"Ini bukan film berat. Ini adalah film pertobatan Garin, bikin film yang bisa dinikmati orang lain," ucap Djaduk Ferianto, produser sekaligus music director Soegija saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (26/4/2012).
Lewat 'Soegija', Garin membuat filmnya agar dapat dicerna lebih banyak pihak, mulai dari anak sekolah hingga usia lanjut. Namun, bukan berarti sutradara kelahiran 6 Juni 1961 itu menurunkan standar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat 'Soegija', Garin ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaan bangsa Indonesia dari kurun 1940 hingga 1949. Ia mengangkat tokoh uskup pribumi Gereja Katolik Indonesia, Soegija.
Garin menilai ketokohan Soegijapranata sangat penting. Tidak hanya bagi umat Katolik, melainkan bangsa Indonesia. Tokoh ini mempunyai peran siginifikan dalam masa-masa krisis, menjelang dan awal-awal kemerdekaan.
Dalam sejarahnya, Soegijapranata diketahui menulis untuk media luar negeri sebagai bentuk silent diplomacy terhadap penjajah. Ia juga memindahkan Keuskupan Semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk solidaritas atas kepindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, dan bernegosiasi dengan Jepang untuk gencatan senjata.
"Soegija ini kan tokoh sejarah, dan yang paling penting dalam film itu kebebasan tafsir. Film ini hiburan yang susastra," tambahnya.
Garin mengerjakan film tersebut selama 28 hari, namun persiapan produksinya mencapai satu tahun. Ia memakai banyak bintang baru, termasuk figuran yang mencapai 150-an orang satu hari.
Tokoh Soegija sendiri diperankan oleh Nirwan Dewanto, serta beberapa bintang dari negara lain seperti Nobuzuki yang berperan sebagai tentara Jepang Suzuki, Wouter Zweers (tentara Belanda), dan Olga Lydia sebagai penduduk etnis Tionghoa.
'Soegija' yang merupakan film termahal Garin (Rp 12 milyar) itu akan tayang di bioskop pada 7 Juni mendatang.
(ich/ich)











































