Upi sempat terdiam selama beberapa detik ketika diajukan pertanyaan tersebut. "Harusnya sih ada maknanya. Tapi saya kurang merasakan makna di Hari Film Nasional ini," ucapnya kepada detikHot, Jumat (30/3/2012).
Sutradara 'Radit dan Jani' itu merasa tak ada yang terlalu spesial. Apalagi melihat industri perfilman Indonesia yang sedang lesu selama beberapa tahun terakhir karena menurunnya animo masyarakat menonton film Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apapun itu, kalau ada yang punya niat yang baik bagi industri film saya senang mendengarnya," jawab perempuan yang baru saja memproduseri kompilasi horor 'Hi5teria' itu.
Upi berharap bisnis film dapat berkembang dengan pesat dan dianggap sebagai industri besar seperti di India dengan Bollywood-nya. Namun tentunya hal tersebut bisa terjadi seiring dengan perbaikan kualitas film dan jumlah bioskop yang merata di seluruh Indonesia.
"Sekarang bioskop jumlahnya juga masih kurang ya kalau melihat besarnya penduduk Indonesia. Ya mudah-mudahan juga bioskop nggak cuma didominasi satu pihak," harapnya.
Berbicara mengenai perbaikan kualitas film, menurut Upi harus dibarengi dengan dukungan penonton. Karena pada akhirnya para produser tak akan mau 'buang-buang duit' bikin film yang menurut orang-orang bagus, tapi tak laku di pasaran.
"Kondisinya film Indonsesia itu...banyak ide luar biasa dari filmmaker, bikin ide berbeda tapi masalahnya balik lagi, laku nggak? Sedangkan bikin film ecek-ecek malah laku," sesalnya.
Namun, beberapa bulan belakangan ini, harapan akan suguhan film Indonesia berkualitas (yang juga laris) kembali hadir. Banyak film Indonesia yang sudah membawa nama Indonesia di kancah internasional seperti 'The Raid', 'Kebun Binatang', dan 'Lovely Man'.
(ich/mmu)











































