Siapa Menjegal Film Indonesia?

Siapa Menjegal Film Indonesia?

- detikHot
Selasa, 20 Des 2011 23:21 WIB
Siapa Menjegal Film Indonesia?
Jakarta - Setiap acara diskusi publik tentang perfilman Indonesia biasanya akan "berkembang" menjadi curhat para pelaku di industri itu. Hal itu pulalah yang terjadi pada diskusi bertajuk 'Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia' yang berlangsung di Kampus Binus Internasional, Senayan, Jakarta, Selasa (20/12/2011).

Tajuk tersebut merupakan tema penelitian yang dilakukan selama 8 bulan oleh tim Rumah Film yang terdiri atas Eric Sasono, Ekky Imanjaya, Hikmat Darmawan dan Ifan Ardiansyah Ismail. Acara yang dipandu oleh Prima Rusdi itu memaparkan sekaligus mendiskusikan hasil penelitian mereka, yang dituangkan dalam buku setebal 354 halaman.

Menurut Eric Sasono, penelusuran sisi ekonomi-politik perfilman Indonesia mendapati ketegangan, persinggungan bahkan pertarungan berbagai kekuatan di luar film. "Di balik ribut-ribut kasus pajak impor yang menyebabkan film Hollywood tak bisa masuk tempo hari, terungkap keadaan publik yang sejak lama terjegal haknya untuk mendapatkan keragaman tontonan dalam film," Eric memaparkan latar belakangan penelitiannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain Eric Sasono, diskusi menampilkan Kemal Arsjad (produser film) dan Harjo Winoto (pakar hukum dan persaingan usaha). Lalu, siapa atau apa yang telah menjegal film Indonesia? Sehingga masyarakat tidak mendapatkan tontonan film yang beragam? Diskusi kemudian banyak mengarah ke kondisi yang lahir dari adanya dugaan monopoli jaringan bioskop oleh pihak tertentu.

Sebagai pendatang baru di industri film, Kemal Arsjad mengaku deg-degan ketika merilis '5 Elang' yang disusul dengan 'Sang Penari' dan 'Garuda di Dadaku 2'. "Ada satu hal yang mengagetkan saya bahwa tahun ini tidak ada film yang berhasil mengumpulkan satu juta penonton," ujarnya. Dan, kekhawatiran Kemal menjadi kenyataan ketika 'Sang Penari' yang begitu "hip" di Twitter ternyata penjualannya tak sesuai harapan.

"Problem yang bener-benar saya rasakan soal distribusi, kita sebagai filmmaker bener-bener nggak punya bargain terhadap bioskop. Nggak ada bioskop alternatif. Di retail banyak supermarket, minimarket, di film nggak ada itu," keluhnya.

Masalah distribusi memang menjadi topik utama penelitian Eric dan kawan-kawan, disamping dua isu besar lainnya, yakni produksi dan eksebisi. Ketiganya tentu saja saling mengkait, misalnya soal distribusi yang mempengaruhi eksebisi sebagai ujung tombak mata rantai industri film. Menurut Harjo, idustri film memang telah didikte oleh struktur ekonomi yang sudah terbentuk puluhan tahun.

Struktur yang mendikte tersebut, menurut Eric sebagai kritikus film, telah membuat filmmaker bermain aman, menggarap tema-tema yang itu-itu saja. Sebab, pasar tak memberi ruang pada inovasi. Ujung-ujungnya pasar jenuh. Jadilah lingkaran setan. Begitulah, seperti diceletukkan oleh Prima Rusdi sebagai moderator, bicara tentang film Indonesia, semua hal adalah masalah.



(mmu/ich)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads