"Kami meminta maaf atas kesalahan wawancara dari Dinda Hauw. Ini adalah kepolosan seorang anak membaca skenario bahwa presiden di sini (skenario) diartikan olehnya adalah Pak SBY. Kacamata dari Dinda Hauw presiden sekarang ya Presiden SBY," ujar Executive Produser Prima Media Sinema Tri Bayu Aribowo saat ditemui di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2012) malam.
Namun Tri akan tetap meminta izin kepada Presiden SBY karena memakai karakter orang nomor satu di Indonesia dalam filmnya. "Kami akan izin ke SBY mengenai karakter yang akan dipakai itu presiden. Tapi ini fiksi, bukan Presiden SBY," katanya lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Film kami ini mengangkat cerita seorang anak yang punya cita-cita yang sangat besar dan mulia, dia terinspirasi dengan pesan Jendral Sudirman yakni 'Kemerdekaan Sudah di Genggaman Jangan Dilepas Lagi'. Intinya anak ini ingin mempersatukan negeri ini. 'Pesan Sang Jendral' yang melekat pada sang anak ingin disampaikan ke Presiden," jelasnya.
Proses syutingnya sendiri akan berlangsung Maret mendatang. Meskipun sudah membantah keterlibatan SBY di film tersebut, namun Tri masih berharap.
"Kalau nantinya Pak Presiden bersedia ikut syuting kami akan berbangga hati," ujar Tri.
(wes/mmu)











































