Film akan berlatar Jakarta masa kini. Empat wanita muda bersahabat sangat dekat diprotes oleh pasangannya masing-masing karena berjualan busana muslim.
Yang jadi masalah bukan barang dagangannya, tetapi bisnis mereka yang ternyata berkembang dan melebihi kesuksesan para pasangan laki-lakinya. Para laki-laki ini perlahan-lahan merasa harga dirinya terkikis, apalagi mereka yang sudah menjadi kepala keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut sinopsis lengkap film 'Hijab' yang diterima detikHOT:
Awal kisah berangkat dari suatu hari ketika mereka dan para suami arisan. Salah satu suami nyeletuk bahwa peserta arisan sebenarnya hanya para suami, karena semua istri ujung-ujungnya pakai uang suami juga. Mendengar ini, ada panas tertentu yang timbul dari dalam hati para wanita untuk melakukan pembuktian. Mereka adalah Bia, Sari, Tata, dan Anin.
Bia, tokoh utama kita, menawarkan suaminya yang pemain sinetron untuk bangun usaha, karena jadi selebriti belum tentu panjang karirnya. Suaminya mengaku tidak bakat usaha, maka Bia bawa niatan usaha ini pada teman-temannya. Setelah diskusi tanpa arah, Bia coba usir kebosanan dengan membuat coret-coretan di gadgetnya. Keisengan ini jadi serius ketika teman-teman Bia mengakui desain busana muslim yang dibuatnya memang bagus.
Setelah tes pasar dan desain Bia diakui akan laku keras, mereka sepakat berdagang tanpa sepengetahuan para suami. Kucing-kucingan pun terjadi.
Sari, teman Bia yang suaminya keturunan Arab, paling susah berkelit. Suaminya tidak membolehkan Sari bekerja, dan segala bentuk monitoring kegiatan istri dilakukan. Mau tak mau, administrasi dan proses jual beli harus dilakukan Sari dini hari, di rumah, setelah memastikan suaminya tidur. Yang jadi masalah, Sari itu gagap teknologi.
Tata punya anak satu. Suaminya sibuk bekerja sebagai fotografer tetap di majalah ternama. Karena terlalu konsentrasi berdagang dan bersembunyi dari suami, Tata suka lupa perannya sebagai ibu. Anaknya seringkali dititipkan sehingga kurang dapat perhatian.
Anin yang paling lega karena belum menikah. Ia hanya dekat dengan seorang sutradara film pendek dan video klip. Tekanan pada Anin memang bukan dari pasangan, tapi dari orangtuanya yang selalu bertanya βkapan kawin?β Bisnis busana muslim justru semakin menjauhkan dirinya dari niatan menikah.
Kesuksesan para istri ternyata tidak sejalan dengan kesuksesan para suami. Sementara Bia dan kawan-kawan semakin maju, karir para suami diuji. Suami Bia, misalnya, mendadak putus kontrak karena PH langganannya dibeli oleh stasiun TV pesaing. Karena tak ada sinetron lagi yang bisa dibintanginya, dan tak ada layar lebar yang menerima kualitasnya, ia turun jauh sampai peran pocong pun diambil. Suami Tata juga kehilangan klien utamanya sehingga ia harus kerja serabutan. Suami Sari yang bekerja sebagai PNS di pajak memang tidak ada masalah, tapi gajinya yang rendah sudah jadi masalah.
Para suami heran dengan kondisi kuangan rumah mereka. Harusnya ada perampingan pengeluaran atau penundaan pembayaran tagihan, tapi ternyata malah lancar jaya. Ini tentu karena usaha istri. Sadar bahwa bisnis mereka tak bisa lagi ditutupi, para istri berniat memberitahu para suami pada saat peresmian butik. Kecuali Sari. Bisa digorok dia sama suaminya.
Tapi kucing-kucingan pasti ada selesainya. Bahkan suami Sari pun pada akhirnya tahu pada saat peresmian butik itu. Ketika semua suami tahu bahwa para istri berbisnis, mereka marah dan kecewa. Tapi kondisi keuangan suami yang kalah dari istri membuat mereka sukar mengutarakan perasaannya. Memarahi sulit, menyuruh berhenti bisnis juga susah. Melihat ini, para istri mencoba membantu karir para suami, tapi justru membuat mereka hilang harga diri. Suami Sari pun sempat terpikir untuk mengambil sedikit dari milyaran rupiah yang biasa ia hitung.
Puncak masalah adalah ketika para istri konsentrasi untuk ikut dalam Jakarta International Fashion Week, tapi anak Tata masuk rumah sakit karena kurang gizi. Kondisi dan komunikasi antar suami-istri semakin terpuruk, dan ini membuat Anin semakin mantap untuk tidak menikah saja, walaupun sudah dijodoh-jodohkan orang tuanya. Para istri sadar bahwa bisnis mereka sudah membawa mudarat lebih banyak dari manfaat, kepada suami, dan kepada diri mereka sendiri.
Akhirnya Bia memutuskan untuk menyudahi semuanya. Ketika mereka rapat untuk memutuskan menutup butik, suami Bia datang dan menyuruh mereka untuk lanjut. Suami Bia sadar ia sudah bersikap tidak realistis, dan akan membantu usaha istrinya. Bia tersentuh mendengar ini, ditambah lagi suami-suami yang lain juga datang dan memberi dukungan. Melihat keharmonisan rumah tangga teman-temannya, Anin memutuskan menikah dengan pria pilihannya, si sutradara film pendek yang dari awal memang sudah mencurahkan segala perhatian pada Anin.
(ich/ich)











































