'The Equalizer': Kembalinya Karisma Denzel Washington

'The Equalizer': Kembalinya Karisma Denzel Washington

- detikHot
Jumat, 26 Sep 2014 16:40 WIB
The Equalizer: Kembalinya Karisma Denzel Washington
Jakarta - Ketika sutradara sekelas Antoine Fuqua kembali berkolaborasi dengan Denzel Washington yang membuat 'Training Day' menjadi film paling cadas sedunia, kita semua harus menurut dan siap untuk bergembira. 'The Equalizer' adalah reuni mereka sejak awal milenium. Sayangnya, film ini jauh sekali jika dibandingkan dengan kisah Alonzo Harris. Tapi, bukan berarti tak layak ditonton.

Bekerja di toko serbaguna, Robert (Denzel Washington) secara sekilas terlihat seperti pria paruh baya pada umumnya. Dia disiplin, enak untuk diajak berteman dan asyik untuk diajak nongkrong. OCD-nya terhadap benda-benda di sekitarnya serta kesulitannya tidur di malam hari hanyalah puncak dari gunung es. Hobinya nongkrong di diner dekat apartemennya di malam hari dengan buku sebagai temannya adalah alasan kenapa Robert cukup dekat dengan Teri (Chloe G. Moretz dengan suara serak), seorang pelacur muda dengan beban derita yang tinggi. Singkat cerita, Teri dihajar oleh mucikarinya. Robert yang akhirnya menemukan obat kesepiannya pada Teri, tidak terima. Dia pun balas dendam.

Robert ternyata lebih dari sekedar pria paruh baya yang bekerja di toko serbaguna. Robert mempunyai kemampuan bertarung yang bahkan akan membuat Tom Cruise merinding. Dan, saat itulah Teddy (Marton Csokas) datang untuk membuat hidupnya lebih menarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

'The Equalizer' merupakan adaptasi serial televisi era 80-an yang ditayangkan di CBS. Proyek ini sempat malang-melintang dengan nama-nama seperti Nicolas Winding Refn tercatat sebagai sutradaranya. Begitu Refn mundur dan Washington tercatat sebagai pemainnya, Antoine Fuqua masuk. Kolaborasi Fuqua dengan Washington memang menjadi daya tarik tersendiri. Keduanya mampu menghasilkan sesuatu yang mendebarkan bahkan jika blueprint alias skripnya tidak begitu menawan, seperti kasus 'The Equalizer' ini.

Penulis skenario Richard Wenk memberikan set-up yang lumayan lama. Tapi, itu bisa dimaafkan karena Chloe Moretz memberikan penampilan yang membuat kita menjadi ingat kenapa gadis ini pernah menjadi sosok yang kita idam-idamkan. Begitu Denzel Washington mulai marah dan menekan jam tangannya, 'The Equalizer' menjadi tontonan mendebarkan.

Sayangnya keseruan itu tidak berlangsung lama. Wenk bingung mau membawa 'The Equalizer' menjadi film action seperti apa. Penjahat dari film ini tidak memiliki alasan yang terlalu jelas untuk mengejar Robert. Mereka bisnis perempuan sekaligus pengedar narkoba sekaligus money laundry? Agak membingungkan. Teri pun juga porsinya langsung hilang begitu nasibnya mulai memburuk. Padahal relationship Teri dan Robert adalah salah satu bagian menyenangkan dalam film ini.

Keseruan sebuah film seperti ini --pensiunan agen rahasia yang ternyata masih mempunyai kemampuan menggila-- akan terasa jika kita dihadapkan pada penjahat yang benar-benar keren dan bisa menandingi sang tokoh utama. 'The Equalizer' tidak punya satu pun penjahat yang bisa menandingi keperkasaan Robert McCall. Semua penjahat, dari polisi korup sampai gembong mafia Rusia kelas kakap, berakhir dengan tragis. Ending-nya yang sengaja dibuat untuk membuka jalan sekuel-sekuel berikutnya juga tidak membantu.

Bagian serunya adalah Fuqua membuat 'The Equalizer' sebagai action thriller khusus dewasa. Kata-kata kotor dan adegan kekerasan yang begitu grafis ditampilkan dengan kasual di sini. Fuqua juga tahu bahwa filmnya hanyalah sebuah tontonan yang tidak begitu serius. Itulah sebabnya secara visual kita disajikan adegan-adegan lebay, seperti Denzel Washington membunuhi penjahat di tengah guyuran air dalam bentuk slow-motion. Mirip video klip penyanyi-penyanyi zaman sekarang, hanya saja lebih banyak darah.
Β 
Denzel Washington sendiri tentu saja menyita perhatian dengan karismanya yang tak terkira. Sebagai Robert, ia begitu terlihat bad-ass dan kalem pada saat yang bersamaan. Chemistry-nya dengan Chloe juga begitu terasa walaupun kebersamaan mereka hanya sebentar.

'The Equalizer' mungkin tidak akan mengobati rindu Anda pada 'Training Day' karena kedua film tersebut seperti dua kutub yang berbeda. Namun, jika Anda mau menerima lubang-lubang yang ada dan bersedia bersenang-senang, film ini sesungguhnya adalah action thriller yang cukup menghibur. Dan, memang sudah lama kita tidak melihat Denzel Washington menggebuki polisi dengan tangan kosong.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

(mmu/mmu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads