Ifa Isfansyah: Perfilman Indonesia dalam Kondisi Sangat Menyedihkan

Ifa Isfansyah: Perfilman Indonesia dalam Kondisi Sangat Menyedihkan

- detikHot
Selasa, 13 Des 2011 16:17 WIB
Ifa Isfansyah: Perfilman Indonesia dalam Kondisi Sangat Menyedihkan
Jakarta - Film 'Sang Penari' sukses jadi film terbaik dan memboyong tiga piala untuk kategori lainnya dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2011. Namun ironisnya, saat diputar di bioskop awal November lalu, film tersebut sepi penonton.

Kenyataan tersebut memang memilukan dan jauh dari harapan. Soalnya, sebelumnya sang produser Shanty Harmany menargetkan 'Sang Penari' mampu meraih 1 juta penonton. Apalagi mengingat penggarapannya yang cukup lama dan tentunya dengan dana yang tak sedikit.

Menanggapi hal itu, sutradara 'Sang Penari' Ifa Isfansyah pun angkat bicara. "Sebenarnya kalau bicara itu, justru film kita memang sedang dalam kondisi yang paling menyedihkan,” ujarnya. β€œSekarang sangat menyedihkan sekali ketika orang nggak nonton film tapi bisa bilang, males ah, filmnya jelek," sambungnya.

Saat ini tak bisa dipungkiri, film horor yang dibalut sensualitas perempuan memang lebih laris. Buktinya, film 'Arwah Kuntilanak Duyung' atau yang sebelumnya, 'Arwah Goyang Karawang' (yang kemudian berganti judul jadi 'Arwah Goyang Jupe-Depe') jumlah penontonnya jauh lebih banyak ketimbang 'Sang Penari'.

"Ya selama ini penonton begitu karena kebanyakan filmnya begitu dan mereka sudah dalam zona yang nyaman menonton film kayak begitu. Makanya kita butuh film yang lebih bagus lagi," komentar Ifa.

Menurutnya, butuh proses yang panjang agar masyarakat bisa cerdas memilih tontonan yang berkualitas dan kemudian bisa mengangkat wajah perfilman Tanah Air. Lantas solusinya? "Ya pembuat film bikin film yang bagus. Yang penonton coba jadi penonton yang aktif, nggak cuma nunggu informasi. Cari informasi siapa yang buat, siapa pemainnya, ceritanya bagaimana, baru nonton," paparnya.

"Seharusnya penonton, pembuat film, pemerintah, kritikus, media dan sebagainya saling support, bantu-membantu dan kompak untuk menciptakan industri perfilman yang lebih baik. Sekarang sebenarnya Indonesia sedang butuh itu," tambahnya.

Pria berusia 32 tahun kelahiran Yogyakarta itu mengatakan, tak cukup satu film untuk bisa membuat perfilman Indonesia bangkit. "Menonton film itu budaya kok, dan budaya butuh proses yang panjang. Makanya harapan saya ada continuity. Ada film bagus terus, itu sudah cukup," tandasnya.


(bar/mmu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads