Pada bagian ketiga atau terakhir wawancara pengamat perfilman Indonesia Shandy Gasella ini, Lola Amaria blak-blakan mengenai suka-dukanya menjadi sutradara, dengan maupun tanpa embel-embel perempuan. Ia mengakui, banyak dukungan yang diterimanya selama terjun ke industri film. Tapi, bersamaan dengan itu, ada juga faktor-faktor "luar" yang masih dirasa menghambat. Ia menyebut soal monopoli bioskop dan minimnya, untuk tak mengatakan nihilnya, dukungan dari pemerintah. Berikut perbincangannya lebih jauh:
Apa pelajaran terpenting yang pernah kamu dapatkan yang memiliki pengaruh positif terhadap karyamu? Dan, bagaimana pelajaran itu terjadi?
Bekerja di dunia film, membuat sebuah film waktunya panjang, orangnya banyak, menjadi leader di antara sekian banyak kru dan pemain, keputusan harus diambil, suasana segenting apa pun tetap harus ada keputusan dan itu (tugas) director. Di situlah aku belajar untuk ambil keputusan dengan cepat dan tepat, belajar jadi pemimpin, belajar untuk tahu psikologi orang secara bersamaan. Misalnya si A, B, C, oh si A ini orangnya badtemper, kalau misalnya dia salah, penanganannya harus begini nggak bisa begitu, si B ini agak gampang diajak ngomong jadi kalau salah diomongin baik-baik, si C beda lagi, bayangkan dalam suasana syuting film sekian bulan dengan sekian ratus orang dan harus menghadapi itu semua. Apalagi waktu kemarin di Jogja (syuting 'Negeri Tanpa Telinga') kami kena efek letusan Gunung Kelud, apa kami sebaiknya balik ke Jakarta, apakah kami break, apakah kami tetap syuting, semua resikonya ada. Balik ke Jakarta nggak mungkin karena pesawat nggak beroperasi, kereta juga nggak beroperasi, jadwal kami pasti berantakan. Yang kedua kalau kami break, kami kehilangan banyak uang, kami mengumpulkan orang di sini, kami bayar hotel, bayar mobil, bayar semua tapi kami nggak ngapa-ngapain. Yang terakhir kita tetap syuting, tapi di dalam ruangan. Sekarang siapa pemain yang ada, mana lokasi yang siap, kita syuting, itu yang paling memungkinkan dan semua berantakan. Harusnya Lukman (Sardi) datang, ini nggak bisa karena pesawat nggak berangkat, kereta penuh. Harusnya Tanta (Ginting) pulang, Jenny (Zhang) datang, itu nggak bisa juga. Jadi kami cari siapa yang available, lokasi mana yang ada dan nggak mungkin juga di luar karena kamera bila kena partikel debu bisa rusak, kami harus ganti nanti, akhirnya yang aman-aman aja. Sehari dapat satu-dua scene nggak apa-apa yang penting dapat, artinya kami nggak break nggak jelas juga. Yang kedua, ini hujan, kami ada set di luar, hujan empat jam nggak berhenti, kami harus ngambil gambar, ini gimana, mau tetap nungguin hujan, siang diganti malam, atau kami pindah ke dalam, itu kan harus cepat, director gitu. Risikonya pasti ada, misalnya jadi telatkah, jadi pulang lebih malam, atau jadi lebih capek, ya itu ujian-ujian kayak begitu kan nggak pernah berhenti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paling nggak draft 1, belum ketahuan sih udah siap syuting atau nggak, tapi paling nggak draft 1 itu udah ketahuan budgetnya, berapa hari syuting, berapa pemain, artinya dengan menghitung budget di draft 1 aku udah bisa presentasi, bisa kebayang dengan panduan draft 1, kami bisa persiapan tiga bulan, syuting sebulan, uangnya sekian. Namun untuk menuju draft 1 juga kan nggak sebentar.
Film lebih dari sekedar bentu seni pop lainnya, ia kompromi di antara seni dan komersialisasi. Bagaimana karyamu terbentuk oleh ada-tidak-adanya uang? Apakah kamu berkarya dengan pembatasan budget dalam benakmu?
