Yang Bertahan, Dan Yang Mogok Tengah Jalan

Geliat Bisnis Bioskop Privat (3)

Yang Bertahan, Dan Yang Mogok Tengah Jalan

- detikHot
Jumat, 26 Jul 2013 12:30 WIB
Yang Bertahan, Dan Yang Mogok Tengah Jalan
Eric Sasono dalam sebuah diskusi film.
Jakarta - Sebelum 2010 lalu, bisnis bioskop privat sempat menjamur di Jakarta dan sekitarnya. Namun kini tinggal sebagian yang masih bertahan. Yang ikut kolaps misalnya Flickers di Jalam Bangka, Kemang, Jakarta Selatan.

"Tapi sejak dua atau tiga tahun lalu sudah tutup," kata Senior konsultan Ke’Kun Cafe, Kemang yang juga membawahi Flickers, Andi Sopian kepada detikHot Senin lalu (22/7/2013).

Ada dua masalah jadi alasan penutupan, yakni soal segmentasi dan sasaran peminat. β€œTadinya memang banyak anak muda yang sewa bioskop mini dan makan di restoran kami tapi kita mau naikkan ke menengah atas.”

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alhasil manajemen Ke’Kun Cafe Kemang menutup Flickers. Padahal fasilitas bioskop pribadi yang dibangun sejak 2002 itu, menyediakan ruangan berkapasitas delapan orang, sofa bed, layar besar dengan home theater. Biaya untuk menyewa ruangan dan film pun hanya sekitar Rp 99 ribu termasuk gratis soft drink.

Hal yang sama juga dialami oleh Mini Indies DVD Movie yang terletak di Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan berdekatan dengan Tebet Indraya Square (TIS). Sang pemilik Wim Prihanto memiliki koleksi film indie sekitar 700an film yang berasal dari 64 negara. Bahkan ia sampai memburunya ke luar negeri.

Sayangnya ketika detikHot mendatanginya lokasi tersebut sudah berganti menjadi pusat kebugaran. Resepsionis di tempat tersebut mengatakan Indies Movie sudah tutup sejak setahun lalu dan tidak tahu pindah ke mana.

Lantaran banyaknya bisnis bioskop mini yang kolaps, menurut pecinta film yang kini sedang kuliah di University of Nottingham, Inggris Eric Sasono bisnis ini akan semakin kurang menguntungan.

Pasalnya, pasar bisnisnya menjadi terbatas. Serta harus bersaing dengan banyaknya DVD bajakan dan fasilitas film yang bisa diunduh di internet maupun penyedia jasa tontonan berbayar seperti Youtube dan mubi.com.

β€œSaya rasa pebisnis di bidang ini adalah pecinta-pecinta film sejati yang gemar menonton film-film alternatif dan enggak sekedar suka nonton di bioskop utama,” katanya kepada detikHot melalui surat elektronik.




(utw/utw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads