'Sokola Rimba': Mengamati Anak Rimba Bersama Butet

'Sokola Rimba': Mengamati Anak Rimba Bersama Butet

Shandy Gasella - detikHot
Selasa, 26 Nov 2013 15:34 WIB
Sokola Rimba: Mengamati Anak Rimba Bersama Butet
Jakarta - Butet Manurung (Prisia Nasution, 'Sang Penari', 'Laura & Marsha') seorang aktivitis sebuah lembaga konservasi hutan, mengabdikan dirinya menjadi guru baca-tulis dan menghitung bagi anak-anak Rimba yang tinggal di hulu sungai Makekal di hutan Bukit Duabelas, Jambi. Hasrat mengajarnya makin menggebu tatkala ada seorang anak yang berasal dari wilayah hilir datang menemuinya untuk ikut belajar.

Bungo (Nyungsang Bungo) nama anak itu. Ia menempuh jarak yang sangat jauh demi menemui sang guru sambil membawa segulung kertas perjanjian yang telah dicap jempol oleh kepala adat, sebuah perjanjian yang memperkenankan penebangan pohon dilakukan di tanah adatnya. Bungo ingin bisa membaca isi perjanjian tersebut.

Sutradara Riri Riza ('Gie','Laskar Pelangi') tak mau berlama-lama mengantarkan tokoh utama kita memulai misinya. Di menit pertama film ini bermula, kita melihat Butet membelah jalan hutan menuju orang-orang rimba itu berada. Dan, pada menit berikutnya ia sudah begitu akrab, melebur dengan suku orang rimba, lewat satu kedipan mata, kita pun kemudian menyaksikan Butet menulis alfabet di papan kecil, dan anak-anak pun belajar dengan ceria.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sini kita tahu bahwa Riri tak ingin sekedar bercerita soal kegiatan mengajar/belajar anak-anak rimba saja. Riri ingin bercerita atau berusaha membuka mata kita akan hal-hal lain lewat film ini. Maka, begitulah ia memulai ceritanya, langsung ke pokok permasalahan, tanpa establishment yang berarti. Bakcstory atau alasan-alasan penggerak tokoh utama kita melakukan misinya disampaikan lewat narasi sang tokoh utama sendiri, sangat tangkas.

Dan benar saja, seiring durasi film bergulir, kita pun lambat laun teralihkan kepada permasalahan-permasalahan lain seperti cerita tentang atasan Butet di LSM tempatnya bekerja yang menentang tindakannya, para penebang pohon liar, penolakan kepala suku adat yang meyakini bahwa tindakan Butet dapat membawa malapetaka, sampai kepada cerita tentang transmigran Jawa yang bersedia rumahnya dijadikan tempat belajar.

Di tengah-tengah keasyikan kita mengamati Butet berinteraksi dengan anak-anak rimba yang menggemaskan itu, kita dikenalkan kepada Bahar (Rukman Rosadi, 'Soegija', 'Jokowi'), atasan Butet yang (demi keperluan dramatisasi cerita) sudah pasti antagonis. Bak penyedap dalam masakan, ia dibutuhkan agar masakan terasa lebih sedap, padahal di balik rasa sedap yang kita cicipi, ia racun yang merugikan.

Keberadaan Bahar memang membuat cerita jadi lebih dramatis, dan kita jadi lebih peduli dan lebih bersimpati lagi kepada Butet. Sayangnya, Riri hanya mampu memberi dimensi sempit kepada tokoh Bahar yang hanya bisa tampil garang dan teriak-teriak saja, setelah itu Bahar menghilang dan kontribusinya dalam konstelasi cerita jadi tak cukup jelas. Dan memang, seperti penyedap dalam masakan tadi, tokoh Bahar ini tak terlalu diperlukan (hadir) di cerita film ini. Kecuali, Riri bermaksud lain.

Hal yang hampir serupa terjadi pada penggambaran tokoh para penebang pohon liar. Jelas Riri menghadirkan mereka sebagai bentuk kritik dan protes akan tindakan mereka yang merusak alam. Namun lagi-lagi, seperti tokoh Bahar, para penebang pohon ini pun dihadirkan tidak dengan sepenuh hati. Sekedar ada agar penonton tahu, ini lho mereka yang suka menebang pohon itu. Dan itu memang sah-sah saja, toh Riri sedari mula memposisikan Butet dan kita yang duduk di kursi penonton hanya jadi penonton saja; seperti Butet, kita hanya ikut mengamati keadaan sekitar. Seperti Butet, kita ikut merasakan takut dan deg-degan saat Butet ketahuan melihat kebiadaban mereka menebangi pohon.

Tapi, bila dipikir-pikir kembali, kenapa pula para penebang pohon itu harus meneriaki Butet, sebab toh mereka sudah memiliki "izin" menebangi pohon yang dicap jempol para ketua adat, dan perangkat pemerintahan pun ikut merestui? Dan, lihat saja di adegan lain saat Butet kembali bertemu dengan para penebang pohon liar tadi, kejadian serupa tak terjadi lagi. Tak ada adegan kejar-kejaran lagi. Ah, rupanya lewat adegan kejar-kejaran itu Riri (lagi-lagi) hanya sekedar ingin memberi efek dramatis semata.

Mungkin Riri bukannya tak lihai menulis cerita. Bisa jadi masalahnya ada pada soal posisi Riri dalam hal ini; apakah ia tak punya cukup nyali untuk benar-benar bersuara lantang tentang bobroknya lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang katanya peduli lingkungan itu misalnya. Juga, tentang para penebang liar dan para perangkat pemerintahan yang ikut terlibat di dalamnya. Jangan lupakan pula kehadiran singkat tokoh Ibu Pariyan (Netta KD) seorang transmigran dari Jawa. Bila tak mau disebut tak cukup bernyali, Riri terkesan tak mau terus-terang dalam beropini bahwa keberadaan orang-orang Jawa, terlebih mereka yang membuka lahan perkebunan kelapa sawit, atau pun mereka yang membuka usaha lain, telah mengusik kelangsungan hidup orang-orang Rimba.

Pendidikan (ilmu pengetahuan), dalam hal ini "melek aksara", jadi jawaban dalam upaya menyelamatkan hidup orang-orang rimba di tengah-tengah tindakan jahat segelintir orang yang mengeksploitasi hutan tempat mereka tinggal. Sayang, kegiatan transfer ilmu pengetahuan yang diberikan Butet kepada anak-anak rimba itu tampil kurang meyakinkan, dan terlalu dibuat mudah. Di paruh akhir film segala resolusi dibuat gampangan dan terburu-buru. Saat hati kita dibuat terenyuh ketika melihat Bungo akhirnya dapat membaca pasal-pasal isi perjanjian yang ditawarkan para penebang pohon, kita tak peduli lagi apakah Bungo mengerti segala isinya hanya dengan membaca?

'Sokola Rimba' memang lumayan asik diikuti. Siapa pula yang tak jatuh hati melihat Butet yang diperankan dengan amat mencuri hati oleh Prisia Nasution? Namun, bila boleh beranalogi, film ini hadir bak ayam goreng cepat saji yang terkenal itu; enak namun tak cukup bergizi.

Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia

(mmu/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads