Hanung menuturkan, ketika proses produksi baru mulai lima hari di Yogyakarta, sudah banyak hambatan yang ia rasakan. "Pada saat hari pertama syuting gelap, cuaca buruk, dan scene tidak selesai. Itu bulan April kemarin," ucapnya ketika ditemui di Hotel Four Seasons beberapa waktu lalu.
Padahal, lanjut Hanung, sehari sebelum pengambilan gambar dimulai, cuaca sangat cerah dengan langit biru yang bersih. Stamina para pemain dan kru juga sudah siap. Mereka memulai produksi dengan optimis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya menolak, tapi harus," ucapnya dengan suara bergetar. Saat ditemui, Hanung juga masih dalam keadaan kurang sehat.
Ritual yang harus dijalankan sutradara berusia 37 tahun itu menurutnya tidak terlalu berat. Ia hanya diminta berdoa dan meditasi sambil membawa skenario film 'Soekarno.'
"Saya nggak tahu logikanya di mana. Jadi skenarionya dibawa seseorang (kuncen), besoknya cuaca terang," ucapnya.
Hanung menyadari bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih percaya dengan hal-hal seperti itu, dan menurutnya, Bung Karno juga dekat dengan kepercayaan tersebut. "Ini jadi pembelajaran buat saya," tambah sutradara yang meraih Piala Citra lewat film 'Brownies' itu.
Hanung merasa bahwa film 'Soekarno' merupakan produksi terberat sepanjang kariernya. Yang menjadi beban baginya sebagai sutradara, bukan soal harapan orang-orang akan film tersebut.
"Tapi ketika saya membuat film ini, tapi kemudian film ini tidak jadi apa-apa, itu yang akan membuat saya putus asa. Film ini tak boleh terlupakan begitu saja," katanya.
Sutradara yang sudah memproduksi lebih dari 25 judul film itu juga memiliki kekhawatiran apabila nanti filmnya tidak selesai. "Saya takut film ini tidak selesai. Tiap hari, tiap jam, entah ada peristiwa apa. Dan hal memalukan yang terjadi untuk saya ketika mengerjakan sesuatu tidak selesai, itu yang paling saya takutkan," tandasnya.
(ich/mmu)











































