Ender Wiggins (Asa Butterfield), bocah berusia 16 tahun, anak terakhir dari tiga bersaudara, adalah kelinci imut yang sanggup menggigit. Tubuhnya jangkung dan kurus, kelihatan seperti anak yang tidak berbahaya. Tapi, cobalah untuk mengeroyoknya, mungkin Anda akan berakhir di rumah sakit.
Kemampuan untuk nampak low-profile namun memiliki kekuatan besar di balik tatapannya yang dingin serta kepintarannya untuk mengatur strategi perang akhirnya membuat Ender direkrut oleh Colonel Graff (Harrison Ford).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seiring dengan waktu Ender beradaptasi dengan lingkungan, melawan otoritas dan terus mengasah kemampuannya untuk menjadi petarung terhebat. Pertanyaan terbesarnya: apakah Ender benar-benar sanggup melawan alien yang pernah memporak-porandakan Bumi lima puluh tahun yang lalu?
Ditulis dan disutradarai oleh Gavin Hood ('Tsotsi', 'X-Men Origins: Wolverine'), 'Ender's Game' adalah salah satu adaptasi young adult yang sangat berpeluang untuk menjadi franchise raksasa seperti 'Hunger Games' tapi tidak berhasil mengeksplor potensinya. Salah satu alasan utamanya adalah karena 'Ender's Game' tidak melibatkan penonton secara emosi.
Berbeda dengan kasus 'Harry Potter' atau bahkan 'Hunger Games', penonton dari awal diajak untuk bersimpati kepada situasi yang dihadapi karakter utamanya. Dalam 'Harry Potter', adalah kenyataan bahwa Harry seorang anak yatim-piatu, dibesarkan oleh keluarganya yang tidak menyenangkan dan bahwa dirinya adalah seorang penyihir di dunia tempat pembunuh orang tuanya suatu saat akan bangkit dan akan mencoba membunuhnya.
Dalam 'Hunger Games', kita melihat seorang gadis yang berjuang untuk menafkahi keluarganya di dunia di mana mencari makan sangat susah, tingkat kematian karena kelaparan sangat tinggi dan keputusannya untuk menggantikan adiknya mengikuti sebuah permainan maut yang merupakan propaganda pemerintah. 'Ender's Game' tidak bersedia untuk memberikan sedikit waktunya mengajak penonton menyelami latar belakang tersebut. Gavin Hood menjelaskannya secara singkat dalam film, tapi kita tidak pernah diajak benar-benar melihat dampak serangan alien di bagian awal.
Keburu-buruan Gavin Hood untuk langsung mengajak penonton mengikuti petualangan Ender Wiggins pada masa pelatihan membuat kita menjadi kurang simpati dengan apapun yang dia lakukan. Ini hal yang disayangkan karena Gavin Hood sudah berhasil membuat visual yang mendebarkan dengan adegan-adegan aksi yang cukup memukau.
Asa Butterfield, setelah menjadi 'Hugo' dalam film buatan Martin Scorsese beberapa tahun lalu, kali ini tampil cukup kharismatik sebagai Ender Wiggins. Butterfield sanggup bertransformasi dengan mudah sebagai sosok Ender yang tangguh sampai yang paling rapuh sekalipun. Harrison Ford juga memberikan penampilan yang memikat, hal yang cukup jarang dia tunjukkan akhir-akhir ini.
Penampilan Hailee Steinfeld juga menyenangkan walaupun perannya tidak sebegitu mencuri perhatian. Steinfeld sanggup memaksimalkan aktingnya walaupun karaternya kurang digali lebih jauh. Hal yang sama juga terjadi dengan Viola Davis yang harusnya bisa lebih dieksplorasi.
Dengan musik menggetarkan dari Steve Jablonsky, 'Ender's Game' sudah berhasil menjadi film young adult yang tidak murahan. Tapi, dibutuhkan hal yang lebih daripada itu untuk membuat Ender Wiggins setara dengan Harry Potter atau Katniss Everdeen. Kadang kala, menjadi seseorang yang penuh drama bukanlah hal yang salah-salah amat.
Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.
(mmu/mmu)











































