Hanung terpaksa membangun rumah itu karena ia tidak dapat menemukan rumah yang hampir sama dengan aslinya. Sejak awal produksi, ia memperhatikan betul detail dan tak ingin melenceng dari sejarah.
"Kita bangun keluar uang sekitar Rp 300 juta, lalu dibeli sama perusahaan restauran ayam goreng," ungkapnya saat gala premiere di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (9/12/2013) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain hambatan cuaca, kita banyak sekali gunakan lokasi-lokasi yang tempat biasa untuk syuting. (Akhirnya) Sekitar 40 persen syuting di situ. Kita bangun set," lanjutnya.
Setelah melakukan pengambilan gambar di Yogyakarta, Ambarawa, dan Semarang, Hanung juga membuat setting Surabaya di era 1920. Selain itu, ia juga menggunakan Kebun Raya Bogor untuk membuat setting Jakarta tahun 1940.
Untuk membangun setting lokasi agar sama dengan aslinya, tentunya biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit. Apalagi Hanung juga memakai ribuan orang sebagai figuran.
Kabarnya, biaya yang dikeluarkan oleh Multivision Plus Picture untuk memproduksi film tersebut mencapai Rp 20 miliar. Namun Raam Punjabi sebagai produser tak ingin menyebut jumlah pastinya.
(/)











































