"Tapi sejak dua atau tiga tahun lalu sudah tutup," kata Senior konsultan KeβKun Cafe, Kemang yang juga membawahi Flickers, Andi Sopian kepada detikHot Senin lalu (22/7/2013).
Ada dua masalah jadi alasan penutupan, yakni soal segmentasi dan sasaran peminat. βTadinya memang banyak anak muda yang sewa bioskop mini dan makan di restoran kami tapi kita mau naikkan ke menengah atas.β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang sama juga dialami oleh Mini Indies DVD Movie yang terletak di Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan berdekatan dengan Tebet Indraya Square (TIS). Sang pemilik Wim Prihanto memiliki koleksi film indie sekitar 700an film yang berasal dari 64 negara. Bahkan ia sampai memburunya ke luar negeri.
Sayangnya ketika detikHot mendatanginya lokasi tersebut sudah berganti menjadi pusat kebugaran. Resepsionis di tempat tersebut mengatakan Indies Movie sudah tutup sejak setahun lalu dan tidak tahu pindah ke mana.
Lantaran banyaknya bisnis bioskop mini yang kolaps, menurut pecinta film yang kini sedang kuliah di University of Nottingham, Inggris Eric Sasono bisnis ini akan semakin kurang menguntungan.
Pasalnya, pasar bisnisnya menjadi terbatas. Serta harus bersaing dengan banyaknya DVD bajakan dan fasilitas film yang bisa diunduh di internet maupun penyedia jasa tontonan berbayar seperti Youtube dan mubi.com.
βSaya rasa pebisnis di bidang ini adalah pecinta-pecinta film sejati yang gemar menonton film-film alternatif dan enggak sekedar suka nonton di bioskop utama,β katanya kepada detikHot melalui surat elektronik.
(utw/utw)











































