Maxi merupakan pemuda asli Wamena yang lahir pada 29 Januari 1992. Ia masih duduk di bangku SMA ketika film 'Cinta dari Wamena' menggelar casting di tempat asalnya.
"Masih kelas 1 SMA pas itu, ada tim casting yang datang ke sekolah. Kami terpilih di casting pertama untuk jadi pemeran utama," ucapnya saat ditemui di Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalaman dimarahi sutradara Lasja Susatyo juga pernah dialaminya. Tapi Maxi tidak patah arang.
"Satu bulan saya belajar skenario. Sempat grogi pas syuting, banyak dilihatin orang, tapi saya percaya diri saja, dan dengan bantuan doa akhirnya bisa lancar-lancar," ujar Maxi dengan logat kedaerahan yang kental.
Mengenai tema epidemi HIV yang diangkat ke film, Maxi bersyukur karena menurutnya masih banyak warga Papua, khususnya Wamena, yang belum paham betul mengenai penyakit tersebut meskipun Pemerintah Provinsi Wamena sudah melakukan penyuluhan-penyuluhan soal epidemi tersebut.
"Jadi lewat film ini sangat membantu memberikan pengetahuan kepada penduduk," kata aktor yang tengah mengenyam pendidikan di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura jurusan Teknik Sipil itu.
Selain dibintangi Maximus Itlay, 'Cinta dari Wamena' juga didukung oleh Benyamin Lagowan, dan Madonna Marrey.
(ich/mmu)











































