Selain menggandeng aktor pemenang Golden Globe dan peraih nominasi Oscar sebagai salah satu bintang utamanya, Connor juga menampilkan Kellan Lutz yang sebelumnya tampil di Twilight Saga sebagai Emmet. Dua formula tersebut menjadi modal awal bagi Connor agar filmnya bisa menarik perhatian sekaligus menembus pasar internasional.
Tetapi, para aktor-aktor Indonesia yang tampil di film ini bukanlah sekadar tempelan. Ario Bayu --yang mendapat porsi paling besar dari aktor lokal lainnya-- dengan baik memerankan polisi muslim bernama Hashim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada juga Verdi Solaiman yang berperan sebagai mafia yang menjalankan roda bisnis mulai dari klub malam, narkoba, hingga penyedia jasa wanita pekerja seks untuk kalangan atas. Meskipun tampil hanya sebentar, namun karakter Verdi sanggup meninggalkan bekas di benak penonton.
Atiqah Hasiholan tampil sebagai putri keraton yang diculik Mickey, sementara Rio Dewanto berperan sebagai rekan kerja Hashim yang tegas. Mike Lucock memerankan karakter Achmad, muslim yang kehilangan arah sehingga menghalalkan segala cara untuk mewujudkan 'jihad'-nya.
Dari segala macam karakter yang ditampilkan, Connor dan produser Rob Allyn ingin menyuguhkan tontonan yang tak hanya adegan laga, tapi juga konflik kultural antara para karakter-karakternya.
"Film ini juga bercerita lebih dalam tentang konflik kultural antara Barat dan Timur. Ini sungguh sebuah film tentang budaya dan oleh karenanya kami ingin membuat film ini di Jawa, tanah yang sangat sarat dengan budaya," papar Rob.
Dalam film yang menyajikan unsur kultur di dalamnya, 'Java Heat' juga tak luput dari perdebatan. Ada beberapa adegan yang terkesan klise seperti tokoh Achmed (Mike Lucock) yang masuk ke klub malam dengan baju koko lengkap dengan peci. Bahkan orang-orang di sekitarnya tetap asyik berjoget tanpa menghiraukan keberadaannya.
Belum lagi adegan dengan latar sebuah tempat hiburan malam. Ada tokoh pria yang menawarkan jasa PSK hingga waria pada karakter Jake, namun ketika ditawari minuman beralkohol, ia menolak dengan alasan, 'Saya muslim'.
Namun terlepas dari itu semua, 'Java Heat' yang diproduksi dengan biaya US$ 15 juta itu mampu menghadirkan tontonan yang cukup menghibur dan menegangkan. Adegan aksinya seru, lengkap dengan tembak-menembak, tembakan roket, hingga tabrak-tabrakan mobil. Namun, porsinya memang kurang banyak untuk membuat 'Java Heat' dikategorikan sebagai film action.
Cerita yang digarap dan dikembangkan selama tiga tahun oleh Connor juga penuh konflik yang menarik dengan menyisipkan kejutan-kejutan di dalamnya. Yang jelas, film ini akan lebih seru jika Anda tonton di bioskop daripada mencari DVD bajakannya.
(ich/mmu)











