Aku ambil contoh misalnya 'Negeri Tanpa Telinga' atau 'Minggu Pagi di Victoria Park'. Secara cerita itu based on true events, jadi ketika harus dikompromikan, bagian yang mana? Karena kita tidak bisa membohongi realitas misalnya mengurangi jumlah, angka, dan lain-lain itu nggak bisa. Nah, kalau ada tekanan, itu dari pihak siapa? Pihak yang tidak ingin dimunculkan karena merasa tersindir atau tercoreng gara-gara film ini, atau tekanan dari investor yang takut kalau kenapa-kenapa, itu sering terjadi. Kita harus punya win-win solution supaya berimbang. Misalnya begini, tekanan itu hanya ketakutan pada saat film belum dibuat. Kita kan nggak tahu reaksinya nanti kayak gimana. Ketika film itu telah dibuat baru nanti boleh kita discuss lagi. Film itu budget orientation atau ide orientation, jadi melihat standar pembuatan film secara jumlah rupiah di Indonesia itu make sense nggak? Aku punya ide sampai 50 miliar, tapi kan sampai bego juga nggak bakal dapat, jadi lebih baik yang normal-normal aja. Oke, mungkin di bawah 10 miliar tapi harus bagus dan keren pasti masih bisa. Tapi kalau untuk ide oriented kepengennya sih pakai ekstra seribu orang, pakai helikopter, tapi nggak mungkin, jadi lebih ke idenya, gimana lebih bisa ditekan misalnya okelah tiga miliar bisalah ini, pemainnya sedikit, setting sedikit, tapi ceritanya kuat. Kalau bisa sih syuting di Planet Mars juga hayuk aja, tapi kan sakit hati sendiri ketika banyak tekanan itu tadi, mau sampai kapan nunggu investor dengan nominal syuting segitu? Kalau 'The Raid' udah jelas mereka distribusi sampai ke luar negeri, artinya 50 miliar pun udah nggak takut. Tapi, itu bisa ditiru jadi contoh yang baik untuk distribusinya, marketingnya kita nggak mampu kayak gitu, kayak Gareth Evans kan network-nya udah ke mana-mana. Berharap sih kalau Gareth bisa jadi agen gitu buat film Indonesia, bisa bawa film lain ke sana, ke studio mana gitu nggak cuma ke Sony, untuk film-film bagus yang bisa menolong teman-teman sineas di sini untuk bisa mendistribusikan filmnya keluar Indonesia.
Sekarang sudah ada asosiasi pekerja film di Indonesia, bisa ceritakan peranmu dan teman-teman di IFDC?
Sebenarnya sih aku gak pernah ikut meeting ya [tertawa], tapi ikut asosiasi itu tujuannya baik bahwa setiap profesi itu butuh wadah, misalnya ada masalah dengan produser, ada masalah dengan suatu instansi, kita itu harus gimana menyiasatinya. Masalah sensor, masalah kontrak, masalah peredaran film, kayak sekarang ini misalnya kita mesti gimana nih film keluar hari Kamis, tiba-tiba Senin udah nggak ada, sedangkan kami nggak bisa mengadu bahwa kami rugi. Bioskopnya cuma punya satu orang, dimonopoli, kami harus ikutin aturan mereka, kalau nggak susah juga, sementara kami bikin filmnya susah, bermiliar-miliar, mereka nggak ikut nanam modal, rugi sama-sama, untung mereka dapat juga, nah isu ini tuh gimana, sampai sekarang juga belum ada jawabannya. Itu masalah semua orang, masalah semua produser. Seperti misalnya aku dapat mention di Twitter, "Saya di Manado kenapa filmnya udah nggak ada ya? Mau nonton gimana caranya?" Terus aku harus jawab apa? Kan sedih, mau mention ke 21 juga dia bisa apa?
Peluang dan tantangan apa saja yang dihadapi perempuan dalam industri film?
Sebenarnya nggak ada perbedaan dengan laki-laki, sama aja, cuma mungkin jumlah perempuan yang terjun ke dunia film, apalagi di belakang layar sedikit. Kenapa kubilang sedikit, mungkin perempuan-perempuan yang sudah bersuami khawatir masalah jam kerja. Kan di Indonesia budayanya masih sulit ya untuk disamakan dengan luar negeri, kecuali perempuan yang single yang mengatur waktu sendiri. Apalagi dunia film kan selain jam kerjanya juga nggak jelas gitu, kadang pulang pagi, masuk kerja jam 2 siang, syuting dua bulan meninggalkan keluarga. Kalau di Hollywood sih bisa bawa enam anaknya kayak Angelina Jolie kan, asistennya segala macam bisa dibawa, kalau di sini bawa satu orang asisten aja, hah, bayar sendiri ya! [tertawa]. Perempuan seringkali dianggap, bukan lemah ya, bukan dianggap sebelah mata juga, kayak aku syuting aja, banyak laki-laki mendukung, mereka justru seneng ada perempuan yang terjun (ke industri film).
Bisnis film di negeri kita ini fair nggak?
