Perempuan-perempuan Perkasa di Balik Layar Perak

Perempuan-perempuan Perkasa di Balik Layar Perak

- detikHot
Senin, 22 Apr 2013 11:36 WIB
Perempuan-perempuan Perkasa di Balik Layar Perak
Jakarta - Lewat jepretannya, fotografer Annie Leibovitz pernah menciptakan citra klasik seorang sutradara film di tempat kerja. Seorang pria di padang pasir memimpin sebuah produksi film, bermandikan sinar matahari terik, bersama kru model perempuan dengan pakaian seksi. Gambaran maskulin terlihat nyata dalam foto tersebut.

Industri film identik dengan suasana kerja lapangan dengan jam kerja yang panjang dan memakan tenaga, maka tidak heran jika didominasi oleh pria. Tetapi, gambaran itu kini telah jadi cerita lalu. Cerita barunya: perempuan-perempuan perkasa terjun ke dunia tersebut sebagai sutradara sudah tak asing lagi. Siapa saja?

Mouly Surya

Pada 12 Desember 2008, Mouly meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2008 untuk kategori film, sutradara dan penulis skenario terbaik melalui film 'fiksi'. Pencapaian 3 Piala Citra untuk film, sutradara dan penulis terbaik ini merupakan hasil pertama dan langsung terbaik untuk Mouly Surya.

Sutradara kelahiran 10 September 1980 itu kembali menelurkan karyanya lewat 'Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta' (What They Don't Talk About When They Talk About Love). Film ini tayang perdana di Sundance Film Festival pada 19 Januari lalu, dan akan segera tayang di bioskop Tanah Air dalam waktu dekat ini.

Mira Lesmana

Mira Lesmana mungkin adalah salah satu filmmaker paling terkenal di industri film Tanah Air saat ini. Pada 1996 dia mendirikan Miles Productions, yang kemudian memproduksi beberapa film-film sukses seperti 'Ada Apa Dengan Cinta', 'Petualangan Sherina' serta 'Laskar Pelangi'.

Sammaria Simanjuntak

Setelah satu tahun bekerja sebagai arsitek, Sammaria menyadari bahwa membuat film adalah impian sesungguhnya. Sutradara kelahiran Bandung itu kemudian memutuskan untuk mengikuti jalan impiannya.

Pada 2009, Sammaria meluncurkan film panjang pertamanya yang berjudul "cin(T)a". Setahun berselang, ia menyutradarai filmd okumenter pertamanya yang berjudul "Lima Menit Lagi" (bagian dari antologi "Working Girls" yang dirilis di bioskop pada Juni 2011).

Sammaria memulai perusahan produksi filmnya yang dinamakan PT Kepompong Gendut pada 2011. "Demi Ucok" adalah produksi film pertama dari perusahaan ini.

Nia Dinata

Nia Dinata mengawali kariernya sebagai pembuat klip video dan film iklan. Pada awal 2000, Nia mendirikan perusahaan film independen Kalyana Shira Film. Ia lalu menjadi sutradara film Ca Bau Kan (2002) yang diangkat dari novel dengan judul sama karya novelis Remy Sylado. Setting cerita terjadi pada tahun 1930-an, menceritakan kisah tokoh pejuang berkebangsaan Tionghoa. Film ini mendapat berbagai penghargaan dari berbagai festival internasional.

Pada 2004, Nia menyutradarai 'Arisan!' yang cukup sukses secara penjualannya. Film ini mendapat banyak penghargaan, termasuk dari Festival Film Indonesia dan MTV Indonesia Movie Awards.

Karya berikutnya yang juga mendapat pujian dari kritik film adalah 'Berbagi Suami', film yang membahas mengenai poligami dalam tiga segmen serta melibatkan banyak pemain film/teater kawakan, seperti Ria Irawan, Jajang C. Noer, dan Tio Pakusadewo.

Upi

Kariernya di dunia perfilman Indonesia mulai dikenal setelah menjadi sutradara dalam film '30 Hari Mencari Cinta' pada tahun 2004 yang dibintangi Nirina Zubir, Maria Agnes, Revaldo, dan Dinna Olivia dengan di produksi oleh perusahaan Rexcinema Production dan komposernya Andi Rianto.

Upi merupakan salah satu dari sedikit sutradara wanita yang namanya menonjol di dunia perfilman Indonesia. Karya-karyanya yang lain adalah 'Realita, Cinta dan Rock'n Roll' (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), Radit dan Jani (2008), Serigala Terakhir (2009), Belenggu (2013)

Halaman 2 dari 6
(ich/ich)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads