Setiap orang sah-sah saja untuk berkarya, membuat apa pun, tak terkecuali membuat film dan mempertunjukkannya ke khalayak ramai. Di era ketika media digital makin berkembang dan lekat di kehidupan kita sehari-hari, menjadi seniman bukanlah angan-angan tinggi yang mustahil untuk dilakoni. Berbekal segenggam ponsel pintar berkamera resolusi tinggi, dan beragam aplikasi movie-making yang dapat diunduh secara gratis, maka syut, edit, dan sebuah film pun tercipta!
Saat ini, membuat film memang telah menjadi impian setiap hidung. Dan, film berjudul '23:59 Sebelum..." ini merupakan perwujudan dari hasrat sejuta umat tersebut.
Film ini bolehlah dibilang sebuah film eksperimen; dibuat dan dibintangi oleh para anggota Underdog Kick Ass, sebuah gerakan yang dimotori oleh sutradara Rudy Soedjarwo dimana setiap anggotanya bisa bermain atau membuat film. Dengan catatan setiap anggota membayar Rp 5 juta untuk keanggotaan seumur hidup, dan film '23:59 Sebelum...' ini adalah hasil pertama gerakan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada kisah tentang kakak-beradik yang terlibat percakapan di sebuah metromini yang mereka tumpangi. Sang adik meminta izin kepada kakaknya untuk ikut audisi. Si kakak alih-alih mendukung malah memberi nasihat dan seolah menakut-nakuti adiknya. "Emang kamu bisa? Kamu kan nggak cantik, hidung kamu nggak mancung. Nanti kamu malah ditipu, dimintain duit lho.," kata si kakak. Sang adik pun (camera close up) seketika menitikkan air mata.
Lalu kisah beralih ke sepasang kakak-beradik yang lain. Kakak yang satu ini memarahi adiknya yang doyan main dan dianggapnya tak bertanggung jawab. Si kakak membiaya sekolah adiknya. Si adik tak terima, terjadi cekcok, dan keduanya berakhir menangis penuh emosi.
Masih banyak kisah lain dari puluhan karakter lainnya di film ini. Beberapa tokoh di dalamnya memang ada yang memiliki hubungan dengan tokoh lain yang juga memiliki kisahnya masing-masing, sisanya tak jelas juntrungannya.
Dan, bila Anda masih penasaran dengan kisah lengkapnya, sinopsis resmi dari film ini bolehlah disimak terlebih dahulu.
Kisah 48 tokoh saat memasuki periode 23 jam 59 menit sebelum menemui kejadian penting dalam hidup mereka. Kematian juga merupakan bagian dari kejadian penting beberapa tokoh di film ini. Seorang pria yang masa hidupnya penuh dengan perbuatan keji dimotori oleh rasa benci, memasuki masa 23 jam 59 menit sebelum menemui ajalnya, memasuki masa-masa lalu hidupnya, bertemu dengan sosok yang membawa misi akhir. Kematian bukan hanya kejadian yang terlihat di film ini. Bahkan banyak hal yang sangat berarti, tanpa kita sadari terjadi setelah melalui ruang waktu 23 jam 59 menit. Termasuk dua manusia yang ditemukan tanpa rencana, saling mengisi ruang waktu 23 jam 59 menit sebelum...
Tak cukup membantu? Ternyata, film ini justru jauh lebih memusingkan daripada sinopsisnya. Sutradara Syahril Ismanto, Erry Petrucci yang sekaligus terlibat di belakang kamera, dan (lagi-lagi) Underdog Kick Ass yang tak mau kehilangan kredit, seolah tersesat dalam arahan.
Kisah kakak-beradik di dalam metromini seolah mengolok-olok diri sendiri. Cerita yang tadinya dimaksudkan untuk memberi peringatan akan keberadaan para pencari bakat yang suka memungut iuran jadi lucu ketika kita tahu bahwa seluruh pemain di film ini pun membayar iuran.
Adapun kisah seorang gadis remaja yang curhat di depan kamera, ia memperagakan aktingnya untuk menangis namun setelah berusaha keras rupanya tetap tak kunjung berhasil menitikkan air mata. Di penghujung curhatnya ia merasa gagal berakting karena belum bisa menangis.
Film berdurasi 114 menit ini hanyalah parade tangisan dari unjuk kebolehan para anggota Underdog Kick Ass. Di balik keterbatasan mereka secara fisik yang tak rupawan bak para bintang film pada umumnya, mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun bisa berakting. Ya, menangis.
Film ditutup dengan kredit yang menampilkan puluhan nama akun Twitter para pemainnya. Tak ada keterangan si Anu berperan sebagai siapa. Mungkin dengan begitu mereka masih berharap, bila tak tenar di ranah hiburan, setidaknya masih ada harapan bagi mereka untuk tenar di ranah media sosial.
Shandy Gasella pengamat perfilman Indonesia











































