Tahun 2012 Momentum Kegairahan Film Indonesia?

Tahun 2012 Momentum Kegairahan Film Indonesia?

Adhie Ichsan - detikHot
Senin, 07 Jan 2013 12:00 WIB
Tahun 2012 Momentum Kegairahan Film Indonesia?
Jakarta - Industri perfilman Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami pasang-surut dari segi penonton maupun kualitas. Tahun 2012 bisa dibilang merupakan titik cerah sekaligus momentum untuk kembali bangkit.

Awal tahun 2012, pemberitaan soal film 'The Raid' yang sukses mendunia di berbagai festival film internasional bak angin segar di tengah krisisnya kepercayaan penonton pada film Tanah Air. Sebelumnya, sepanjang 2011, film yang dinobatkan terlaris hanya membukukan 748.842 penonton lewat 'Surat Kecil untuk Tuhan'.

Statistik memang menjadi tolok ukur nyata dalam menilai kesuksesan film di Tanah Air. Tanpa dukungan penonton, tentunya industri kreatif tersebut tak akan bisa berjalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Utama Starvision Plus Chand Parwez Servia pernah memaparkan sedikit gambaran mengenai kendala yang dialaminya dan produser lain. Parwez yang memproduksi 'Get Married' itu merasa film nasional saat ini kurang mendapatkan kesempatan tayang yang cukup.

Apalagi saat ini kuantitas film nasional yang semakin banyak, dalam seminggu bisa dua film nasional yang rilis. Belum lagi persaingan dengan film-film Hollywood.

"Saya bisa bilang penonton kita turun 50 persen dari 2007 lalu. Kondisi yang memprihatinkan karena film kita nggak punya tempat," ucapnya dalam sebuah acara diskusi 'Seni Rupa dalam Film Era Digital' pada penghujung tahun lalu.

Namun, ia juga tak mau terlalu menyalahkan kondisi tersebut. "Menurut saya, industri kreatif adalah industri subjektif. Tidak bisa dipersalahkan, tapi patut untuk dibicarakan (mencari jalan keluar)," tambahnya.

Dengan pemberitaan yang bombastis, 'The Raid' cukup sukses setelah diputar di negeri sendiri pada Maret lalu. Film yang akan dibuat ulang Hollywood itu membukukan 1,8 juta penonton dan bertahan sebagai film terlaris 2012 sebelum dipatahkan '5 Cm' dan 'Habibie & Ainun' di penghujung tahun.

Jika dilihat dari segi cerita, kedua film drama tersebut memang bisa menjangkau penonton yang lebih luas.

Pengukuran kemajuan industri film Indonesia tahun lalu juga bisa dilihat dari sisi kreativitas para filmmaker lokal yang semakin berani menampilkan cerita yang makin variatif. Tak sekadar 'cinta-cintaan' atau 'hantu-hantuan' karena tuntutan pasar. Ada film-film omnibus yang menawarkan cerita-cerita berbeda, ada juga film Indonesia dengan dialog bahasa Inggris seperti 'Modus Anomali'.

Biaya produksi yang biasanya jadi kendala para filmmaker untuk menuangkan idenya, diakali dengan crowd funding seperti 'Atambua 39 Derajat Celcius' dan 'Demi Ucok'. Banyak juga sutradara-sutradara yang namanya mungkin jarang terdengar di media seperti Edwin, dan Yosep Anggi Noen yang membawa nama Indonesia ke kancah festival film besar.

'Post Card From the Zoo' karya Edwin, eksis di Festival Film Internasional Berlin ke-62, Tribeca dan Festival Film Asia. 'Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya' karya Anggi melenggang ke Festival Film Internasional Locarno ke-65 di Swiss, Rio de Janeiro (Brasil), Busan (Korea Selatan), Mumbai (India), Hongkong Asian Film Festival (China), Stockholm (Swedia), dan Rotterdam (Belanda).

Di Festival Film Asia yang ke-6, Donny Damara berhasil menjadi Aktor Terbaik mengalahkan Andy Lau dan Teddy Soeriaatmadja dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik lewat film 'Lovely Man'.

Dengan sederet berita positif tersebut tentunya bisa jadi angin segar bagi para filmmaker agar lebih semangat untuk berkarya, dan bagi penonton untuk kembali memberi dukungannya bagi film-film nasional yang berkualitas dengan datang ke bioskop.

(ich/mmu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads