Dirmawan Hatta bolehlah dibilang masih pendatang baru di kancah perfilman Indonesia sebagai seorang sutradara. Sejauh ini ia baru membuat tiga film layar lebar, yakni 'Optatissimus' (2013), 'Kau dan Aku Cinta Indonesia' (2014), dan 'Toilet Blues' (2013). Namun bila merunut ke belakang, menyoal kiprahnya sebagai pekerja film, Dirmawan Hatta juga bukan anak kemarin sore. Ia pernah menulis naskah untuk 'The Mirror Never Lies' arahan Kamila Andini yang banyak menuai pujian kritikus itu. Ia juga menulis naskah beberapa film lainnya, yakni 'May' (2008), 'King' (2009), dan 'Keumala' (2012).
Lalu pada 2013 ia memutuskan untuk menyutradarai, sambil tetap menulis naskah untuk film yang ia garap sendiri. Yang menarik, film pertama yang ia sutradarai, 'Toilet Blues', malah baru bisa dinikmati belakangan oleh penonton di bioskop setelah dua film yang ia buat kemudian, 'Optatissimus' dan 'Kau dan Aku Cinta Indonesia' sudah tayang duluan. 'Toilet Blues' malah lebih dulu malang melintang di beberapa ajang festival film internasional, di antara Festival Film Internasional Busan ke-18 yang digelar tahun lalu. Masyarakat Indonesia baru bisa menyaksikan 'Toilet Blues' di bioskop sejak 3 Juli 2014.
Wawancara ini terjadi pada satu petang yang cerah di Jakarta, di sela-sela kesibukan Dirmawan Hatta melakukan promosi film 'Toilet Blues' yang kini sedang diputar di bioskop-bioskop. Pengamat perfilman Indonesia, Shandy Gasella mencoba mengulik lebih detail proses kreatif dan gagasan-gagasan di balik film-film yang pernah ia buat. Dan, berikut tuturannya:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya mulai terlibat dalam mengerjakan produksi film secara profesial, artinya saya kerja dan dibayar dalam satu periode proyek yang jelas mulai tahun 2000. Pada saat itu saya mengerjakan riset untuk satu proyek bernama 'Pustaka Anak Nusantara', itu merupakan proyeknya SET Film Workshop dan Indofood. Beranjak dari sana kemudian keterusan, saya terus-menerus dapat job di antaranya melakukan riset, menulis, juga akhirnya syuting di lapangan. Sampai sekarang saya telah menulis skenario untuk layar lebar, dokumenter, hingga akhirnya saya menjadi sutradara.
Kini kamu mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk film?
Sekarang ini saya nggak punya pekerjaan lain selain membuat film.
Lebih sulit memulai atau meneruskan apa yang telah kamu capai? Dan, apa usaha-usaha kamu, bila ada, untuk menaklukkan isu tersebut?
Lebih sulit meneruskan. Karena ketika memulai (membuat film), bisa dibilang saya hampir tak memiliki target apa-apa. Okelah saya bekerja, syuting film itu menyenangkan, saya menyukai film dan kemudian saya bisa membuat satu dua film, tapi meneruskan untuk tetap konsisten membuat film itu susah banget. Menanggapi hal ini, saya percaya dengan potensi jejaring; bahwa apa yang saya pikirkan, apa yang hendak saya sampaikan dengan film, lewat satu dan lain cara harus saya temukan arus pemikiran yang sama, arus semangat yang sama baik dalam tim maupun iklim penciptaan. Saya perlu bertemu dengan sesama filmmaker, bertemu dengan kritikus, bertemu dengan produser yang punya gagasan yang sama. Menurut saya upaya ini perlu dilakukan, berjejaring dan membuka semangat-semangat kolegialitas itu seluas mungkin.
Apa pelajaran terpenting yang pernah kamu dapatkan yang memberi efek positif terhadap penciptaan karya filmmu? Bagaimana pelajaran itu terjadi?
Pengalaman saya bergaul dengan para pelaku kesenian adalah upaya saya untuk mempelajari medium kesenian itu sendiri, khusus dalam soal membuat film, saya menjadi tahu bagaimana cara-cara mengembangkan craftsmanship, hal-hal semacam itulah kira-kira. Namun perlu dicatat bahwa craftsmanship ini juga tidak akan berarti apa-apa ketika kita tidak mempunyai sesuatu hal yang ingin kita sampaikan, sebab jika kita tidak mempunyai ide yang hendak kita sampaikan kepada orang, itu buat apa? Itu bakal jadi akrobat, jadi semacam sirkus keahlian saja. Ya, sirkus oke-oke saja, tapi saya tidak ingin jadi seorang ahli akrobatik.
