Karakter Rangga di '99 Cahaya di Langit Eropa' Alami Pengembangan dari Novel

Karakter Rangga di '99 Cahaya di Langit Eropa' Alami Pengembangan dari Novel

Adhie Ichsan - detikHot
Senin, 07 Okt 2013 17:35 WIB
Karakter Rangga di 99 Cahaya di Langit Eropa Alami Pengembangan dari Novel
Guntur tengah mengarahkan figuran (Adhie Ichsan/detikHOT)
Jakarta -

Karakter Rangga yang diperankan Abimana Aryasatya dalam film '99 Cahaya di Langit Eropa', mengalami pengembangan dari novel aslinya. Bagaimana sutradara Guntur Soeharjanto merajut plot cerita dan sejauh mana penambahan-penambahan itu diterapkan melalui karakter di film?

Cuaca sedang tak bersahabat di Wina, akhir September lalu. Suhu menunjukkan angka 11 derajat celcius, dengan angin yang menusuk tulang, dan hujan yang tak mau berhenti sejak siang.

Namun, puluhan kru, pemain dan tim produksi film '99 Cahaya di Langit Eropa' tetap semangat menjalani syuting. Untungnya, pengambilan gambar dilakukan di dalam kafe tertua di Wina yang berada di kawasan Karlsplatz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikHOT berkesempatan mengunjungi langsung lokasi syuting di Wina atas undangan dari Maxima Pictures selaku rumah produksi. Di sela-sela syuting, detikHOT juga sempat ngobrol dengan sutradara Guntur Soeharjanto.

"Kafe ini dulunya stasiun U-Bahn yang kemudian dialihfungsikan. Kita ambil adegan yang bersangkutan dengan asal muasal Croissant (yang berkaitan dengan kekalahan dinasti Ottoman Turki di Wina)," ucapnya sambil menyeruput teh hangat.




Untuk adegan itu, ia mengerahkan ekstras bule sekitar 10 orang. Sebelum hujan turun, untungnya Guntur sudah mengambil gambar adegan di luar ruangan.

"Kita juga ambil adegan perkenalan pertama Fatma dan Hanum, yang dia nawarin cokelat. Setelah itu ambil adegan pecahan-pecahan scene pendek," lanjut Guntur yang mengenakan jaket tebal serta topi berlidah pendek.

Mengenai karakter Rangga yang mendapat pengembangan, Guntur mengatakan bahwa ia ingin memberikan gambaran visual seperti apa karakter Rangga sebenarnya. Menurutnya, karakter tersebut tak terlalu dieksplorasi dalam novel.

Sebagai mahasiswa yang sedang melanjutkan studi di Eropa, Rangga akan banyak digali dari sisi kehidupannya di kampus. Bagaimana ia berinteraksi, dan masuk dalam situasi ketika ada perbedaan pandangan mengenai agama dari teman-temannya, dan masalah yang dialami muslim minoritas lainnya seperti kesulitan beribadah.

"Akhirnya dibikinlah pendalaman cerita dari beberapa detail di novel, di mana dia berkolaborasi, mempunyai sebuah cerita dan emosi pada Stefan dan Khan, sampai akhirnya paralel plot itu menjadi hal yang besar," jelasnya.


Karena cerita film bertumpu pada perjalanan spiritual Hanum (Acha Septriasa) sebagai muslim di Eropa, Guntur, tim penulis dan produser sepakat bahwa film itu harus lebih dari sekadar perjalanan.

"Harus ada karakter yang kuat, plotnya, dramanya. Akhirnya kita buat drama religi di dalam perjalanan spiritual ini. Nanti akan flowing by characters," tambahnya.

Selama syuting, Guntur bisa mengerjakan 8 hingga 10 adegan tiap hari. Jika cuaca sedang bagus dan syuting lancar, ia bisa melakukan tambahan shoot dari pecahan adegan.

"Di Kahlenberg itu yang jadwal paling longgar, satu hari cuma empat scene. Ke sana repot, tapi agak paling longgar selama syuting," tuturnya seraya tersenyum.



(ich/kmb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads