"Syuting di Hong Kong lebih mahal daripada di Eropa," kata Ody membuka perbincangan.
Sebagai gambaran, untuk sebuah adegan di restauran mewah di kawasan Tsim Sha Tsui, tim produksi dikenakan biaya Rp 250 juta. Namun akhirnya Ody menyiasati dan bernegosiasi ulang untuk menekan bujet yang dikeluarkan demi adegan tersebut.
"Itu adegan Al sedang makan malam bersama ayahnya seorang pebisnis (diperankan Ray Sahetapy)," katanya.
Untuk memperkuat pernyataannya soal perbandingan biaya produksi di '99 Cahaya di Langit Eropa', Ody kemudian sedikit menceritakan soal bayaran pemain figuran lokal, meski tanpa merinci nominal. Di Eropa ketika syuting '99 Cahaya di Langit Eropa', Ody membayar pemain figuran dengan tarif perjam, dengan maksimal kerja 8 jam.
"Tarif di sini sedikit lebih mahal karena extras ada manajernya, dan mereka juga dapat bayaran. Lebih mahal syuting di Hong Kong daripada Eropa," ucapnya.
Tapi, produser Maxima Pictures itu merasa bahwa suasana kota Hong Kong sesuai dengan yang ia harapkan untuk kebutuhan visual. Di sana, ia bisa merekam kehidupan urban di tengah kota dengan atmosfer yang khas. Selain itu, film arahan sutradara Guntur Soeharjanto itu juga akan menampilkan lokasi yang menjadi ikon dari Hong Kong.
'Runaway' yang memulai syuting sejak 10 Mei lalu itu masih akan melakukan pengambilan gambar hingga satu minggu ke depan. Film ini juga dibintangi oleh Tatjana Saphira, Kimberly Ryder, Ray Sahetapy, Dewi Irawan, dan Edward Akbar.
(ich/mmu)











































