Ayu memainkan peran Fitri, perempuan muda yang sejak lahir tidak bisa melihat. Fitri jatuh cinta pada sosok dokter khayalan yang ia kirimi surat berisi hal-hal intim dan kehidupan personalnya.
Sampai suatu hari, sosok yang diidam-idamkannya itu muncul tanpa sepatah kata. Ternyata ia adalah seorang pria tuli bernama Edo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agar peran yang dimainkannya lebih meyakinkan, Ayu melakukan observasi ke Sekolah Luar Biasa di bilangan Jakarta. Ia sempat menangis ketika berbicara langsung dengan siswa-siswa di sana.
"Yang berpengaruh besar buat saya ketika ke sana, saya baca tulisan 'Jangan kasihani kami," ucap Ayu sambil menambahkan bahwa tulisan tersebut membuatnya terdiam serta berpikir.
Sebagai latihan sebelum memulai adegan, Ayu mencoba berjalan dengan menutup matanya sambil dipandu pelatih akting. Ia juga mengikuti kelas sepanjang hari dengan 'mematikan' indera pengelihatannya.
Ayu mengaku tak terlalu mengalami kesulitan, kecuali saat adegan merias diri. "Saya adegan gunakan bedak, jadi saya belajar gimana mereka menggunakan bedak," ucap aktris berusia 23 tahun itu.
Sementara mengenai adegan ciumannya bersama Nicholas Saputra, Ayu memandangnya bukan sebagai tantangan, tetapi memang bagian dari film yang tak perlu diperdebatkan atau dibuat kontroversi. Sebelumnya, ia juga sudah mengetahui ketika membaca skenario dan membicarakan mengenai hal tersebut kepada orang terdekatnya.
"Saya nggak mau terlalu naif. Itu bagian dari cerita dan film ini fokusnya bukan ke situ," tegasnya.
Aktris yang juga baru meluncurkan album 'Morning Sugar' itu merasa bangga bisa terlibat dalam produksi film yang berskala internasional. Respons penonton saat di Sundance Film Festival juga melebihi harapannya.
"Kalau orang Amerika nggak suka sama filmnya, mereka langsung keluar dari teater, tapi orang sana nggak ada yang keluar sampai filmnya habis," pungkasnya antusias.
(ich/nu2)











































