Salah satu perdebatan yang muncul dari film 'Soekarno' karya Hanung Bramantyo adalah soal penulisan nama Sang Proklamator tersebut. Film itu jelas-jelas menggunakan ejaan 'Soekarno'. Sementara, para sejarawan sepakat bahwa Si Bung Besar sejak awal menuliskan namanya sendiri dengan ejaan 'Sukarno'. Itu terjadi sebelum ejaan Bahasa Indonesia disempurnakan. Artinya Sukarno itu seorang yang visioner.
Bagaimana Hanung menanggapi perdebatan yang terkesan sepele, namun tetap saja tak bisa dianggap sebagai angin lalu itu? Hanung pun menunjuk grafis tulisan Soekarno di layar bioskop dan di poster.
Di film, huruf 'OE' diberi penekanan warna merah, sementara di poster satu warna putih. Ini tidak ada kaitannya dengan semangat merah-putih, semangat keberanian atau apapun. Tapi, saya ingin menunjukkan bahwa sejak awal Bung Karno menulis namanya itu dengan huruf 'U' untuk nama Sukarno. Bukan Soekarno,” jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diputar mulai Rabu (11/12/2013) kemarin, 'Soekarno' mendapat perhatian yang cukup besar dari publik pecinta film Indonesia. Film tersebut tergolong berdurasi sangat panjang, 2 jam lebih 17 menit. Menurut Hanung, edisi "asli" hasil editan film tersebut sebenarnya berdurasi 4 jam.
Akibat "pemendekan" untuk menyesuaikan dengan keperluan tontonan publik, Hanung harus menyeleksi secara ketat, adegan mana yang ditampilkan dan mana yang dipotong. Dari sinilah, daya pikat film ini diupayakan, agar dengan durasi yang sudah "dimampatkan" itu, penonton larut dalam alur cerita, dan tidak merasa bosan. Berhasilkah? Silakan buktikan sendiri.
Yang jelas, banyak bagian menarik dan menyentuh dari film yang mencakup rentang waktu panjang, dari Sukarno kecil hingga Proklamasi Kemerdekaan tersebut. Simak di bagian awal misalnya ketika Sukarno belia hendak mencium noni Belanda, tapi belum kesampaian maksudnya ia sudah dilempar sendal dan diteriaki bapaknya. "Katanya mau belajar malah pacaran," protes sang ayah dalam Bahasa Jawa.
Dari masa kecil yang ditampilkan sejenak, film melompat ke masa ketika Sukarno sudah menjadi orator ulung yang piawai memikat hati rakyat. Dari situ, film bergulir melompat-lompat dari zaman ke zaman, mengikuti perjalanan hidup Sukarno sebagai pemimpin rakyat Indonesia yang sedang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme Belanda.
Jika film sejarah adalah rekonstruksi, maka perlu dicatat bahwa Hanung berhasil menghadirkan kembali momen-momen dari masa lalu secara cukup mengesankan. Lihat misalnya adegan di bagian awal, ketika Sukarno diadili oleh pemerintah kolonial di Bandung. Dengan berapi-api dan penuh kharisma, Sukarno membacakan pembelaannya, yang kelak dikenal sebagai buku berjudul 'Indonesia Menggugat'. Adegan ini berhasil membangun emosi dan mood penonton untuk menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.
Namun, selain sebagai orator ulung, sisi-sisi 'lemah' Sukarno juga ditampilkan, seperti ketika berada dalam pengasingannya di Bengkulu, dan Jepang mendadak datang. Ia harus mengikuti berbagai kemauan Jepang sebagai bentuk kompromi perjuangannya. Ia harus menyediakan wanita-wanita pemuas nafsu bagi tentara Jepang. Hati nuraninya pun kembali terusik ketika ia diminta pura-pura ikut bekerja bersama rakyat demi mendukung propaganda romusha.
Adegan lain yang tak kalah menyentuh adalah ketika Sukarno tak bisa menahan cintanya kepada Fatmawati, sehingga membuat Ibu Inggit akhirnya minta cerai. Adegan perpisahan itu mungkin akan menguras airmata. Dan, kalau boleh sedikit bercanda, penonton barangkali akan terbelah: menjadi "tim Fatmawati" atau "tim Inggit". Puncak drama tersebut adalah ketika Inggit menolak untuk diantarkan Sukarno.
Adegan-adegan menjadi semakin menarik ketika Sukarno memasuki masa setelah dibebaskan dari pengasingan, dan dikirim ke Jakarta, bertemu dengan pemimpin-pemimpin lainnya seperti Hatta dan Sjahrir. Perdebatan mereka seputar persiapan kemerdekaan, dan bagaimana berstrategi menghadapi diplomasi Jepang menimbulkan letupan-letupan ketegangan tersendiri.
Salah satu yang perlu digarisbawahi adalah saat Hatta menyampaikan keraguannya kepada Sukarno, "Apakah kita nanti mampu memimpin negeri dengan 70 juta jiwa ini?" Di tengah rentetan pertanyaan Hatta yang tak habis-habis, Sukarno pun dengan tegas memotong, "Mampu!"
Sukarno pun meyakinkan Hatta, yang diakhiri dengan kata-kata yang sangat menyentuh, "Kalau kita ternyata bukan pemimpin yang baik, biarlah sejarah yang membersihkan nama kita." Pendek kata, sebagai film sejarah, 'Soekarno' tak hanya berkutat pada masa lalu, melainkan juga menawarkan refleksi untuk masa kini dan masa depan. Selamat menonton!
(/)










