Kemudian yang terjadi adalah bahwa saya harus mempelajari setiap hal yang saya ingin sampaikan itu, setidak-tidaknya ketika saya ingin membuat film saya harus melakukan banyak riset, saya harus benar-benar tahu tentang tema yang hendak saya bicarakan, dan pada akhirnya saya menemukan hal-hal yang sebelumya saya tidak ketahui. Ketika kemudian saya membuat sebuah film maka itu adalah sebuah pembelajaran yang terus-menerus. Dan itu merupakan hal yang positif bagi saya. Membuat film menjadikan saya lebih tidak berapi-api terhadap banyak persoalan, meredakan kemarahan terhadap banyak hal, karena semakin saya kenal dengan tema-tema yang tadinya saya pikir bakal membuat saya marah akan sesuatu, ketika saya pelajari itu akhirnya menjadikan persoalan itu cair dengan sendirinya. Membuat film jadi semacam terapi terhadap diri saya sendiri.
Kamu seorang kolaborator (dalam menciptakan film), bagaimana mulanya kamu menemukan kru, dan bagaimana caramu membuat hubungan antarkru tetap terjaga dengan baik?
Bila ada yang menarik soal film, itu adalah bahwa ia merupakan buah karya dari kerja tim. Saya sering bekerja dengan kru yang berbeda-beda, meskipun pada dasarnya saya cenderung menggunakan kru yang sama dari satu produksi film ke produksi film yang lain, tapi hal ini bukanlah sebuah patokan bagi saya. Bila kita balik ke pertanyaan semula tentang apa yang positif dari berkesenian, maka itu adalah tentang belajar bersolidaritas, belajar bertenggang rasa, belajar bersama kerumunan dengan orang lain, itu sesuatu yang sulit dilakukan. Pada banyak proses syuting, memecahkan persoalan tersebut justru menyerap sekitar 60% energi kami. Bagaimana mengembangkan potensi kru dan lain sebagainya merupakan porsi yang paling besar di luar persoalan-persoalan teknis.
Bagaimana lingkungan tempatmu berasal mempengaruhi proses kamu berkarya?
Saya kadang suka berpikir bahwa ada sejumlah pengalaman tidak sadar yang muncul ketika film itu selesai dibuat, pengalaman-pengalaman tak sadar yang terelaborasi jadi pesan-pesan kreatif. Nah, bila kita berbicara soal pengalaman-pengalaman tak sadar itu sesungguhnya kita bakal kembali lagi kepada bagaimana seseorang tumbuh, pertama kali mengenal dunia luar, misalnya ketika kemudian saya membuat 'Kau dan ACI', untuk menciptakan shot pembuka di film itu, saya membayangkan sebuah jalan diantara dua gunung dan di kedua sisinya sawah, itu sesuatu yang faktual buat saya yang kebetulan di lapisan masyarakat yang lain hal itu dibuat superlatif; kenapa orang Indonesia kemudian kurang lebih menggambarkan hal seperti itu yang seolah-olah kita tidak punya pemandangan dua gunung yang mengapit satu jalan di sebuah desa itu?
Pada akhirnya itu membawa saya pada sebuah hal yang lebih luas lagi tentang bagaimana saya membayangkan kebersamaan kita sebagai, sebutlah, masyarakat besar Indonesia. Pengalaman masa kecil saya dan bagaimana saya tumbuh di sebuah kampung, ketika saya dewasa, pengalaman-pengalaman itu akan berbenturan dengan kenyataan-kenyataan lain yang lebih besar, dan bagaimana saya membuat relasi dengan itu, bagaimana saya memaknainya, lalu mengolahnya dan mencoba untuk memberikan konteks bukan hanya semata-mata tentang kampung saya sendiri tapi juga pada persoalan yang lebih besar. Bila saya boleh beranalogi, ini seperti kumparan medan magnet kesadaran yang medan kesadarannya itu semakin lama semakin melebar.
(mmu/mmu)











