Fair nggak fair dalam hal apa dulu nih, misalnya hasil pembagian tiketkah, kayak tadi soal monopoli itu nggak fair. Selain monopoli, menomorsatukan film asing juga nggak fair. Bisa lho empat studio muterin Spider-Man, satu studio sisanya muter film lain tapi dibagi dua juga jam tayangnya dengan film lain, itu kan nggak fair. Pemerintah juga nggak support, pajak film yang sudah didapatkan dari setahun lalu ke mana? Katanya harusnya sih dibagi rata untuk filmmker untuk bikin film lagi, tapi nggak pernah ada tuh. Bila di Amerika, pemerintahnya ngerti banget bahwa film itu jendela budaya, bahwa film itu propaganda, bahwa film itu penting buat negara mereka, tanpa sadar segala hal berbau Amerika itu ada di film, misalnya Captain America, dari judul aja kan berasa ya, Crazy Alabama, Living Las Vegas, New York I Love You, semua pakai nama kota atau tempat yang secara nggak langsung bikin kita jadi kepengen lihat dan pergi ke sana. Di Indonesia nggak ada studio macam di Hollywood yang kita mau bikin film seperti Titanic aja bisa dengan CGI, di sini kan nggak bisa. Sekarang kita mau syuting di bandara, (untuk tujuan internasional) harus Terminal 2, dan orang tahu di gambar (lain) ini mah Terminal 1, kan itu nipu! Tahu nggak betapa susahnya izin syuting di sana dan betapa mahalnya kalau dapat izin, dan dibatasin waktunya, itu kan nggak support sementara gimana film mau bagus kalau dari yang kecil-kecil aja nggak mendukung. Oke dapat izin, tapi kemudian belum (bayar) premannya, syuting di perkampungan, (bayar) polisinya, lurahnya, RT-nya, duit lagi. Itu gimana mau mendukung, kalau itu aja diporotin, itu nggak fair buat aku, mulai jajaran atas sampai bawah.
Kamu pernah menerima penghargaan best director di Jiffest untuk 'Minggu Pagi di Victoria Park', seberapa penting peranan festival film dalam pandanganmu?
Penting buat yang punya kepentingan. Dulu waktu awal-awal aku sering dengar Mas Garin dapat penghargaan di festival film di luar negeri, beberapa sineas menang di mana-mana, kupikir hebat banget ya bisa sampai ke sana, gimana caranya. Tapi, begitu aku sendiri dapat penghargaan ya rasanya begitu aja, dulu kan seperti menggebu-gebu gimana rasanya ya punya film terus menang di festival, dilihat banyak orang, dikritisi banyak orang, tapi setelah mendapatkan itu semua ya biasa aja. Terus kayak menang di Jiffest, at least aku senang, bangga, tapi setelah itu ya sudah, aku harus berjuang lagi, bikin film lagi, nyari duit lagi, nyari ide lagi, bukan setelah menang terlena lalu berkoar-koar. Jadi soal festival, menang piala, award, hadiah, itu bisa membunuh kita bila kita nggak manage dengan benar, jadi sombong juga.
Gimana caramu menyikapi kritik?
Positif. Karena bila nggak ada kritik kita nggak akan bisa maju, ya kritik dari sumber yang benar, kritik yang dapat membangun, kritik yang memang bisa dipercaya, kritik itu datangnya dari mana, isinya apa, oke aku terima. Acuanku biasanya ada filmindonesia.or.id, Detikcom, ada juga Tempo, kritik mereka nggak ada yang sama, pendapatnya beda-beda, ya sudah aku juga sekedar baca aja, nggak ada yang eksak, nggak ada yang salah, nggak ada yang benar, itu kan opini. Tapi paling nggak sejelek apa pun filmnya, kita harus menghargai bahwa mereka udah kerja keras untuk bikin. Kritik negatif itu juga salah satu alasan mengapa film Indonesia nggak maju-maju, at least bahasanya diplomatis ya, walaupun jelek menurut dia, tapi jeleknya kenapa dan harus berimbang (ulasannya), harusnya begitu. Kita semua memaklumi bahwa yang namanya wartawan mewakili sebuah lembaga media besar, dia seperti punya hak untuk apa pun, mengambil keputusan atau menulis apa pun itu yang harus diperbaiki. Kita berlindung di sebuah lembaga besar dan kita harus menjaga lembaga itu dan juga dari orang-orang yang membaca tulisan si wartawan tersebut. Dan memangg rata-rata orang Indonesia masih sulit untuk nerima kritik. Dan itu tahapannya juga berat untuk bisa sampai ke tahap "ya udah yang penting udah bikin..."
Kamu ada di tahap mana sekarang?
Dulu sih aku masih yang "hah kok ditulisnya begitu? kok dibilangnya begini..." Sakit hati sih enggak, tapi kaget. Kadang aku suka kesel, tapi sekarang sudah pada tahapan yang biasa aja. At the time di mana udah pasrah, ya sudah sih namanya juga sudah bikin, lo kan cuma nulis (ulasan), ya udah nggak apa-apa, aku udah sampai tahapan itu sekarang.
Bila ada satu dua hal yang dapat membuat industri film di sini jadi lebih baik, itu apa?
Wow, support dari semua pihak, pemerintah, dari lembaga sensor, beberapa lembaga yang berkaitan dengan film, dari pengusaha-pengusaha yang harusnya sadar bahwa film itu seperti di Amerika, bisa jadi jendela dunia, bisa jadi alat propaganda, dan bisa membawa film Indonesia lebih mudah diakses selain di dalam negeri dengan menambah jumlah bioskop yang tidak dimonopoli, pro film Indonsia, dan mereka memudahkamn kita untuk bisa berangkat ke luar negeri dengan membawa peralatan kita. Dukungan semua pihak, kalau cuma segelintir orang dan lembga sih masih kurang.
(mmu/mmu)











































