"Aku pengumuman pemenangnya aja nggak ngikutin. Ya gimana ya, maaf saja aku kan punya kehidupan lain di luar urusan film," ujarnya. Dia duduk di Canteen Aksara Book Store Pasific Place. Di tengah keriuhan suasana launching koleksi Moleskine, ia masih menerima wawancara radio via telepon.
Nia memang tidak sedang sinis terhadap FFI. Orang sudah tahu posisinya. Dia memang berdiri di titik yang berlawanan dengan ajang penghargaan insan film Tanah Air itu. Dia menjadi bagian dari sejumlah filmmaker yang beberapa waktu lalu beramai-ramai mengembalikan Piala Citra sebagai bentuk protes terhadap undang-undang perfilman yang tak mendukung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nia tak menutup mata akan adanya usaha dari pihak FFI yang mengklaim telah berubah. Ia menghargai bila FFI terus digelar dari tahun ke tahun. Namun, selama peraturan pemerintah tentang perfilman masih tak memihak iklim berkarya yang kondusif, Nia akan terus memilih sikap oposisi.
Saat ini, Nia tengah sibuk promosi film terbarunya, 'Arisan 2' yang dirilis 1 Desember lalu. Ia turun sendiri ke lapangan, ikut timnya keliling kota, menyapa para penonton. Semua itu dilakukannya tanpa meninggalkan kesibukan mengurus suaminya yang merayakan Natal, dan pergi ke sekolah untuk menerima rapot anaknya.
Sutradara ikut jualan? "Bagi aku nggak masalah sih. Sebagai filmmaker aku ingin mengawal film karyaku. Sejak film pertamaku Ca Bau Kan aku ikut ke mana-mana promosiin. Lagi pula di Indonesia nggak ada distributor, jadi sutradara mesti ikut turun tangan. Dan sekarang kan ada Twitter dan social media lainnya, itu jadi lebih mudah," tuturnya.
(mmu/hkm)











































