ketika ada seorang editor yang bisa membuat akting gue jadi terlihat lebih bagus gue juga harus berterima kasih, dan yang paling penting lagi adalah lawan main gue. Gue belajar sama Mas Didi Petet, beliau bilang kalau kita mau main baik kita harus membuat lawan main kita jauh lebih bagus dari kita sendiri. Itulah orang-orang yang membantu gue, ada sutradra, produser, lawan main gue, dan terutama penggemar gue.

Ada cerita seru seputar perjalananmu sebagai aktor sejauh ini?

Pernah ada satu kejadian lucu tuh waktu syuting film 'Mika', lokasi syutingnya di seputaran rel kereta. Kru film nggak dapat izin dari pihak kereta api untuk syuting di sana, dan lokasi itu adalah tongkrongannya preman-preman. Tadinya pas mau syuting kru udah pada mau diusir dari lokasi, lalu gue datang ke lokasi, gue ketemu preman-preman di sana dan kemudian preman-preman itu bilang, "Ini si Jarot (nama karakter yang diperankan Vino di film laga 'Serigala Terakhir' -red) nih, wah mesti kita amanin nih mereka syuting di sini!" Kata mereka, "Abang boleh syuting di sini, Bang." Akhirnya kami dijagain, dan memang efek film itu ternyata "bahaya" ya, ketika gue main sebagai karakter apa pun itu ada kemungkinan karakter gue itu akan diserap begitu saja oleh orang-orang yang intelejensianya kurang.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads